Ditemani Oleh Buku Ilmiah, Buku Pengisi Waktu dan Musik dari:
Senin, 20 Januari 2014
Sabtu, 18 Januari 2014
Wacana Kecil Irasional
Pusaka merupakan sebuah bentuk irasional. membuat kolektif
gerakan baru dan pencitraan dimana-mana. sungguh oportunis kalian. untuk
rakyat? bah. irasionallah sejak dalam pikiran. kehidupan bukanlah suatu
realitas, karena semuanya diserap oleh aspek-aspek panca indera. alam semesta
memiliki rasionalitas tersendiri. emosional dan kebencian merupakan sesuatu
yang rasional. apa yang dilakukan manusia adalah bentuk rasionalitas dari diri
mereka. apakah kalian terbuka dengan gagasan baru?. apakah kalian terbuka
pikirannya untuk gagasan yang tidak oportunis?. apakah kalian pikir apabila
ingin ada perubahan, kita harus bergerak?. pemikiran logika klasik, modern, dan
postmoderen sama saja..takkan menuai suatu kebaruan..lingkaran benzena akan
muncul..
kebenaran adalah pemikiran sadar kesalahan. kesalahan adalah
pemikiran sadar kebenaran. alam semesta memiliki rasionalitas sendiri diluar
input dari panca indera manusia. irasional yang dimaksud lebih bukan
didefinisikan atas tataran semantik bahasa. absurditas albert camus dan
perkembangan dari Kant kuncinya. akan tetapi paguyuban irasional tetap
orisinal, kami tidak pernah mencomot gagasan mereka..dan kebetulan saja hampir
mirip mereka.. irasional yang dipakai adalah bentuk yang lebih bersahaja..
paguyuban irasional untuk semua makhluk.. salam irasional! bergemalah
ajaran-ajaran irasional. bukan cinta yang menuntut, tapi menuntun : ke 'yang
kita sebut ketidakjelasan'.
Rabu, 18 Desember 2013
Jumat, 01 November 2013
Mukadimah Parsial
(((((bergabunglah dengan kami,
karena cuma kami yang tidak oportunis..mari kita ciptakan masyarakat yang tidak
menjadi budak logika))))). ya gimana yak, cuma pengen bikin paguyuban aja
sih..ga ada alasan tertentu ato pengen bikin sensasi..tenang aja, kami ga
seoportunis itu kok. perang wacana sih boleh-boleh saja, kalo mau diem saja ato
progresif juga ga ada yang ngelarang..untuk kemajuan bangsa? paling juga
oportunis..
Sebagai agen perubahan ato cuma
memberikan sensasi kejut kepada masyarakat, udahlah..ga semuanya yang lo kritik
dan konsepin itu cocok disini. katanya pemikiran dan aksinya sangat canggih dan
kontekstual, tapi saling ngotot-ngototan..ya sama aja pake paradigma purba
dalam adu argumen.. kalo canggih mah menerima apa yang orisinil dan gagasan
baru..bukan dari yang lawas lalu dipaksakan dikontekskan..ga semuanya bisa
disini.
Franz Magnis pernah ambil sari
dari "Law of Three Stages" milik Comte. Apakah kesimpulannya?.
Manusia rasional sepenuhnya adalah manusia ilmiah yang bebas dari mitos, agama,
ataupun metafisika. Hampir seluruh dari kita adalah penganut irasionalitas. Apa
salahnya bergabung dan mengamati dengan tenang?. Kita adalah orang-orang yang
tidak oportunis. Salam irasional!
Kita butuh sesuatu yang orisinal,
bukan adopsi tatatiti dari benua seberang yang dipaksakan
dikontekstualisasikan..keyakinan dalam diri. ketidaksenangan publik tidak perlu
dicari. atensi untuk bergerak kenapa harus dipaksa. semua sudah berjalan
seperti apa adanya. perusaknya adalah kemauan untuk beda. anda semua punya
kepentingan, tak bisa dapatkan semua apa yg anda inginkan. kenapa takut untuk
diam?. ketidaktahuan cuma alasan sombong yang anda keluarkan karena mereka yg
tidak tahu itu beda dari anda. salam irasional!
