Tampilkan postingan dengan label blk. balai latihan kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blk. balai latihan kerja. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2020

BLK: Ujung Tombak Pelatihan Vokasional

 


Era kita saat ini telah mengalami kemajuan yang amat pesat dalam hal kemudahan mengakses informasi. Internet membuat informasi apapun menjadi lebih mudah didapatkan oleh siapa dan dimanapun berada. Dengan berbekal jaringan internet, dunia pendidikan pun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Berkat teknologi internet, pendidikan tatap muka dalam kelas saat ini juga dibarengi dengan fitur online alias dalam jaringan (daring). Hal inilah yang terjadi sekarang, bagaimana internet telah mengubah pola pendidikan di dunia lebih awal pada permulaan dekade 2020.

Tidak hanya pendidikan formal di sekolah saja yang mengalami dampak positif teknologi informasi tersebut, melainkan juga pelatihan kejuruan atau vokasional. Pelatihan vokasional yang biasanya identik dengan praktik secara langsung terhadap bidang pekerjaan tertentu, kini telah merambah ke format daring. Walaupun seharusnya beberapa pelatihan vokasional ini akan lebih optimal apabila langsung diajarkan secara tatap muka. Menurut Ralph C. Wenrich (1974), pelatihan vokasional pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ke dalam tiga aspek, yakni berpikir atau cognitive, berbuat atau psychomotor dan rasa atau affective, sesuai dengan kebutuhan kompetensi pada jenis serta jenjang pekerjaan.

Pelatihan vokasional daring ini bisa menjadi alternatif dan pelengkap training tatap muka. Terlebih ketika Indonesia tengah dilanda pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dan membatasi kegiatan berkerumun di kelas-kelas dan ruangan guna mengurangi angka penularan. Maka cara pelatihan vokasional daring ini dapat menjadi sumber pengetahuan yang utama bagi para pekerja ataupun pencari kerja yang ingin meningkatkan kompetensinya. Meskipun pada saat ini situasi sedang dilanda pandemi, masyarakat masih dapat mengakses pelatihan vokasional di manapun berada melalui koneksi internet.

Tahun 2020, isu tentang pelatihan kerja merupakan bahasan yang sering dibicarakan di masyarakat. Adanya fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pandemi COVID-19 dan pelatihan daring dari Kartu Prakerja merupakan isu ketenagakerjaan menyerap banyak perhatian. Selain itu, serikat buruh yang tergabung dalam Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) juga ingin pelatihan vokasional menjadi Program Strategis Nasional (PSN), supaya pemerintah daerah (Pemda) pro aktif mengadakan kegiatan tersebut.

Selain itu, infrastruktur pelatihan vokasional seperti Balai Latihan Kerja (BLK) yang sudah tua juga perlu direvitalisasi. Begitu pula kurikulum di dalamnya yang perlu lebih menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan industri. Selanjutnya, untuk 1.000 BLK Komunitas yang rencananya akan berdiri di tahun ini juga perlu dikawal pembangunannya. Hal ini dikarenakan rencana besar tersebut kini tentunya juga ikut terdampak oleh adanya pandemi COVID-19 yang semakin memburuk di tanah air. Melihat sulitnya operasionalisasi tatap muka BLK di saat pandemi, pelatihan vokasional daring adalah solusi terbaik untuk saat ini.

Semakin Variatif

Pelatihan vokasional daring cenderung lebih aman dari segi kesehatan saat pandemi ini. Walaupun dari segi signifikansi pelaksanaan pelatihan vokasional tidak sesempurna tatap muka di BLK, pelatihan daring punya keunggulan dari segi variasi materi dan kurikulum di dalamnya. Hampir seluruh jenis pekerjaan yang ada di masyarakat saat ini cenderung tersedia pendalaman materinya. Pekerjaan ‘zaman now’ yang sebelum era pra internet tidak ada, kini tersedia secara online. Walau tanpa praktikum kerja tatap muka yang interaktif, pelatihan vokasional daring memuat banyak materi pembelajaran yang beragam.

