Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Desember 2024

Advokasi Compensation and Benefit Layak Bagi Tenaga Pendidik

Setiap pemberi kerja di negara yang menganut prinsip hukum memiliki kewajiban untuk merancang paket kompensasi dan manfaat (Compensation and Benefit atau C&B) bagi karyawannya. C&B adalah kumpulan bentuk penghargaan atau imbalan atas kontribusi yang diberikan oleh karyawan. Kompensasi umumnya mencakup gaji atau upah yang dapat diterima karyawan dalam bentuk tunai maupun non-tunai. Sementara itu, manfaat mencakup fasilitas tambahan yang diberikan, seperti asuransi kesehatan, dana pensiun, serta hak cuti tahunan. Pemberian C&B bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup para karyawan.

Fakta di lapangan, masih sering ditemukan pemberi kerja yang mengabaikan aspek C&B. Akibatnya, banyak karyawan tidak sejahtera karena imbalan yang diterima jauh dari standar hidup yang layak. Masalah ini diperburuk oleh fakta bahwa sejumlah perusahaan tidak menyediakan kontrak kerja resmi, sehingga karyawan tidak memiliki perlindungan hukum yang memadai. Lebih ironis lagi, praktik ini sering kali terjadi bahkan di instansi resmi, yang seharusnya menjadi teladan dalam menerapkan kebijakan ketenagakerjaan yang adil.

Minimnya lapangan pekerjaan turut memperparah situasi ini. Banyak pencari kerja rela menerima upah kecil demi mendapatkan pekerjaan, meskipun hal itu tidak menjamin kesejahteraan mereka. Tidak jarang pemberi kerja memanfaatkan situasi ini dengan menjanjikan status karyawan tetap atau kenaikan gaji setelah bertahun-tahun mengabdi, namun janji tersebut sering kali tidak ditepati. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketidakadilan dalam penerapan C&B telah menjadi masalah sistemik yang sulit diatasi tanpa intervensi yang tegas dari pihak terkait.

Situasi ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi dinas ketenagakerjaan, yang memiliki tanggung jawab untuk mengawasi dan menindak pelanggaran ketenagakerjaan. Jika persoalan terkait C&B ini mendapat sorotan publik secara masif, maka tekanan terhadap pemerintah dan perusahaan akan meningkat untuk segera memperbaiki kebijakan dan pelaksanaannya. Langkah-langkah seperti penegakan hukum, pembenahan kontrak kerja, serta edukasi kepada pemberi kerja tentang pentingnya C&B yang adil adalah kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi dan berkeadilan.

Problematika Tenaga Pendidik

Salah satu lapisan masyarakat yang cukup terpapar fenomena ketidakadilan aspek C&B tersebut adalah tenaga pendidik. Kita tentu sering mendengar gaji tenaga pendidik kecil. Terutama bagi mereka yang bukan PNS atau PPPK. Di luar itu, gaji mereka ibarat tidak cukup untuk makan sebulan. Maka dari itu, mereka berusaha mencari sampingan agar kebutuhannya dapat terpenuhi. Mengapa mereka masih bertahan? Mereka berharap diangkat statusnya menjadi ASN suatu saat nanti. Jika sudah menjadi ASN, kondisi ekonomi mereka menjadi lebih stabil.

Tapi apakah semua tenaga pendidik dapat berkesempatan menjadi ASN? Dengan kuota yang terbatas, tentu saja regulasi ini tidak dapat mengakomodir semua pihak. Tenaga pendidik di lembaga swasta juga mengalami hal serupa. Gaji mereka kecil dengan job description yang tidak hanya mengajar. Banyak tugas administrasi dan seremonial yang harus mereka kerjakan. Gaji tenaga pendidik yang kecil ini imbas dari beragam isu struktural rumit yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Hal yang bisa kita lakukan bagi masyarakat yang peduli dengan kesejahteraan tenaga pendidik adalah melakukan advokasi. Kita perlu terus berupaya agar paket kebijakan C&B tenaga pendidik menjadi layak. Menuju Indonesia Emas 2024, bangsa kita memerlukan SDM yang hebat. Hal itu bisa tercipta apabila kita memiliki tenaga pendidik yang berkualitas. Tidak bisa dipungkiri bahwa kesejahteraan tenaga pendidik menjadi faktor utama yang meningkatkan kualitas pendidikan. Tenaga pendidik menjadi lebih bersemangat, lebih dapat mencapai target, terus berinovasi dan berorientasi pada kualitas peserta didik.

Di tahun 2024 ini, Presiden Prabowo Subianto memiliki delapan misi khusus yang dinamai dengan 8 Misi Asta Cita. Salah satu dari misi tersebut adalah memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. Hal ini tentu akan menciptakan angin segar, pasalnya Prabowo dan Gibran berjanji akan menaikkan gaji ASN (terutama guru, dosen, dan tenaga kesehatan), TNI/POLRI, dan pejabat negara melalui 8 program hasil terbaik cepat sebagai pondasi menuju Indonesia Emas 2024. Semoga saja kondisi ini dapat terealisasi.

Asta Cita Pendidikan

Asta Cita Pendidikan merupakan grand design pemerintah dalam mewujudkan sektor pendidikan yang berkualitas, yang adil dan mensejahterakan. Mengurai permasalahan C&B tenaga pendidik yang tidak layak tentu tidak mudah. Partisipasi masyarakat diperlukan untuk terus mengadvokasi masalah ini. Bahkan tulisan ini pun bentuk dari advokasi. Jika ditelaah lebih detail pada jagad media massa, permasalahan di sektor pendidikan lebih banyak dihiasi oleh permasalahan ketenagakerjaan di dalamnya. Masalah ketenagakerjaan lebih mendominasi dibandingkan masalah pendidikan itu sendiri.

Artinya, untuk mewujudkan Asta Cita Pendidikan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu adalah masalah ketenagakerjaan. Dengan terus menerus melakukan advokasi kelayakan C&B tenaga pendidik, pelan-pelan persoalan ini terus menjadi perbincangan dan pelan-pelan akan menemukan titik solusinya. SDM tenaga pendidik yang begitu besar ini harus dapat dimaksimalkan oleh negara. Penyelesaian permasalahan SDM tenaga pendidik tentu saja muaranya adalah perkembangan sains dan teknologi di dalamnya. Inilah bekal agar Indonesia mampu menjadi negara maju, seperti visi Asta Cita Pendidikan.

Jumat, 04 Agustus 2023

Sudah Jadi Agenda Rutin, Pelaksanaan Job Fair Perlu Inovasi Agar Serapan Tenaga Kerja Maksimal


Sumber: https://www.suaramerdeka.com/ekonomi/049677962/sudah-jadi-agenda-rutin-pelaksanaan-job-fair-perlu-inovasi-agar-serapan-tenaga-kerja-maksimal


Rabu, 02 Agustus 2023

Senin, 31 Juli 2023

Dilema Vokasional

Saya masih ingat betul banyak sekali momen menarik ketika masih duduk di bangku SMA kelas XII. Mulai dari asmara sampai kegalauan di masa depan. Saat itu, dapat digeneralisir bahwa sebagian besar siswa di kelas XII sedang galau dalam menentukan masa depan mereka. Namun, ada juga yang sudah yakin optimis terhadap apa langkah yang akan mereka tempuh nantinya ketika memasuki fase pasca SMA. Siswa yang berpikiran seperti itu biasanya yang juara kelas, pintar dan kaya.

