Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juni 2026

Alumni MPK UNDIP Terbitkan Buku “Bertaruh Napas di Sel Padat”

 


Sumber:

https://mahasiswa.co.id/alumni-mpk-undip-terbitkan-buku-bertaruh-napas-di-sel-padat/14126/

Bertaruh Napas di Balik Jeruji, Alumni UNDIP Angkat Wabah Senyap di Lapas Lewat Sebuah Buku

 


Sumber:

https://halosemarang.id/bertaruh-napas-di-balik-jeruji-alumni-undip-angkat-wabah-senyap-di-lapas-lewat-sebuah-buku/

BERTARUH NAPAS DI SEL PADAT: Kisah Nyata Wabah Senyap di Lembaga Pemasyarakatan




BERTARUH NAPAS DI SEL PADAT
Kisah Nyata Wabah Senyap di Lembaga Pemasyarakatan

Penulis: Hardiat Dani Satria, M.Kes.
Halaman: xii + 232 hlm
Ukuran: 15,5 x 23 cm
Kertas: Bookpaper
Isi: Hitam putih
Cover: Softcover
Harga: Rp119.000

Sinopsis:

“Di balik tingginya tembok penjara hukuman yang sesungguhnya bukanlah hilangnya kebebasan melainkan hilangnya napas kehidupan.”
Lembaga pemasyarakatan semestinya menjadi ruang perenungan luhur untuk menebus rentetan kesalahan masa lalu. Namun apa jadinya tatkala jeruji besi penahanan justru bermutasi wujud menjadi mesin pembiak wabah penyakit yang luar biasa mematikan.

Buku ini mengupas tuntas sebuah krisis kemanusiaan yang selama ini tersembunyi teramat rapi di balik ekosistem lingkungan kurungan. Melalui pembedahan analisis yang tajam berani dan penuh empati para pembaca akan diajak menelusuri pelbagai sudut bilik pengap tempat kuman perusak organ pernapasan berpesta pora. Teks ini menelanjangi rentetan malapetaka biologi yang bermula dari rancangan arsitektur kaku yang mencekik aliran udara segar runtuhnya etika kebersihan akibat depresi hingga tebalnya dinding birokrasi pemerintahan yang acap kali lebih memuja lembaran kertas persetujuan ketimbang keselamatan nyawa seorang pasien gawat darurat.

Bukan sekadar menyajikan ratapan penderitaan karya ini hadir membawa pelita jalan keluar dan pembenahan struktural. Narasi di dalamnya memberikan sudut pandang bernas yang menyadarkan nurani kita bahwa menyelamatkan kesehatan para pesakitan sejatinya merupakan langkah paling rasional untuk melindungi benteng kesehatan masyarakat sipil di alam merdeka.

Disajikan melalui gaya bahasa yang mengalir ringan namun sarat akan ketegasan literasi buku ini sukses meretas batas stigma yang melekat kuat di benak publik. Sebuah bacaan memikat dan wajib dikoleksi bagi siapa saja yang masih memelihara kepekaan nurani serta meyakini utuh bahwa hak untuk bernapas lega adalah anugerah semesta yang tidak pantas dirampas oleh kelalaian sebuah sistem.


https://tokobuku.sippublishing.co.id/product/bertaruh-napas-di-sel-padat-kisah-nyata-wabah-senyap-di-lembaga-pemasyarakatan/

Kamis, 07 November 2024

Mengapa Lautan Kaya, Nelayan Miskin?

 


Judul Buku    : Solusi Nelayan: Mengurai Paradoks Si Miskin di Negara Maritim

Pengarang      : Tim Penulis Buku Kompas

1.      Musa Sanjaya

2.      Arieful Hakim

3.      Syamsudin Walad

Penerbit          : Kementerian Koperasi dan UKM RI

                        Jl. H. R. Rasuna Said No. 3-4 6,

                        Kota Jakarta Selatan 12940

Tahun Terbit : 2024

Cetakan          : 1

ISBN               : 978-623-89357-9-6

Sebagian besar nelayan berada dalam ambang batas kemiskinan dan menyumbang sekitar 25% angka kemiskinan di Indonesia.

Indonesia dikenal sebagai negara maritim terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang dan wilayah laut yang sangat luas. Namun, permasalahan kelautan seringkali tidak menjadi topik utama dalam diskusi sehari-hari, baik dalam media maupun di ruang publik. Banyak perhatian lebih difokuskan pada sektor ekonomi masyarakat urban, seperti industri dan jasa, sementara sektor maritim yang sangat vital bagi kehidupan jutaan orang, terutama nelayan, sering kali terabaikan.

Di sektor kelautan, nasib para nelayan patut mendapatkan perhatian serius. Nelayan di Indonesia bisa dibagi menjadi tiga kelompok utama berdasarkan kepemilikan alat tangkap, yaitu nelayan buruh, nelayan juragan, dan nelayan perorangan. Kelompok yang paling rentan secara ekonomi adalah nelayan buruh dan nelayan perorangan, yang sering kali bekerja dengan alat tangkap tradisional atau sederhana. Mereka bergantung pada hasil tangkapan harian dan tidak memiliki akses yang cukup terhadap modal atau teknologi modern.