Namun pelatihan vokasional secara daring masih terdapat kelemahan, yaitu output pelatihan yang berupa kompetensi atau skill tentunya masih belum maksimal. Pelatihan vokasional daring sebagian besar masih memberikan materi yang sebagian besar bersifat teoretis. Padahal kita tahu, output dari pelatihan vokasional diharapkan menjadi sebuah kompetensi yang didapatkan dari 70% pratikum dan 30% pembelajaran teori.

Mungkin pelatihan semacam itu dapat berlangsung secara maksimal hanya di BLK saja. Ini merupakan kesempatan yang tepat bagi BLK untuk menyesuaikan diri terhadap situasi pandemi ini. BLK bisa mengembangkan pelatihan online lebih baik lagi dengan kursus yang beraneka ragam, sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk materi yang bersifat teoretis, pelatihan akan dilangsungkan secara online. Sedangkan materi yang lebih ke praktikum, pelatihan vokasional akan dilangsungkan secara terjadwal, bergilir dan mengikuti protokol kesehatan. Jadi, pelatihan di BLK yang tatap muka akan lebih fokus ke praktikum saja, untuk saat ini.

Optimalisasi BLK

Meskipun saat ini materi pelatihan vokasional di Indonesia dapat diakes dari berbagai sumber, namun kita perlu ketahui bahwa BLK yang sudah berdiri dan berpengalaman sejak tahun 1970, merupakan ujung tombak utamanya. Momentum era pelatihan vokasional daring ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mengembangkan optimalisasi BLK. Bila BLK mampu berbenah ke arah digitalisasi, berarti akan ada pembaharuan terdadap sarana dan infrastruktur peningkatan kompetensi di Indonesia.

Ditambah lagi, jumlah BLK yang ada juga bakal bertambah secara signifikan di berbagai daerah ini merupakan nilai tambah guna memaksimalkan fungsi BLK di masyarakat. Masyarakat akan lebih mudah mengakses pelatihan pada infrastruktur vokasional pemerintah tersebut. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini, masyarakat butuh pelatihan vokasional khususnya kemampuan untuk berwirausaha. Dengan adanya BLK Komunitas di masyarakat, diharapkan dapat membekali masyarakat supaya tetap bertahan secara perekonomian di masa pandemi.

Kewirausahaan merupakan solusi lain atas permasalahan PHK dan pengangguran di masyarakat saat ini. Di saat pandemi, peran BLK kini menjadi sangat vital. BLK berusaha mengakselerasi pengetahuan dan keterampilan masyarakat supaya tetap bertahan di masa sulit. Selain itu, BLK juga secara aktif memberikan bantuan langsung kepada tenaga kesehatan guna menyuplai Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker dan face shield. Kita tentunya perlu berterima kasih kepada BLK yang telah berinovasi dan berkontribusi besar dalam upaya melawan pandemi COVID-19. BLK yang kita tahu sebelumnya bergerak di ranah edukasi vokasional dan pelatihan kerja, kini memanfaatkan fungsinya sebagai lembaga yang melawan COVID-19. Seperti kita ketahui, BLK beserta alumninya tercatat telah banyak berkontribusi dalam penanganan COVID-19 ini melalui berbagai cara.

Selain itu, BLK Komunitas yang kini berdiri dalam jumlah ribuan juga turut memberdayakan komunitas keagamaan seperti pondok pesantren, serikat pekerja, serikat buruh dan komunitas kesenian. Kesempatan untuk link and match dengan industri yang ada di sekitar BLK Komunitas tentunya akan semakin terbuka lebih lebih luas. Dengan adanya BLK Komunitas, kebutuhan tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi akan lebih mudah diserap oleh dunia industri.

Melalui BLK, pemerintah tidak hanya meningkatkan kompetensi masyarakat dalam keterampilan dunia kerja dan wirausaha. Melainkan, BLK berperan besar dalam upaya pemulihan ekonomi nasional dalam kondisi yang hampir krisis seperti sekarang ini. Kontribusi lain juga datang dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan yang telah menginisiasi program pelatihan vokasional “Indonesia Bekerja” yang bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten dan tersertifikasi, khususnya bagi para pekerja yang mengalami PHK. Dalam hal ini, pelatihan dari BPJS Ketenagakerjaan tersebut dapat dilangsungkan di BLK milik pemerintah.