Ketika memasuki awal tahun 2009 yang saat itu didominasi musim penghujan, banyak sekali kakak senior yang datang ke kelas kami untuk melakukan sosialiasi perguruan tinggi. Baik negeri maupun swasta. Saya sangat senang dengan sesi tersebut tentunya, karena tidak memusingkan dan lebih banyak canda tawa. Pemaparan dari sesi kakak senior tersebut tentu lebih menarik ketimbang materi mata pelajaran—apalagi yang berkaitan dengan ujian nasional, yang tentu sudah membuat jenuh pikiran.

Ada belasan instansi pendidikan yang datang ke kelas kami, di sepanjang satu bulan di awal tahun 2009. Beberapa instansi tersebut memincing riak antusias dari para siswa. Beberapa instansi hanya menimbulkan kesan biasa saja. Beberapa instansi yang cukup popular adalah sekolah kedinasan dan PTN ternama yang berada di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Semua siswa di kelas kami sangat terlihat antusiasmenya. Meskipun respon terhadap para perwakilan dari instansi pendidikan tersebut berbeda-beda, namun secara general terdapat persamaan dari segi pertanyaan yang lontarkan oleh siswa di kelas kami: “Di jurusan ini prospek kerjanya apa?”

Dari segi struktur tata bahasanya, pertanyaan tersebut mengandung tingkat kepenasaranan yang tinggi, pertanyaan tersebut tentunya sangat berbobot, futuris dan logis. Pertanyaan semacam ini umumnya dijawab dengan lancar dan tanpa terbata-bata oleh para pemateri. Prospek kerja mulai dari ASN, BUMN, BUMD dan perusahaan swasta multinasional telah membuai para siswa sekelas. Saya rasa kelas lain juga merasakan hal yang sama. Saat sesi tersebut, kami sudah membayangkan nikmatnya bergelimang harta ketika kerja nanti. Bahkan saya ingat, kawan saya sudah membayangkan menjadi pejabat publik dan pimpinan perusahaan. Tak jarang pula yang sudah berandai-andai, saat reuni nanti di depan kelas kami sudah terpampang mobil sport berharga mahal. Sungguh luar biasa impian anak-anak belasan tahun ini.

Kini saya sudah 14 tahun lulus dari SMA. Saat ini, saya sudah empat tahun menjalani karir sebagai pengusaha. Usaha saya di bidang training, lebih khususnya pelatihan untuk persiapan memasuki dunia kerja yang bernama “Swadaya Mengajar”.  Pelatihan ini menyasar kepada para siswa SMA atau SMK dan mahasiswa. Senang sekali rasanya bisa memberikan pelatihan dan berbagi pengalaman kepada adik-adik tersebut. Beberapa kali saya juga menggratiskan pelatihan karena ingin tahu seperti apa ketertarikan generasi sekarang ini terhadap impian dunia kerja.

Awalnya saya mengira, generasi mereka sudah cukup futuris dengan banyak referensi terkini terkait dengan cita-cita di masa depan. Hal ini saya prediksi karena generasi yang bersekolah SMA atau SMK lima tahun terakhir ini sudah mengenal internet dan dapat menggali informasi tanpa batas, sejak kecil. Dibandingkan generasi saya, saya berharap menemukan pandangan yang berbeda di antara para peserta pelatihan ini. Saya sama sekali tidak membuat pakem terkait impian manusia di muka bumi ini, karena hal ini memang bentuk kebebasan manusia. Hanya saja, saya cukup menyayangkan tidak ada yang sejak sekolah bercita-cita menjadi pengusaha. Minimal pedagang atau penjual lah. Atau mungkin definisi tentang pekerjaan pada alam bawah sadar manusia sangat bertolak belakang dengan istilah pengusaha. Saya kemudian terbawa lamunan mesin waktu ketika belasan tahun lalu duduk di bangku SMA seperti adik-adik ini.

Pertanyaan tentang prospek kerja mulai dari ASN, BUMN, BUMD sampai perusahaan swasta multinasional masih menjadi bahan diskursus para siswa sekelas. Di satu sisi, saya sangat apresiatif terhadap upaya mereka dalam mempersiapkan masa depannya. Di satu sisi saya merasa bahwa— secara generaslisasi pengalaman diri saat pelatihan, referensi karir generasi dalam periode lebih dari sepuluh tahun terakhir masih sama. Lalu, saya bertanya-tanya dalam diri, apakah ranah pekerjaan memang akan terus seperti ini di masa depan? Jika memang orientasinya adalah bekerja di sektor formal seperti yang disebutkan tadi, mengapa tidak semua sekolah diseragamkan menjadi sekolah vokasional atau kedinasan saja? Toh, sekolah vokasional atau kedinasan jauh lebih aplikatif dan bisa cenderung langsung bisa mendapatkan pekerjaan.

Tidak hanya itu. Banyak juga setingkat mahasiswa yang masih bertanya, kelak prospek kerja mereka akan seperti apa. Dilema vokasional inilah yang akan terus menghantui para siswa dan mahasiswa sampai kapanpun. Dilema vokasional seakan tidak lekang dimakan zaman, terus ada dan menjadi diskursus kecemasan abadi. Apakah sekolah akan selalu dikaitkan dengan karir? Ataukah kita yang terlalu mengkerdilkan ilmu pengetahuan, sehingga yang dibutuhkan adalah sertifikat pernah “mencicipi” kurikulum di dalamnya. Memang benar, sekolah memang tidak menjamin apapun untuk sukses. Mungkin inilah jalan terbaik yang akan terus dilalui oleh manusia sampai kapanpun. Mereka akan terus mengalami dilema vokasional dengan harapan memperbesar peluang untuk hidup layak.

Minggu, 30 Juli 2023

Evolusi Telemedicine

Pada akhir Desember 2019, COVID-19 pertama kali muncul di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Beberapa bulan kemudian, World Health Organization (WHO) menyatakan situasi pandemi seiring dengan peningkatan kasus di seluruh dunia. Untuk mencegah penularan virus COVID-19 tersebut, masyarakat diminta untuk menjaga jarak, termasuk saat berobat ke unit layanan kesehatan. Mulai saat itu, adaptasi terhadap layanan telemedicine menjadi pilihan terbaik di masyarakat agar para dokter dapat terus memberikan layanan medis kepada pasien.

Menurut WHO, telemedicine didefinisikan sebagai bentuk pemberian layanan medis jarak jauh dengan menggunakan sarana elektronik untuk mendiagnosis, mencegah, meneliti dan menilai penyakit guna meningkatkan kesehatan. Telemedicine berasal dari bahasa Yunani “tele” yang berarti jauh dan “medical” yang berarti layanan medis yang diberikan oleh praktisi medis. WHO membedakan istilah telemedicine dari tele-health. Menurut WHO, tele-health dipahami sebagai integrasi sistem telekomunikasi dengan intervensi medis yang lebih preventif dan promotif. Sedangkan istilah telemedicine mengacu kepada aktivitas yang lebih bersifat terapeutik. Namun, para ahli berpendapat bahwa kedua istilah tersebut umumnya tidak seketat klasifikasi dari WHO. Telemedicine dan tele-health pada dasarnya memiliki ruang lingkup yang sama. Istilah telemedicine dinilai lebih umum dan pada akhirnya digunakan di semua bidang kesehatan, mulai dari preventif, promotif hingga kuratif.