Kondisi ini menyebabkan kemiskinan yang cukup parah di kalangan nelayan tradisional, bahkan lebih buruk jika dibandingkan dengan masyarakat lain di sektor pertanian. Nelayan buruh dan perorangan sering berada di lapisan sosial paling bawah. Mereka tidak hanya menghadapi tantangan dari segi ekonomi, tetapi juga ketidakpastian cuaca, perubahan iklim, dan kebijakan pemerintah yang terkadang tidak berpihak pada mereka. Karena itu, penting bagi kita untuk lebih sering membicarakan dan memperjuangkan kesejahteraan nelayan sebagai bagian dari permasalahan maritim yang mendesak.

Refleksi Buku

Buku ini mengulas tentang berbagai masalah yang dihadapi oleh para nelayan di Indonesia, walaupun negara ini memiliki banyak sumber daya laut. Indonesia terkenal sebagai negara maritim yang memiliki 70% wilayahnya terdiri dari laut. Indonesia harus dapat memanfaatkan sumber daya lautnya yang kaya untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Meskipun begitu, sampai sekarang, sumber daya tersebut belum dioptimalkan, dan nelayan Indonesia masih tetap termasuk kelompok masyarakat yang paling miskin.

Salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh nelayan adalah meningkatnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan keterbatasan dalam mengakses BBM subsidi. BBM adalah bagian terbesar dari pengeluaran saat berlayar, menjangkau 70% dari total pengeluaran. Tiap kenaikan harga bahan bakar minyak berdampak besar terhadap penghasilan nelayan.

Dalam upaya mengatasi permasalahan itu, program Solusi Nelayan diluncurkan oleh pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM. Tujuan program ini adalah untuk mempermudah nelayan dalam mendapatkan akses BBM bersubsidi melalui pembangunan SPBUN yang dikelola oleh koperasi. Salah satu contoh keberhasilan dari program ini adalah KUD Mino Saroyo di Cilacap, yang sukses menjamin pasokan BBM bersubsidi bagi anggotanya, sehingga kegiatan melaut dapat terus berjalan.

Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan peran koperasi nelayan dalam mengatur distribusi BBM dan meningkatkan nilai produk perikanan sebelum dijual ke pasar. Koperasi juga memberikan bantuan dalam menghadapi masalah lain yang dihadapi nelayan, seperti akses keuangan, teknologi penangkapan ikan, dan informasi cuaca.

Koperasi nelayan dianggap sebagai penyelesaian yang efektif karena dapat mengatur distribusi BBM dengan lebih teratur dan tepat. Dengan melibatkan koperasi, distribusi BBM dapat dikontrol agar hanya diperoleh oleh anggota koperasi yang memenuhi syarat, sehingga mengurangi kemungkinan penyalahgunaan subsidi. Secara garis besar, buku ini menjelaskan berbagai masalah yang dihadapi oleh nelayan di Indonesia dan menawarkan solusi kerjasama melalui peningkatan peran koperasi.

Keunggulan dan Kelemahan Buku

Buku "Solusi Nelayan: Mengurai Paradoks Si Miskin di Negara Maritim" berhasil membawa diskusi tentang kemaritiman ke ranah yang lebih menyentuh kehidupan masyarakat pesisir, terutama nelayan yang seringkali terpinggirkan. Kajian ini menyoroti masalah-masalah sosio-ekonomi yang jarang dibahas dalam diskursus kemaritiman yang umumnya hanya fokus pada sektor pariwisata dan kekayaan sumber daya laut. Buku ini berhasil mengurai berbagai persoalan yang dihadapi oleh nelayan tradisional yang hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem, memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana kelompok-kelompok rentan ini sering diabaikan dalam kebijakan nasional.

Melalui data dan analisis yang jelas, buku ini menyoroti fakta bahwa tingkat kemiskinan ekstrem di wilayah pesisir mencapai 4,19%. Dari total 10,86 juta jiwa yang hidup dalam kemiskinan di Indonesia, 12,5% atau sekitar 1,3 juta orang tinggal di wilayah pesisir. Angka ini menggarisbawahi perlunya perhatian lebih terhadap kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir dalam agenda pembangunan nasional. Buku ini memberikan perspektif baru yang sangat penting untuk memahami kompleksitas kehidupan nelayan dan tantangan struktural yang dihadapi sektor maritim dalam konteks kemiskinan dan ketimpangan ekonomi.