Kamis, 30 Juli 2020

Inisiatif Positif Rumah Siap Kerja

Wabah Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang melanda dunia saat ini telah berdampak besar terhadap berbagai sektor, terutama bisnis. Efeknya mulai dari beberapa perusahaan lokal maupun multinasional mengalami kebangkrutan, mengurangi jumlah produksi sampai melakukan pemutusan hubungan tenaga kerja (PHK) besar-besaran demi menghemat ongkos operasionalnya. Di Indonesia sendiri problem pengangguran akibat pandemi COVID-19 diperkirakan akan bertambah banyak di sepanjang tahun 2020-2021 ini.

Seperti yang telah dilaporkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) beberapa waktu silam menyebutkan bahwa jumlah pengangguran terbuka diprediksi akan meningkat 4 juta hingga 5,5 juta di tahun 2020. Buruknya, pengangguran tersebut akan kian meningkat sampai tahun 2021 dengan jumlah 10,7 juta hingga 12,7 juta orang. Sebuah angka yang bukan main-main.

Pemerintah pun bekerja keras untuk memulihkan kembali perekonomian nasional di situasi yang serba terbatas ini. Pemulihan perekonomian dan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), keduanya perlu berjalan secara bersamaan. Selain itu, pemerintah juga menggencarkan program untuk meningkatkan kompetensi masyarakat dan semangat kewirausahaan baik secara online maupun konvensional, sebagai strategi yang diharapkan mampu mengatasi persoalan ini. Semua strategi ini kini tengah berjalan dan sekaligus dievaluasi.

Selain itu, tidak hanya sektor bisnis saja yang terdampak akibat pandemi COVID-19, akan tetap juga ranah pendidikan. Seperti kita ketahui bahwa saat ini pembelajaran dalam jaringan (daring) di sekolah dan berbagai pelatihan online menjadi sebuah keniscayaan yang tak dapat dielakkan. Generasi muda kita telah menjelma menjadi ‘baby zoomer’ karena sudah terlalu akrab dengan pembelajaran dan pelatihan virtual ini. Lambat laun, kita pun akan terbiasa dengan kondisi semacam ini. Pembelajaran dan pelatihan daring kini telah menjadi pelengkap sistem pendidikan yang sudah ada.

Begitu pula pada ranah pelatihan kerja dan vokasional. Saat pandemi COVID-19 terjadi, di linimasa media sosial seringkali muncul informasi pelatihan kerja atau training yang berkaitan dengan dunia kerja yang dilangsungkan secara daring. Baik itu pelatihan yang berbayar maupun yang gratis, semuanya telah tersedia. Jadi peserta pelatihan kini tidak perlu datang dan tatap muka secara langsung, karena semuanya bisa dipelajari secara virtual dan dapat menstimulus budaya self-learning di masyarakat.

Sekilas Tentang RSK

Kini, telah banyak wadah yang menyediakan pelatihan daring secara gratis. Salah satu inisiatif yang baik telah dilakukan oleh Rumah Siap Kerja (RSK) yang digagas oleh Sandiaga Uno. RSK secara konsisten memberikan informasi-informasi penting seputar pelatihan di saat pandemi ini. Tentunya informasi ini penting bagi para generasi muda yang ingin memasuki dunia kerja dan meningkatkan professional skill-nya.

Inisiatif RSK ini perlahan-lahan menjelma menjadi sebuah wadah atau komunitas bagi para pencari kerja dan pengangguran yang ingin mendapatkan ilmu secara gratis (walau ada juga yang berbayar). Bagi para pegiat kegiatan sosial, RSK tentu bisa menjadi inspirasi untuk terus melakukan kegiatan yang bermanfaat terutama dalam mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan kompetensi masyarakat.

Inspirasi dan Pelengkap

Hal yang perlu dilakukan saat ini yaitu mensinergikan antara pelatihan konvensional dengan training mutakhir yang mengedepankan teknologi informasi tersebut. Dulu kita kenal ada Balai Latihan Kerja (BLK) yang secara umum berada di tiap kabupaten di Indonesia dengan pelatihan-pelatihan vokasionalnya. BLK juga rutin mengadakan kegiatan pelatihan gratis dengan kurikulum yang sudah terstandarisasi secara nasional. Peran perusahaan yang juga lembaga sosial seperti RSK ini dapat menjadi pelengkap BLK ini dalam upaya peningkatan kompetensi masyarakat dan muaranya ke pengurangan angka pengangguran. Pelatihan yang tidak ada di BLK mungkin bisa diakses ke RSK.