WHO mendefinisikan telemedicine sebagai bentuk layanan perawatan kesehatan yang terdapat faktor “jarak” di dalamnya, sehingga para praktisi kesehatan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana pertukaran pesan yang efektif untuk melakukan diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit serta perawatan cedera. Sedangkan manfaat lainnya menurut WHO adalah sebagai evaluasi penelitian dan pendidikan yang berkelanjutan bagi penyedia layanan kesehatan.

Selama pandemi COVID-19, dokter menggunakan teknologi telemedicine untuk meningkatkan aksesibilitas kepada pasien rawat jalan. Layanan telemedicine yang diberikan yaitu pengobatan jarak jauh yang mencakup konsultasi daring, pemeriksaan daring dan konsultasi melalui chatbot. Dengan berbagai jenis layanan telemedicine tersebut, pasien dapat mengetahui gejalanya dan meminta saran dari dokter tentang penyakitnya, terutama pada saat pandemi.

Sejarah Telemedicine

Berdasarkan catatan sejarah, telemedicine telah digunakan untuk perawatan pasien sejak tahun 500 SM. Hal itu dipraktikkan ketika manusia menggunakan media "manusia" lain sebagai pengantar pesan dari tabib kepada pasien yang lokasinya di tempat yang jauh. Selanjutnya pada awal 1900-an, telemedicine mulai diaplikasikan di dunia kedokteran Belanda, dengan mentransmisikan irama jantung melalui telepon dan diikuti dengan konsultasi medis. Setelah itu pada tahun 1920-an, konsultasi medis melalui radio menjadi layanan kesehatan yang umum di Eropa.

Pada tahun 1940, gambar sinar-X mulai dikirimkan melalui telegram antar kota di Pennsylvania. Selama bertahun-tahun, teknologi tersebut telah digunakan di dunia dan pada akhirnya muncul telemedicine berbasis internet seperti sekarang ini. Telemedicine saat ini telah memberi pasien lebih banyak informasi terkait kondisi kesehatan mereka. Pasien menjadi memiliki pemahaman yang lebih baik tentang penyakit mereka, prognosis serta efek samping dari pengobatan.

Pada saat pandemi COVID-19, telemedicine berdampak besar pada aktivitas dokter dalam merawat pasien. Dokter menggunakan telemedicine untuk berinteraksi dengan pasien mengenai perawatan mereka dan memandu perawatan pasien tanpa harus melakukan kunjungan ke rumah sakit secara langsung. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/4829/2021 terkait dengan implementasi layanan medis melalui telemedicine selama pandemi COVID-19. Layanan ini dapat dilakukan di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, laboratorium medis dan apotek. Kegiatan yang dilakukan melalui telemedicine antara lain yaitu memberikan penyuluhan, komunikasi, informasi dan edukasi. Konsultasi klinis yang dilakukan meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik spesifik menggunakan media audio visual, pemeriksaan penunjang, diagnosis dan pemberian obat.

Telemedicine di Masa Depan

Peralihan sistem pengobatan dari tradisional ke telemedicine berkembang sangat pesat karena pandemi COVID-19. Terlepas dari banyaknya manfaat penggunaan telemedicine bagi dokter dan pasien, kesalahan diagnosis serta pengobatan yang tidak tepat dapat menimbulkan lebih banyak masalah hukum. Terkait dengan empati, pertimbangan emosional dan keterlibatan pasien dapat dikompromikan pada saat pasien berinteraksi secara virtual dengan profesional medis di platform telemedicine. Akan tetapi, yang lebih mengkhawatirkan adalah terkait dengan keamanan dan kerahasiaan data pasien.

Berdasarkan riset, menunjukkan bahwa penggunaan telemedicine juga masih sangat rendah di daerah pedesaan dan masyarakat berpenghasilan rendah. Kurangnya fasilitas terhadap akses internet adalah yang menyebabkan rendahnya pemanfaatan telemedicine. Selain itu, permasalahan implementasi telemedicine juga dialami oleh sumber daya manusia yang ada di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Adaptasi dan konsistensi terhadap pemakaian teknologi telemedicine harus menjadi sebuah upaya yang harus direspon cepat.

Terlepas dari kelebihannya, implementasi telemedicine masih memiliki beberapa kelemahan yang menentukan penggunaan klinisnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi semua stakeholder kesehatan untuk bekerja sama dalam menerapkan dan mengembangkan sektor telemedicine agar dapat melayani kebutuhan pasien dengan lebih baik. Selain itu, pemerintah juga harus menangani aspek hukum dari telemedicine, serta agar rumah sakit juga dapat memaksimalkan penggunaan telemedicine secara maksimal. Banyak riset ilmiah menunjukkan bahwa telemedicine merupakan solusi layanan kesehatan digital yang inovatif di masa pandemi karena efektif, efisien dan mudah diakses. Namun, setelah pandemi berakhir, pasien akan melakukan banyak pertimbangan untuk memutuskan dalam penggunaan telemedicine.

Kamis, 25 Mei 2023

Risiko Dehidrasi Pada Periode Gelombang Panas Global

Pada tahun 2023 ini, dunia tengah dilanda ancaman gelombang panas. Ancaman ini begitu mengkhawatirkan karena beberapa negara terdampak akibat fenomena ini. Beberapa negara seperti Afghanistan, Papua Nugini dan Amerika Tengah mengalami dampak panas yang luar biasa. Selain itu, beberapa daerah seperi Beijing dan beberapa bagian Eropa juga mengalami hal serupa. Negara dengan jumlah populasi besar adalah yang paling mengkhawatirkan fenomena ini karena terkait dengan ketersediaan layanan kesehatan dan akses terhadap sumber air.

Hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi situasi tersebut adalah dengan menhimbau kepada masyarakat agar menghindari paparan langsung matahari saat suhu terasa sangat panas. Selanjutnya memakai pakaian yang longgar, berwarna terang dan berbahan dingin untuk membantu menyerap keringat. Minumlah banyak air agar tubuh tetap terhidrasi. Gunakan AC atau kipas angin untuk mendinginkan ruangan. Kurangi aktivitas fisik di luar ruangan selama jam-jam siang yang paling panas. Terakhir, segera cari pertolongan medis jika merasakan gejala panas berlebihan seperti pusing, mual dan kejang.

Ancaman Dehidrasi

Dari ancaman yang ada, yang perlu diwaspadai secara khusus adalah pada aspek ancaman dehidrasi. Saat terjadi gelombang panas, suhu tubuh dapat meningkat dan tubuh memerlukan lebih banyak cairan untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil. Jika tubuh tidak mendapatkan cairan yang cukup, maka dapat terjadi dehidrasi yang merupakan ancaman serius bagi kesehatan. Beberapa gejala dehidrasi yang perlu diwaspadai saat terjadi gelombang panas antara yaitu mulut kering dan rasa haus yang berlebihan, kepala terasa pusing dan lemas, kulit kering, mengelupas, kencing berwarna gelap dan jarang dan kejang dalam kasus yang parah.