Buku "Solusi Nelayan: Mengurai Paradoks Si Miskin di Negara Maritim" akan lebih kaya jika dilengkapi dengan eksplorasi potret kesuksesan nelayan di Indonesia. Saat ini, buku ini lebih banyak mengangkat isu kemiskinan dan tantangan yang dihadapi oleh nelayan, namun dengan menambahkan kisah-kisah inspiratif tentang keberhasilan nelayan yang mampu mengatasi tantangan tersebut, buku ini akan memberikan perspektif yang lebih seimbang. Kisah sukses ini dapat menjadi panduan praktis bagi nelayan lain atau pemangku kebijakan tentang cara-cara mewujudkan kesejahteraan di sektor maritim. Dengan adanya sudut pandang ini, buku tersebut tidak hanya menjadi kritik terhadap kondisi saat ini tetapi juga sumber inspirasi untuk masa depan.

Dari sisi visual, desain sampul buku ini tampak terlalu kaku dan formal untuk sebuah buku yang memiliki potensi luas pembaca. Mengadopsi desain yang lebih "komersial" seperti yang sering digunakan oleh penerbit Palgrave Macmillan dapat memberikan kesan lebih menarik dan mewah. Pendekatan desain yang lebih dinamis dan modern dapat meningkatkan daya tarik visual buku ini, sehingga lebih mampu menarik perhatian pembaca dari berbagai kalangan, termasuk mereka yang tidak memiliki latar belakang akademis namun tertarik pada isu-isu maritim dan kesejahteraan nelayan. 

“Di negeri ini, nelayan menjadi salah satu profesi paling miskin. Ini didasarkan atas analisis data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2017, sebanyak 11,34% orang di sektor perikanan tergolong miskin, lebih tinggi dibandingkan sektor pelayanan restoran (5,56%), konstruksi bangunan (9,86%), serta pengelolaan sampah (9,62%).”


Selasa, 09 September 2014

4 Buku (bacaan) Penting Bulan Ini

Kesibukan untuk memilih membaca update berita di media online atau cetak, mengakibatkan kurangnya waktu saya untuk membaca buku. Bagi saya, membaca buku adalah ritual yang harus dilakukan secara khusus tanpa intervensi dari aktivitas apapun. Tahun 2014 ini, saya memang sudah jarang belanja buku, karena keterbatasan finansial  yang mengharuskan menahan pengeluaran demi membayar tagihan sewa kosan. Di bulan September ini, saya menemukan beberapa buku lama saya dan membeli buku baru yang tidak ada salahnya untuk sedikit diceritakan. Buku-buku (bacaan) ini menurut saya cukup penting sebagai bacaan dan ‘teman’ di sela-sela kesibukan di bulan ini.

Apa Itu Musik? (Kajian tentang Sunyi dan Bunyi Berdasarkan 4’33’’ Karya John Cage) – Karina Andjani

Buku terbitan bulan April lalu, dari penerbit yang diakui dunia, Marjin Kiri ini merupakan karya skripsi mahasiswa Filsafat FIB UI yang dibukukan dan diterbitkan. Memang sebelumnya, saya sering melihat karya mahasiswa Filsafat UI yang karya skripsinya berhasil dibukukan. Untuk buku ini, bagi saya sangat keren sekali, karena pembahasan filsafatnya sangat cukup (bahkan lebih dari cukup bagi saya) dan mudah dipahami untuk menjelaskan sunyi, bunyi dan musik secara komprehensif. Ini berarti, di masa depan, Indonesia tidak akan kekurangan musikolog J.
Sembilan Elemen Jurnalisme – Bill Kovach & Tom Rosenstiel
Entah darimana buku ini bisa berada di kamar saya. Sepertinya ada teman saya yang kehilangan buku ini, dan saat ini menjadi bacaan sehari-hari saya. Buku ini, sudah ada di kosan saya sejak masih mahasiswa dulu, sekitar pertengahan tahun 2012 lalu. Namun, saya baru tertarik membacanya awal september ini. Tidak disangka, isinya memang luar biasa. Membahas problematika jurnalisme dalam 50 tahun terakhir ini. Tidak heran, beberapa superhero memilih profesi mereka sebagai wartawan.
        Evolusi – Ernst Mayr
      Saya punya buku ini sejak pertengahan 2010, saat masih menjadi mahasiswa baru. Sudah berkali-kali saya mengkhatamkan buku rumit yang diringkas menjadi sederhana ini. Saya memang sejak SMA sudah menggemari Darwin, tapi saya lebih menggemari imajinasi nalar risetnya yang luar biasa. Menurut saya, yang membuat Biologi menarik untuk dibahas itu adalah evolusi. Suatu analisa makro dengan gagasan seleksi alam. Dan, selanjutnya diteruskan oleh Ernst Mayr, yang menjabarkan mengenai seleksi artifisial lebih mengukuhkan teori evolusi ini. Ernst Mayr merupakan periset, petualang dan filusuf biologi cemerlang.
         Majalah Rolling Stone Indonesia – Katy Perry menaklukkan dunia  
     Hanya untuk selingan supaya bisa sedikit update budaya pop di Indoensia dan mancanegara.