Selama kiprahnya dari awal berdirinya pada 16 Maret 2019, RSK telah memfasilitasi pelatihan soft skill dan hard skill dunia kerja seperti materi dari membuat CV, awal melamar kerja sampai bagaimana caranya untuk memaksimalkan jenjang karir di perusahaan. Kategori karir yang dibahasnya pun sangat beragam, update dan cocok bagi para millenial.

Bimbingan karir, informasi lowongan pekerjaan, pelatihan profesional adalah beberapa materi utama yang menjadi fasilitas RSK. Secara umum, pelatihan tersebut ingin memfokuskan pada peningkatan kualitas SDM anak muda. Cara mengakses pelatihannya juga mudah. Masyarakat dapat langsung datang ke kantor RSK atau mengikutinya melalui video meeting platform yang tentunya mudah diakses. Pelatihan jarak jauh inilah yang memungkinkan di daerah-daerah dapat terkoneksi secara langsung dengan RSK, tanpa adanya batasan.

Langkah RSK ini bisa menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga sosial non pemerintah atau korporat untuk ikut andil dalam upaya mengurangi angka pengangguran di masyarakat. Kita tahu bahwa pengangguran di Indonesia ini tercatat cukup tinggi dengan prediksi yang akan lebih besar lagi di beberapa tahun mendatang. Untuk itu, sinergi antara program pemerintah dan inisiatif masyarakat diharapkan mampu menyelesaikan persoalan ini.