Oleh karena itu, sangat penting untuk minum air secara teratur selama gelombang panas. Selain itu, hindari aktivitas yang terlalu berat dan cari tempat yang sejuk untuk menghindari paparan sinar matahari langsung. Jika merasakan gejala dehidrasi atau tidak dapat minum air, segera cari bantuan medis untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Apabila kondisi tubuh saat ini telah kehilangan terlalu banyak cairan, maka perlu segera untuk minum elektrolit dan cairan pengganti, seperti air kelapa, minuman elektrolit atau air dengan sedikit garam dan gula. Segera konsumsi makanan yang mengandung banyak air seperti buah-buahan, sup, atau yogurt dapat membantu menggantikan cairan yang hilang. Hindari minuman yang dapat menyebabkan dehidrasi seperti alkohol dan minuman berkafein. Jika kondisi sudah terlalu paraj, segera cari bantuan medis agar mendapatkan perawatan yang tepat.

Upaya Promosi Kesehatan: Penampungan Sumber Hidrasi Masyarakat

Upaya promosi kesehatan untuk menanggulangi terjadinya ancaman gelombang panas dapat dilakukan dengan cara melakukan pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat untuk menampung air sebagai suplai hidrasi dapat dilakukan melalui beberapa cara. Pertama, masyarakat dapat diberikan edukasi tentang pentingnya menjaga ketersediaan air dan cara-cara menghemat penggunaan suplai hidrasi tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui kampanye atau penyuluhan di lingkungan masyarakat.

Saat musim penghujan, masyarakat dapat diberikan pelatihan tentang cara membuat sistem pengumpulan dan penyimpanan air hujan, seperti pembuatan bak penampungan air atau sumur resapan. Dengan demikian, masyarakat dapat menampung air hujan yang jatuh di lingkungan sekitar mereka dan menggunakannya saat dibutuhkan. Selanjutnya, pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat dapat memberikan bantuan kepada masyarakat untuk membangun sistem pengumpulan dan penyimpanan air, seperti pembuatan sumur bor atau pembangunan sistem irigasi. Langkah ini tentunya akan sangat membantu masyarakat yang tinggal di daerah yang sulit mendapatkan akses air bersih dan memadai.

Terakhir, masyarakat dapat diminta untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sumber daya air di lingkungan sekitar mereka. Program ini dilakukan melalui pembentukan kelompok masyarakat yang bertanggung jawab dalam menjaga dan mengelola sumber daya air di lingkungan mereka. Dengan memberdayakan masyarakat untuk menampung air, diharapkan ketersediaan air dapat terjaga dan masyarakat dapat terhindar dari masalah kekurangan air saat terjadi gelombang panas atau bencana alam.

Mewujudkan Kendal Smart City

 

Era sekarang, masyarakat dunia sudah dapat dikategorikan ke dalam Revolusi Industri 4.0. Kondisi ini mengacu pada transformasi yang sedang terjadi di sektor industri dan masyarakat secara luas sebagai hasil dari pengembangan teknologi digital, konektivitas internet dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Revolusi Industri 4.0 membawa konektivitas yang luas antara perangkat dan sistem Internet of Things (IoT). Selain itu, artificial intelligence (AI) juga menjadi bagian penting dari Revolusi Industri 4.0 karena dapat memproses dan menganalisis data besar untuk mengambil keputusan secara efektif.

Kondisi ini menstimulus lahirnya konsep smart city alias kota cerdas. Smart city merupakan sebuah konsep pengembangan kota yang mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk meningkatkan kualitas hidup dan efisiensi layanan publik di kota tersebut. Tujuan dari smart city adalah untuk menciptakan kota yang lebih efisien, berkelanjutan, aman dan berdaya saing tinggi. Kota ini juga memfokuskan untuk penggunaan analisis data, AI dan IoT untuk mengoptimalkan layanan publik seperti transportasi, manajemen limbah, ketersediaan air bersih, keamanan publik, dan masih banyak lainnya.

Tidak hanya unggul dari sisi kecanggihan teknologinya, smart city juga mendorong partisipasi aktif warga dan pemangku kepentingan lainnya dalam pengambilan keputusan dan pengembangan kota. Dengan mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi warga, smart city diprediksi dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat. Beberapa konsep smart city yang berhasil ada di dunia adalah seperti Singapura, Seoul, Barcelona, Tokyo, Kopenhagen, Dubai dan New York City. Seperti diketahui, untuk mewujudkan smart city dibutuhkan elemen keterikatan antara ketersediaan infrastruktur publik pendukung, dunia industri dan sumber daya manusia (SDM). Lalu, apakah Kabupaten Kendal memiliki potensi tersebut?

Potensi Kabupaten Kendal

Seperti diketahui, Kabupaten Kendal, yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, tersebut memiliki potensi pada sektor agribisnis, kawasan industri modern, pariwisata, pelatihan, konservasi alam serta kewirausahaan dan industri kreatif. Dengan pengembangan potensi-potensi ini, Kabupaten Kendal memiliki peluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjadikan kendal sebagai daerah yang lebih berdaya saing di tingkat regional maupun nasional.

Dari segi industri startup digitalnya, Kendal juga mulai diperhitungkan di kancah nasional. Beberapa startup dengan valuasi tinggi kini bermunculan dan berpengaruh pada peta inovasi Indonesia. Hal ini tentu menjadi sebuah hal yang perlu diapresiasi. Dari cikal bakal inilah, potensi SDM Kendal dari sisi teknologi digital menjadi sumber kekuatan di masa depan. Bahkan potensi SDM yang dipadukan dengan sumber daya potensial lainnya akan mampu mewujudkan Kendal sebagai smart city.

Implementasi di Kendal

Berdasarkan konsepsi di atas, implementasi smart city di Kabupaten Kendal dapat dikonstruksikan melalui pembangunan infrastruktur digital, yang di dalamnya penguatan jaringan internet yang cepat dan luas, serta peningkatan konektivitas di seluruh wilayah Kendal. Selanjutnya, Kabupaten Kendal harus bekerja sesuai dengan data. Artinya, sensitivitas terhadap big data harus ditekankan dalam merumuskan sebuah kebijakan. Dari sisi transportasi juga perlu dikembangkan sistem transportasi cerdas untuk mengoptimalkan mobilitas di Kabupaten Kendal.

Aspek terpenting lainnya adalah adanya sistem E-Government yang di dalamnya terdapat portal online, aplikasi mobile dan platform elektronik lainnya untuk memudahkan interaksi antara pemerintah dan masyarakat. Sistem ini tentunya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam implementasi layanan publik. Dari sisi keamanan warga juga perlu dilakukan pemantauan CCTV di titik-titik yang rawan kriminal. Selain itu juga perlu dibuat sistem peringatan dini dan penggunaan teknologi untuk mengelola keadaan darurat. Sekali lagi, tujuan dibangunnya sebuah smart city di Kabupaten Kendal adalah untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih efisien, berkelanjutan, aman, nyaman dan berdaya saing.

Senin, 16 November 2020

Edukasi Antikorupsi Melalui Toilet Kejujuran

 


Ikhtiar pencegahan korupsi merupakan suatu hal yang perlu ada di seluruh lapisan masyarakat. Strategi pemberantasan korupsi memerlukan kombinasi yang tepat antara Operasi Tangkap Tangan (OTT) dan konsistensi pencegahan supaya hasilnya dapat optimal. Bila OTT adalah kewenangan dari para penegak hukum, maka pencegahan korupsi bisa dilakukan oleh siapa pun termasuk diri kita sendiri. Kita sebagai masyarakat tentu dapat turut berkontribusi dalam inisiatif pencegahan korupsi, sekecil apa pun itu.

Bila dilihat beberapa tahun ke belakang, format pencegahan korupsi yang cukup populer di masyarakat adalah sebuah inisiatif berupa kantin kejujuran. Kantin kejujuran ini merupakan sebuah gerakan pencegahan korupsi yang digaungkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak tahun 2007. Edukasi antikorupsi melalui kantin kejujuran ini sebagian besar menyasar kepada sekolah-sekolah dari mulai Sekolah Dasar (SD) sampai jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat. Tak hanya pada ranah pendidikan, lembaga pemerintah sampai kantor swasta pun sampai saat ini masih ada yang menerapkan kantin kejujuran.

Keberhasilan kantin kejujuran ini merupakan sebuah bukti adanya harapan bahwa integritas di masyarakat kita masih ada. Kantin kejujuran biasanya akan berhasil dan bertahan lama apabila adanya ikatan saling memiliki yang kuat antar anggota atau konsumennya terhadap fasilitas kantin. Perlu ditekankan, untuk membangun supaya kantin kejujuran dapat berhasil juga bukan perkara yang mudah dan instan. Perlu waktu yang cukup lama supaya konsumen kantin kejujuran merasa sangat perlu untuk berlaku jujur ketika membeli suatu barang. Sampai pada akhirnya kejujuran ini dapat menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Selain itu perlu usaha ekstra dalam mengingatkan pemakai kantin kejujuran apabila omzet dagangan tidak sebanding dengan barang yang terbeli. Semuanya perlu proses yang panjang.

Meskipun dalam praktiknya terdapat banyak tantangan dalam mengimplementasikan kantin kejujuran, namun ternyata dampaknya cukup signifikan apabila diterapkan di masyarakat. Nilai penting dari pelaksanaan kantin kejujuran yakni mengajarkan secara langsung sikap tanggung jawab dan jujur tatkala konsumen ingin membeli produk walau tanpa ada penjaganya sekali pun. Artinya, kantin kejujuran akan membentuk mutualisme beserta rekatnya kohesi komunitas dalam suatu masyarakat.

Saat memanfaatkan kantin kejujuran, budaya self-service atau self-order juga akan turut tumbuh karena masyarakat distimulus untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab. Dalam ranah perniagaan, kantin kejujuran telah terbukti bermanfaat dalam mengefisiensi biaya operasional sebab tidak perlu manpower yang berlebih. Dari sisi hubungan antar personal pengguna kantin, tentunya akan terjalin perasaan kebersamaan.

Inovasi Edukasi Antikorupsi

Setelah lahirnya kantin kejujuran, dapat dilihat bahwa edukasi antikorupsi yang barbasis pada fasilitas publik cukup berdampak positif kepada masyarakat. Di luar sana, masih banyak fasilitas publik yang belum tersentuh dan dimaksimalkan pemanfaatannya sebagai sarana edukasi antikorupsi. Padahal, apabila fasilitas publik tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan tepat maka akan cukup memberikan kontribusi positif terhadap semangat pemberantasan korupsi di Indonesia.

Selain pusat perniagaan, area publik yang pada dasarnya cukup signifikan untuk dibuat sebuah proyek sosial edukasi antikorupsi adalah toilet umum. Kita tahu bahwa toilet umum di Indonesia masih banyak yang dipungut tarif dalam penggunaannya. Sebagian besar juga masih ditunggu oleh penjaga yang duduk di belakang kotak yang berisi uang tarif. Kondisinya pun sebagian besar masih ala kadarnya. Seandainya apabila toilet umum ini bisa dibuat sebuah proyek edukasi antikorupsi, maka kemungkinan akan ada perubahan signifikan yang terjadi pada toilet umum di Indonesia.

Dengan mengadopsi konsep dari kantin kejujuran, maka hal serupa juga dapat diterapkan pada toilet umum. Toilet kejujuran dapat menjadi inovasi dalam edukasi antikorupsi pada fasilitas yang digunakan bersama tersebut. Secara teknis, toilet kejujuran dapat dilakukan pada toilet umum, baik itu di daerah pusat perbelanjaan, sekolah, instansi pemerintahan, kantor swasta, terminal, stasiun, bandara, pelabuhan, tempat wisata sampai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Nantinya, setiap toilet umum yang dikonsepkan (branding) sebagai toilet kejujuran akan memberikan pengumuman bahwa toilet tersebut akan berisi pesan dan semangat antikorupsi di dalamnya. Baik itu dapat berupa kutipan tokoh sampai pada narasi yang membangun pola pikir masyarakat tentang bahaya korupsi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apabila toilet umum tersebut memang ada penjaganya dan menetapkan tarif seperti di terminal ataupun di SPBU, maka harapannya nanti tidak perlu ada penunggunya lagi. Nantinya masyarakat akan diajarkan untuk berperilaku mandiri, jujur dan bertanggung jawab tatkala menggunakan fasilitas toilet kejujuran ini. Tak hanya itu, toilet kejujuran tersebut juga akan dilengkapi dengan fasilitas penunjang kebutuhan kamar mandi yang berbayar seperti misalnya tisu kering, tisu basah, pembalut, popok bayi dan sabun mandi. Pengguna toilet kejujuran dapat memanfaatkan fasilitas tambahan tersebut dengan membayar sesuai dengan daftar harga yang tertera.

Pelaksanaan toilet kejujuran dengan tambahan fasilitas berbayar ini tercatat pernah dilakukan di SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Surakarta sejak tahun 2015. Di SD tersebut, toilet kejujurannya menyediakan kebutuhan pembalut hingga celana dalam yang dapat digunakan oleh siswi ketika mengalami haid di lingkungan sekolah. Sistem pembayarannya pun cukup kekinian yaitu dengan e-money. Selain menanamkan nilai integritas, toilet kejujuran di SD tersebut juga mampu menumbuhkan sikap mandiri dan menyadarkan akan pentingnya menjaga kesehatan pribadi. Tak hanya berpengaruh pada budaya antikorupsi saja, toilet kejujuran juga berdampak positif pada budaya hidup sehat di lingkungan masyarakat.

Hal senada juga dilakukan oleh SMA NU 03 Muallimin Weleri, Kendal. SMA tersebut pada tahun 2020 ini telah menerapkan program toilet kejujuran yang bekerjasama dengan komunitas antikorupsi “Swadaya Kendal”. Melalui program yang diberi nama “Toilet Amanah” ini, SMA NU 03 Muallimin Weleri menjadi pilot project dalam implementasi program toilet kejujuran di lingkungan pendidikan Kabupaten Kendal. Tujuannya ialah untuk menanamkan nilai integritas dan tanggung jawab saat memanfaatkan fasilitas publik, khususnya di toilet umum. Toilet umum tentunya dapat menjadi sarana edukasi supaya masyarakat sadar akan pentingnya sikap tanggung jawab dan jujur ketika menggunakan fasilitas publik.