Minggu, 24 Mei 2020

Peran BLK Saat Pandemi


Tahun 2020 merupakan saat-saat terberat bagi bangsa Indonesia. Tahun ini, Indonesia dilanda serbuan wabah Corona Virus Disease (Covid-19) dengan efek yang begitu simultan ke berbagai aspek, mulai dari kesehatan hingga perekonomian. Sejak pemerintah mengumumkan virus Covid-19 telah menyebar ke Indonesia, saat itu juga Indonesia melakukan tanggap darurat. Hal ini disebabkan penyebaran Covid-19 yang begitu cepat dan berpotensi menyerang semua kalangan, baik anak-anak, pemuda ataupun orang tua. Keberadaan dan ancaman virus Covid-19 ini dinilai telah mengubah pola hidup masyarakat Indonesia, terutama dalam hal kebersihan.
Tak hanya di Indonesia, masyarakat global pun ikut terdampak oleh adanya wabah ini. Banyak negara yang kewalahan menangani Covid-19 ini, sampai-sampai di beberapa negara, pusat ibadah vital dunia pun ditutup sementara untuk memutus mata rantai persebaran virus. Tercatat, hingga Senin (18/5/2020), jumlah pasien terinfeksi positif corona di dunia berkisar 4.710.614 orang, 315.023 pasien meninggal dunia dan 1.732.344 dinyatakan sembuh. Data ini merupakan laporan dari 213 negara di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia, per Senin (18/5/2020) terdapat 18.010 kasus Covid-19 sejak pengumuman kasus pertama pada 2 Maret 2020. Dari semua kasus yang terjadi, sebanyak 4.324 pasien Covid-19 mengalami kesembuhan. Namun, sampai saat ini ada 1.191 pasien Covid-19 yang meninggal dunia di Indonesia.
Atas merebaknya kasus ini, masyarakat tetap dihimbau untuk menerapkan physical distancing, social distancing dan selalu menjaga kebersihan dimanapun berada. Anjuran untuk tetap di rumah saja dan menjauhi kegiatan berkerumun sebagai upaya untuk menghentikan penularan virus juga masih diberlakukan. Kini, kesadaran masyarakat akan kebersihan pun meningkat drastis.
Perubahan aktivitas masyarakat ini sedikit banyak turut berpengaruh ke sektor bisnis. Banyak usaha-usaha yang gulung tikar karena aktivitas masyarakat yang menjadi terbatas. Mulai dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sampai perusahaan berskala besar ikut terkena imbasnya. Dampaknya, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga tak dapat dibendung. Daya beli masyarakat mengalami penurunan, yang tercermin dari bahan pokok yang mengalami deflasi 0,13%. Hal ini berarti permintaan atas bahan pangan turun. Sebagian besar individu terpaksa untuk mencari tambahan penghasilan melalui usaha berbagai cara. Pandemi ini terasa begitu sulit untuk diprediksi.
Tantangan Tenaga Medis
Tantangan lain yaitu tenaga medis yang kewalahan menerima banyaknya pasien di rumah sakit, terutama untuk pasien Covid-19. Kekhawatiran karena terpapar virus juga tak dapat dihindari tentunya. Ditambah lagi, mereka juga masih kekurangan alat pelindung diri (APD) ketika sedang bertugas. Sebagai garda terdepan dalam penanganan pasien Covid-19, mereka perlu mendapatkan prioritas untuk APD demi keselamatan. Hal ini dilakukan supaya mereka tetap bisa melayani pasien-pasien di rumah sakit tanpa rasa cemas.
Beberapa waktu yang lalu, sekitar bulan April 2020, jumlah pasokan APD di rumah sakit masih sangat terbatas. Selain itu, harganya juga sangat tinggi karena stoknya yang terbatas di pasaran, khususnya pasokan masker N95. Begitu pula dengan perlengkapan seperti baju hazmat, pelindung mata (goggles), masker bedah, sarung tangan pelindung (gloves), penutup kepala (cap), pelindung sepatu (shoe cover), celemek medis (apron), gaun (gown), sarung tangan (handscoon), pelindung wajah (face shield) sampai dengan sepatu boot, yang merupakan kebutuhan wajib untuk didapatkan oleh tenaga medis. Atas masalah tersebut, berbagai elemen masyarakat berinisiatif tinggi guna menggalang dana. Mereka tergerak untuk melakukan penggalangan mulai dari cara konvensional sampai via platform daring.
Kegiatan ini biasanya diinisiasi oleh para perusahaan, komunitas, influencer sampai patungan warga. Beberapa yang sempat viral di media sosial, antara lain bantuan dari aplikasi berbagi video pendek, TikTok, yang menggelontorkan dana sumbangan sebesar Rp 100 miliar. Bantuan dari TikTok ini pun diserahkan kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 guna membantu penyediaan alat medis yang dibutuhkan tenaga kesehatan di Tanah Air. Disamping itu, berdasarkan pemaparan CEO Kitabisa, Alfatih Timur, total jumlah dana yang sudah berhasil terkumpul dalam penggalangan dana bantuan Covid-19 hingga Jumat (15/5/2020) mencapai Rp 130 miliar. Kini kebutuhan jumlah APD di rumah sakit lambat laun terperpenuhi, atas inisiatif masyarakat yang luar biasa.
Kontribusi BLK
Dari sekian banyaknya bala bantuan, kita tentunya perlu berterima kasih kepada Balai Latihan Kerja (BLK) yang telah berinovasi dan berkontribusi besar dalam upaya melawan pandemi Covid-19. BLK yang kita tahu sebelumnya bergerak di ranah edukasi vokasional dan pelatihan kerja, kini memanfaatkan fungsinya sebagai lembaga yang melawan Covid-19. Seperti kita ketahui, BLK beserta alumninya tercatat telah banyak berkontribusi dalam penanganan Covid-19 ini melalui berbagai cara.
Peran serta BLK antara lain yaitu telah menyediakan pelatihan tanggap Covid-19 di berbagai kota, misalnya di Bandung dan Banda Aceh. Seperti yang telah diinstruksikan oleh Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah, bahwa BLK dan Balai Peningkatan Produktivitas (BPP) menggelar berbagai pelatihan tanggap Covid-19 sebagai upaya mitigasi dampak wabah tersebut. Beberapa program yang dikembangkan yaitu pelatihan memasak, pembuatan baju APD (hazmat), masker, pelindung wajah (face shield), hand sanitizer/cairan disinfektan, pelatihan instalasi wastafel, dan pembuatan peti COVID-19. Seperti diketahui, pelatihan tanggap Covid-19 ini telah memproduksi masker sebanyak 2.097.500 buah, faceshield 64.800 buah, hand sanitizer 136.250 liter, baju APD/Hazmet sebanyak 56.000 buah, 318.000 box nasi, wastafel COVID-19 1.584 buah, peti COVID-19 sebanyak 50 buah dan disinfektan 82.940 liter. Hasil produksi dari pelatihan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya oleh petugas rumah sakit dan puskesmas, petugas TNI/POLRI, posko penanganan Covid-19 dan BNPB, asosiasi kedokteran/tenaga kesehatan, relawan penanganan COVID-19 serta masyarakat umum lainnya.
Berbagai pelatihan di BLK tersebut tentunya dilakukan dengan mempertimbangkan protokol kesehatan. Upaya ini dinilai telah ikut membantu penanggulangan Covid-19 di Indonesia, melalui cara yang biasa BLK lakukan. Dalam hal ini, BLK telah berhasil melakukan refocusing terhadap program pelatihan di BLK sebagai upaya untuk mengantisipasi COVID-19 beserta dampaknya. Alhasil, BLK di masa pandemi ini telah menjelma menjadi sentra produksi masal APD. Selain memproduksi kebutuhan yang esensial tersebut, perekonomian masyarakat juga turut berdaya karena BLK memberikan insentif berupa uang saku pelatihan.
Jika kita telisik lebih dalam, peran serta BLK dalam menghadapi Covid-19 ini dilakukan secara merata oleh BLK di seluruh Indonesia. Semangat peserta training dan para alumni BLK pun patut diapresiasi. Sebagai contoh, BLK Bantul, Yogyakarta yang telah mendonasikan ribuan masker kain yang sesuai standar ke pemerintah daerah melalui PMI (Palang Merah Indonesia), Dinas Sosial Bantul dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Selain di Yogyakarta, setiap provinsi di Indonesia tercatat ada kegiatan BLK dalam penanggulangan Covid-19 ini.
Di Jawa Tengah, para alumni dan siswa pelatihan dari BLK Karanganyar dan BLK Kendal telah memproduksi masker kain dan APD secara masal, yang kemudian diserahkan kepada Gugus Penanganan Covid-19. Tak hanya memproduksi masker, beberapa BLK di Jawa Tengah seperti BLK Temanggung juga telah disulap sebagai tempat karantina pasien positif Covid-19.
Di Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), BLK Padang memproduksi peti mati khusus jenazah pasien Covid-19. Bahkan belasan Polwan dari Polda Sumbar pun ikut dilatih menjahit masker di BLK Padang untuk membuat masker nonmedis guna membantu persediaan masker saat pandemi. Selain untuk masa pandemi, masker juga berfungsi sebagai sarana perlindungan diri dari kabut asap akibat letusan Gunung Merapi. Hal senada juga terjadi di BLK Muara Enim, Sumatera Selatan yang juga telah bekerja memproduksi ribuan masker untuk memasok logistik Satgas Gugus Tugas Covid-19.
Sedangkan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, BLKnya telah memproduksi masker untuk dibagikan secara gratis. Dari Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, para alumni BLK Tapin juga telah membuat ribuan masker kain yang bertujuan untuk mengatasi kelangkaan masker di pasaran sekaligus untuk penanggulangan Covid-19. Hal serupa juga datang dari BLK Nusa Tenggara Barat (NTB) yang telah memproduksi masker dan handsanitizer untuk masyarakat sekitar.
Seperti diketahui, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar juga menginstruksikan untuk penyerahan bantuan langsung tunai (BLT) dana desa bagi mereka yang telah kehilangan mata pencaharian. Kebijakan semacam ini juga telah diterapkan sebelumnya oleh BLK Kendari yang membagikan uang tunai dan beras bagi masyarakat yang terdampak Covid-19. Kita tahu, bahwa selama pandemi ini, BLK telah banyak melakukan kontribusi kepada masyarakat dan pemerintah. Khususnya dalam membantu tenaga medis serta turut menurunkan atau menstabilkan harga masker di pasaran.
Respon cepat tanggap dan profesionalisme BLK ini menunjukkan bahwa mereka memiliki sumber daya manusia (SDM) yang unggul dengan fasilitas yang mumpuni. Terbukti, bahwa BLK mampu menjadi garda terdepan dalam membantu penyelesaian wabah ini. Hal yang perlu diingat, bahwasannya BLK merupakan salah satu pahlawan pembasmi Covid-19 di Indonesia.