Ada anggapan yang menyatakan bahwa kebersihan masyarakat bisa dilihat dari kondisi toilet umumnya. Pernyataan tersebut ada benarnya juga. Toilet umum dapat menjadi representasi kualitas kebersihan masyarakat di suatu daerah. Selain itu, ada nilai-nilai tanggung jawab dan keterikatan antar anggota komunitas ketika menggunakan fasilitas umum. Semua itu dapat tercermin pada kondisi toilet umum tersebut.

Tanggung Jawab Terhadap Fasilitas Publik

Toilet kejujuran tidak hanya berdampak positif terhadap perubahan perilaku manusia ke arah antikorupsi saja. Namun, secara nyata program ini juga turut menjaga serta merawat sarana dan prasarana di toilet umum. Masyarakat diharapkan dapat berperilaku tanggung jawab dan jujur dalam memanfaatkan fasilitas publik ini sesuai dengan nilai-nilai antikorupsi. Tak hanya itu, toilet kejujuran juga akan membuat fasilitas pada toilet umum menjadi lebih lengkap. Sebagai sarana edukasi masyarakat untuk membudayakan kejujuran dan tanggung jawab, toilet kejujuran perlu menjadi program nasional seperti halnya kantin kejujuran.

Toilet kejujuran ingin mengedukasi supaya masyarakat semua dapat ambil peran dalam menjaga kebersihan toilet umum. Sekali lagi, fasilitas publik termasuk toilet umum merupakan tanggung jawab kita bersama. Terawat atau tidaknya adalah tanggung jawab kita semua sebagai anggota masyarakat.


Senin, 28 September 2020

BLK: Ujung Tombak Pelatihan Vokasional

 


Era kita saat ini telah mengalami kemajuan yang amat pesat dalam hal kemudahan mengakses informasi. Internet membuat informasi apapun menjadi lebih mudah didapatkan oleh siapa dan dimanapun berada. Dengan berbekal jaringan internet, dunia pendidikan pun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Berkat teknologi internet, pendidikan tatap muka dalam kelas saat ini juga dibarengi dengan fitur online alias dalam jaringan (daring). Hal inilah yang terjadi sekarang, bagaimana internet telah mengubah pola pendidikan di dunia lebih awal pada permulaan dekade 2020.

Tidak hanya pendidikan formal di sekolah saja yang mengalami dampak positif teknologi informasi tersebut, melainkan juga pelatihan kejuruan atau vokasional. Pelatihan vokasional yang biasanya identik dengan praktik secara langsung terhadap bidang pekerjaan tertentu, kini telah merambah ke format daring. Walaupun seharusnya beberapa pelatihan vokasional ini akan lebih optimal apabila langsung diajarkan secara tatap muka. Menurut Ralph C. Wenrich (1974), pelatihan vokasional pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ke dalam tiga aspek, yakni berpikir atau cognitive, berbuat atau psychomotor dan rasa atau affective, sesuai dengan kebutuhan kompetensi pada jenis serta jenjang pekerjaan.

Pelatihan vokasional daring ini bisa menjadi alternatif dan pelengkap training tatap muka. Terlebih ketika Indonesia tengah dilanda pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dan membatasi kegiatan berkerumun di kelas-kelas dan ruangan guna mengurangi angka penularan. Maka cara pelatihan vokasional daring ini dapat menjadi sumber pengetahuan yang utama bagi para pekerja ataupun pencari kerja yang ingin meningkatkan kompetensinya. Meskipun pada saat ini situasi sedang dilanda pandemi, masyarakat masih dapat mengakses pelatihan vokasional di manapun berada melalui koneksi internet.

Tahun 2020, isu tentang pelatihan kerja merupakan bahasan yang sering dibicarakan di masyarakat. Adanya fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pandemi COVID-19 dan pelatihan daring dari Kartu Prakerja merupakan isu ketenagakerjaan menyerap banyak perhatian. Selain itu, serikat buruh yang tergabung dalam Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) juga ingin pelatihan vokasional menjadi Program Strategis Nasional (PSN), supaya pemerintah daerah (Pemda) pro aktif mengadakan kegiatan tersebut.

Selain itu, infrastruktur pelatihan vokasional seperti Balai Latihan Kerja (BLK) yang sudah tua juga perlu direvitalisasi. Begitu pula kurikulum di dalamnya yang perlu lebih menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan industri. Selanjutnya, untuk 1.000 BLK Komunitas yang rencananya akan berdiri di tahun ini juga perlu dikawal pembangunannya. Hal ini dikarenakan rencana besar tersebut kini tentunya juga ikut terdampak oleh adanya pandemi COVID-19 yang semakin memburuk di tanah air. Melihat sulitnya operasionalisasi tatap muka BLK di saat pandemi, pelatihan vokasional daring adalah solusi terbaik untuk saat ini.

Semakin Variatif

Pelatihan vokasional daring cenderung lebih aman dari segi kesehatan saat pandemi ini. Walaupun dari segi signifikansi pelaksanaan pelatihan vokasional tidak sesempurna tatap muka di BLK, pelatihan daring punya keunggulan dari segi variasi materi dan kurikulum di dalamnya. Hampir seluruh jenis pekerjaan yang ada di masyarakat saat ini cenderung tersedia pendalaman materinya. Pekerjaan ‘zaman now’ yang sebelum era pra internet tidak ada, kini tersedia secara online. Walau tanpa praktikum kerja tatap muka yang interaktif, pelatihan vokasional daring memuat banyak materi pembelajaran yang beragam.

Namun pelatihan vokasional secara daring masih terdapat kelemahan, yaitu output pelatihan yang berupa kompetensi atau skill tentunya masih belum maksimal. Pelatihan vokasional daring sebagian besar masih memberikan materi yang sebagian besar bersifat teoretis. Padahal kita tahu, output dari pelatihan vokasional diharapkan menjadi sebuah kompetensi yang didapatkan dari 70% pratikum dan 30% pembelajaran teori.

Mungkin pelatihan semacam itu dapat berlangsung secara maksimal hanya di BLK saja. Ini merupakan kesempatan yang tepat bagi BLK untuk menyesuaikan diri terhadap situasi pandemi ini. BLK bisa mengembangkan pelatihan online lebih baik lagi dengan kursus yang beraneka ragam, sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk materi yang bersifat teoretis, pelatihan akan dilangsungkan secara online. Sedangkan materi yang lebih ke praktikum, pelatihan vokasional akan dilangsungkan secara terjadwal, bergilir dan mengikuti protokol kesehatan. Jadi, pelatihan di BLK yang tatap muka akan lebih fokus ke praktikum saja, untuk saat ini.

Optimalisasi BLK

Meskipun saat ini materi pelatihan vokasional di Indonesia dapat diakes dari berbagai sumber, namun kita perlu ketahui bahwa BLK yang sudah berdiri dan berpengalaman sejak tahun 1970, merupakan ujung tombak utamanya. Momentum era pelatihan vokasional daring ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mengembangkan optimalisasi BLK. Bila BLK mampu berbenah ke arah digitalisasi, berarti akan ada pembaharuan terdadap sarana dan infrastruktur peningkatan kompetensi di Indonesia.

Ditambah lagi, jumlah BLK yang ada juga bakal bertambah secara signifikan di berbagai daerah ini merupakan nilai tambah guna memaksimalkan fungsi BLK di masyarakat. Masyarakat akan lebih mudah mengakses pelatihan pada infrastruktur vokasional pemerintah tersebut. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini, masyarakat butuh pelatihan vokasional khususnya kemampuan untuk berwirausaha. Dengan adanya BLK Komunitas di masyarakat, diharapkan dapat membekali masyarakat supaya tetap bertahan secara perekonomian di masa pandemi.

Kewirausahaan merupakan solusi lain atas permasalahan PHK dan pengangguran di masyarakat saat ini. Di saat pandemi, peran BLK kini menjadi sangat vital. BLK berusaha mengakselerasi pengetahuan dan keterampilan masyarakat supaya tetap bertahan di masa sulit. Selain itu, BLK juga secara aktif memberikan bantuan langsung kepada tenaga kesehatan guna menyuplai Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker dan face shield. Kita tentunya perlu berterima kasih kepada BLK yang telah berinovasi dan berkontribusi besar dalam upaya melawan pandemi COVID-19. BLK yang kita tahu sebelumnya bergerak di ranah edukasi vokasional dan pelatihan kerja, kini memanfaatkan fungsinya sebagai lembaga yang melawan COVID-19. Seperti kita ketahui, BLK beserta alumninya tercatat telah banyak berkontribusi dalam penanganan COVID-19 ini melalui berbagai cara.

Selain itu, BLK Komunitas yang kini berdiri dalam jumlah ribuan juga turut memberdayakan komunitas keagamaan seperti pondok pesantren, serikat pekerja, serikat buruh dan komunitas kesenian. Kesempatan untuk link and match dengan industri yang ada di sekitar BLK Komunitas tentunya akan semakin terbuka lebih lebih luas. Dengan adanya BLK Komunitas, kebutuhan tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi akan lebih mudah diserap oleh dunia industri.

Melalui BLK, pemerintah tidak hanya meningkatkan kompetensi masyarakat dalam keterampilan dunia kerja dan wirausaha. Melainkan, BLK berperan besar dalam upaya pemulihan ekonomi nasional dalam kondisi yang hampir krisis seperti sekarang ini. Kontribusi lain juga datang dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan yang telah menginisiasi program pelatihan vokasional “Indonesia Bekerja” yang bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten dan tersertifikasi, khususnya bagi para pekerja yang mengalami PHK. Dalam hal ini, pelatihan dari BPJS Ketenagakerjaan tersebut dapat dilangsungkan di BLK milik pemerintah.

Kamis, 30 Juli 2020

Inisiatif Positif Rumah Siap Kerja

Wabah Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang melanda dunia saat ini telah berdampak besar terhadap berbagai sektor, terutama bisnis. Efeknya mulai dari beberapa perusahaan lokal maupun multinasional mengalami kebangkrutan, mengurangi jumlah produksi sampai melakukan pemutusan hubungan tenaga kerja (PHK) besar-besaran demi menghemat ongkos operasionalnya. Di Indonesia sendiri problem pengangguran akibat pandemi COVID-19 diperkirakan akan bertambah banyak di sepanjang tahun 2020-2021 ini.

Seperti yang telah dilaporkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) beberapa waktu silam menyebutkan bahwa jumlah pengangguran terbuka diprediksi akan meningkat 4 juta hingga 5,5 juta di tahun 2020. Buruknya, pengangguran tersebut akan kian meningkat sampai tahun 2021 dengan jumlah 10,7 juta hingga 12,7 juta orang. Sebuah angka yang bukan main-main.

Pemerintah pun bekerja keras untuk memulihkan kembali perekonomian nasional di situasi yang serba terbatas ini. Pemulihan perekonomian dan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), keduanya perlu berjalan secara bersamaan. Selain itu, pemerintah juga menggencarkan program untuk meningkatkan kompetensi masyarakat dan semangat kewirausahaan baik secara online maupun konvensional, sebagai strategi yang diharapkan mampu mengatasi persoalan ini. Semua strategi ini kini tengah berjalan dan sekaligus dievaluasi.

Selain itu, tidak hanya sektor bisnis saja yang terdampak akibat pandemi COVID-19, akan tetap juga ranah pendidikan. Seperti kita ketahui bahwa saat ini pembelajaran dalam jaringan (daring) di sekolah dan berbagai pelatihan online menjadi sebuah keniscayaan yang tak dapat dielakkan. Generasi muda kita telah menjelma menjadi ‘baby zoomer’ karena sudah terlalu akrab dengan pembelajaran dan pelatihan virtual ini. Lambat laun, kita pun akan terbiasa dengan kondisi semacam ini. Pembelajaran dan pelatihan daring kini telah menjadi pelengkap sistem pendidikan yang sudah ada.

Begitu pula pada ranah pelatihan kerja dan vokasional. Saat pandemi COVID-19 terjadi, di linimasa media sosial seringkali muncul informasi pelatihan kerja atau training yang berkaitan dengan dunia kerja yang dilangsungkan secara daring. Baik itu pelatihan yang berbayar maupun yang gratis, semuanya telah tersedia. Jadi peserta pelatihan kini tidak perlu datang dan tatap muka secara langsung, karena semuanya bisa dipelajari secara virtual dan dapat menstimulus budaya self-learning di masyarakat.

Sekilas Tentang RSK

Kini, telah banyak wadah yang menyediakan pelatihan daring secara gratis. Salah satu inisiatif yang baik telah dilakukan oleh Rumah Siap Kerja (RSK) yang digagas oleh Sandiaga Uno. RSK secara konsisten memberikan informasi-informasi penting seputar pelatihan di saat pandemi ini. Tentunya informasi ini penting bagi para generasi muda yang ingin memasuki dunia kerja dan meningkatkan professional skill-nya.

Inisiatif RSK ini perlahan-lahan menjelma menjadi sebuah wadah atau komunitas bagi para pencari kerja dan pengangguran yang ingin mendapatkan ilmu secara gratis (walau ada juga yang berbayar). Bagi para pegiat kegiatan sosial, RSK tentu bisa menjadi inspirasi untuk terus melakukan kegiatan yang bermanfaat terutama dalam mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan kompetensi masyarakat.

Inspirasi dan Pelengkap

Hal yang perlu dilakukan saat ini yaitu mensinergikan antara pelatihan konvensional dengan training mutakhir yang mengedepankan teknologi informasi tersebut. Dulu kita kenal ada Balai Latihan Kerja (BLK) yang secara umum berada di tiap kabupaten di Indonesia dengan pelatihan-pelatihan vokasionalnya. BLK juga rutin mengadakan kegiatan pelatihan gratis dengan kurikulum yang sudah terstandarisasi secara nasional. Peran perusahaan yang juga lembaga sosial seperti RSK ini dapat menjadi pelengkap BLK ini dalam upaya peningkatan kompetensi masyarakat dan muaranya ke pengurangan angka pengangguran. Pelatihan yang tidak ada di BLK mungkin bisa diakses ke RSK.

Selama kiprahnya dari awal berdirinya pada 16 Maret 2019, RSK telah memfasilitasi pelatihan soft skill dan hard skill dunia kerja seperti materi dari membuat CV, awal melamar kerja sampai bagaimana caranya untuk memaksimalkan jenjang karir di perusahaan. Kategori karir yang dibahasnya pun sangat beragam, update dan cocok bagi para millenial.

Bimbingan karir, informasi lowongan pekerjaan, pelatihan profesional adalah beberapa materi utama yang menjadi fasilitas RSK. Secara umum, pelatihan tersebut ingin memfokuskan pada peningkatan kualitas SDM anak muda. Cara mengakses pelatihannya juga mudah. Masyarakat dapat langsung datang ke kantor RSK atau mengikutinya melalui video meeting platform yang tentunya mudah diakses. Pelatihan jarak jauh inilah yang memungkinkan di daerah-daerah dapat terkoneksi secara langsung dengan RSK, tanpa adanya batasan.

Langkah RSK ini bisa menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga sosial non pemerintah atau korporat untuk ikut andil dalam upaya mengurangi angka pengangguran di masyarakat. Kita tahu bahwa pengangguran di Indonesia ini tercatat cukup tinggi dengan prediksi yang akan lebih besar lagi di beberapa tahun mendatang. Untuk itu, sinergi antara program pemerintah dan inisiatif masyarakat diharapkan mampu menyelesaikan persoalan ini.


Senin, 13 Juli 2020

Mengapresiasi Krenova



Setiap tahunnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menggelar lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) yang terbuka bagi seluruh kalangan pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum (non dosen). Pelaksanaan Krenova ini tercatat telah dilangsungkan lebih dari sepuluh tahun di Jawa Tengah. Proses seleksinya pun dimulai dari tingkat kabupaten/kota, di mana yang pertama kali menyeleksi adalah tim dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) ataupun Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Baperlitbang) di daerah.

Proses seleksi di kabupaten, terdiri dari seleksi administrasi proposal dan dilanjutkan dengan presentasi di depan para dewan juri yang biasanya berasal dari tiga kalangan: akademisi, praktisi bisnis dan pemerintah. Dari seleksi presentasi ini dipilih lima besar ide terbaik yang akan dikompetisikan ke tingkat provinsi. Pemerintah kabupaten/kota ini selanjutnya mengajukan lima ide ke Krenova tingkat provinsi via online di situs Krenova Jawa Tengah.

Dari semua perwakilan kabupaten/kota yang sudah didaftarkan di tingkat provinsi selanjutnya diseleksi kembali dan dipilih 30 sampai 40 ide yang nantinya akan dipresentasikan di hadapan para dewan juri. Sepuluh pemenang utama akan mendapatkan piagam penghargaan, uang pembinaan dari Gubernur Jawa Tengah dan didaftarkan untuk mendapatkan hak kekayaan intelektual (HaKI). Sepuluh pemenang harapan dan sepuluh pemenang favorit akan mendapatkan piagam penghargaan serta uang pembinaan dari Gubernur Jawa Tengah.

Eksistensi Krenova ini perlu diapresiasi karena pemerintah mampu mewadahi kreativitas dan inovasi dari masyarakat. Artinya, Pemprov Jawa Tengah peduli dengan temuan-temuan mutakhir yang lahir dari masyarakat yang tentunya akan sangat berguna bagi kebutuhan masyarakat itu sendiri. Konsep Krenova ini mirip seperti konsep Kaizen yang dalam bahasa Jepang bermakna "perbaikan berkesinambungan", yang mengedepankan improvement dan innovation dalam melahirkan kreativitas-kreativitas baru bagi khalayak luas. Sama seperti di dunia industri, kehadiran Krenova juga telah menciptakan budaya inovasi di masyarakat.

Budaya Inovasi
Budaya inovasi dalam tatanan organisasi perusahaan begitu penting dilakukan karena akan membuat proses kerja menjadi efektif dan efisien. Begitu pula di masyarakat, perilaku inovatif ini apabila dipupuk dan terus dikembangkan tentu akan melahirkan banyak peluang, terutama dalam aspek peluang bisnis dan entrepreneurship. Di era sekarang ini, kita tahu bahwa bisnis yang besar lahir dari upaya menemukan solusi atas permasalahan di masyarakat. Sedangkan ide dan karya dari Krenova ini sangat berpeluang untuk menjadi besar seperti itu. Tinggal bagaimana cara untuk memaksimalkan pemasaran, menarik investor dan operasionalisasi usahanya, yang kedepannya akan menentukan signifikan atau tidaknya suatu hasil temuan ini. Dalam hal ini, sisi komersialisasi adalah tantangan besar selanjutnya.

Setidaknya, Krenova telah menyumbang cukup banyak inspirasi bagi masyarakat dalam ranah inovasi di bidang pendidikan, rekayasa teknologi, manufaktur, kerajinan, industri rumah tangga serta sosial. Serta tentunya geliat kewiraswastaan di masyarakat akan semakin bertumbuh.
Selain itu, poin yang menjadi tantangan Krenova kedepannya adalah upaya menjaring partisipasi masyarakat Jawa Tengah yang lebih luas. Misalnya saja, apabila dalam satu kabupaten rata-rata yang mengirim proposal sebanyak minimal 50 peserta, maka akan banyak sekali inovasi yang ditampung. Terutama institusi pendidikan SMA atau SMK yang tiap sekolahnya diwajibkan mengirimkan perwakilannya untuk Krenova ini. Budaya riset dan kewiraswastaan pun akan mulai muncul dari bangku sekolahan. Bahkan, kalau memungkinkan Krenova ini perlu diselenggarakan di seluruh wilayah Indonesia.

Saran
Kita perlu mengapresiasi Krenova karena Krenova telah mengapresiasi dan mengangkat kreativitas masyarakat lokal. Saran Bagi Krenova kedepannya adalah membuat pendokumentasian hasil-hasil inovasi setiap tahun dari awal berdirinya sampai saat ini, dalam bentuk jurnal atau video di media sosial. Jurnal tertulis dan video tersebut nantinya dapat diakses oleh publik supaya masyarakat mudah mendapatkan informasi dan rujukan, apakah inovasi tersebut sudah pernah dilombakan atau belum. Hal ini dilakukan guna menghindari repetisi ide yang tertampung. Walaupun saat ini Kita bisa dengan mudah mencari informasi tentang Krenova yang tersebar di belantara dunia maya, alangkah baiknya apabila arsip pendokumentasiannya dapat tersedia secara resmi dalam format digital yang dibuat oleh panitia tim Krenova. 

Selain itu, sosialisasi bagaimana cara membuat proposal ide inovasi yang baik juga perlu dilakukan karena seleksi tahap awal yang cukup krusial adalah administrasi. Supaya kualitas peserta Krenova lebih baik lagi, bagi yang telah lolos tahap seleksi administrasi perlu diadakan pelatihan public speaking, cara menganalisa bisnis untuk keuntungan, rencana yang jelas untuk investor dan pembuatan bisnis model. Apabila hal tersebut dapat dilakukan, kegiatan Krenova kedepannya akan semakin baik.