Pagi rekan sekalian. masih suka
diam dan merenung atau tetap kerja keras mencari status sosial? tidak akan ada
habisnya hehehe. hari ini ada yang mau aksi sama buruh ada yg mau aksi
kesehatan. keinginan begitu banyak tapi semuanya semu kawan. kita selalu
mengejar hal yg didogma oleh orang. padahal itu bukan permintaan kita.
kerumunan fanatik membuat tolol. gagal membentuk gagasan orisinal dari
kompleksnya pemikiran adalah bukti bahwa kita semua cuma pakai kacamata kuda.
orang menolak diam padahal itu adalah awalan. lucu. lucu. lucu.
Selamat pagi salam irasional!
butuh lilin dan kopi lebih banyak untuk renungan panjang malam ini salam
irasional!. kenapa tiap buruh 'ideologis' harus hapal Internationale? lagu itu
enak dan menjual. apakah punk atau rock bentuk perlawanan? omong kosong, itu
semua bentuk adaptasi baru untuk memeroleh keuntungan. kita adalah korban
ekspansi ideologi, materi dan logika...yang tidak tercatat oleh sejarah dan
tidak pernah dikaji hanya akan menjadi bualan. mereka yang tidak pernah
tercatat bagi kalian hanyalah sebuah koloni jamur yang lantas mati tapa
guna...mereka hidup, tanpa keinginan lebih. bungkam segala logika dan
rasionalitas untuk menelisik yang tidak terlihat..pahamilah, keuntungan hanya
menjadi lingkaran benzena saja..
Salam irasional!
Paguyuban Irasional atau Parsial
memang terbentuk pada bulan September 2013 ini karena kesadaran akan pentingnya
gagasan baru yang dituangkan dalam bentuk perkumpulan. Paguyuban ini saat itu
resmi didirakan pada bulan Oktober 2013 oleh pengagasnya adalah Mr. D dan Mr.
T. Secara gagasan dan perkumpulan, kita saling memberikan masukan akan ide dan
konsep perkumpulan tersebut. Kita terbentuk karena kejenuhan terhadap lembaga
yang oportunis yang meneriakkan atas pembebasan namun niatnya bukan itu. Kita hanya
menginginkan manusia yang berkumpul namun tidak memiliki ikatan yang oportunis.
Kita hanya ingin manusia-manusia yang secara sadar ingin berkumpul dan bukan
guna untuk mendapatkan keuntungan belaka. Namun sebisa mungkin, kami akan
fasilitasi seluruh anggota dari Parsial ini dan edukasi melalui Pusat Kajian
Irasional.
Untuk mendaftar keanggotaannya
silakan email ke: parsial2012@gmail.com
atau mention/DM ke akun twitter @PRSIAL
Tinggal masukkan nama anda,
pandangan politik dan hobi anda. Selamat bergabung.
Selasa, 22 Oktober 2013
Pusat Kajian Irasional
Semacam melakukan gerbrakan yang pada dasarnya tidak
mendorong signifikasi jelas. Pastilah itu, karena Puska (Pusat Kajian) ini
dibuat tidak untuk mengembangkan suatu ilmu atau faham tertentu. Hanya saja
ingin memperluas keinginan dan cadangan pengetahuan yang dirasa menarik untuk
digali. Apa saja yang akan dibahas, akan kami fasilitasi demi memuaskan kajian
masing-masing individu. Individu adalah hakiki dan komunal adalah harga mati.
Mengembangkan pemikiran irasionalitas adalah upaya
menguak sisi lain dari diri kita sendiri. Kita tidak menwarkan perspektif yang
canggih dan solutif, namun kita menawarkan suatu gagasan yang secara rasional
tidak penting. Stop, berhentilah berpikir rasional. Ini bukan suatu ancaman
atau sesuatu yang menakutkan, hanya saja alternatif ini akan sayang jika
dilewatkan bagi manusia. Maka dari itu, Puska Irasional ini mencoba memberikan semuanya. Pusat Kajian Irasional ini merupakan bentuk
dari program Paguyuban Irasional yang memfasilitasi segala kegiatan yang akan
dilakukan bagi anggota Paguyuban Irasional.
Senin, 09 September 2013
Paguyuban Irasional (PARSIAL)
Berbagai macam falsafah dalam
hidup ini telah terpatri dalam sebuah gramatical carrier. Berbagai informasi
yang sudah ada sejak jaman dulu, ataupun dari masa depan (jika kita semua
percaya pada kelinieran waktu) mengindikasikan sifatnya untuk terpatrikan dalam
alam bawah sadar manusia. Seakan kita sulit untuk tidak mendapatkan
internalisasi makna dari segala material yang disemiotikakan. Apakah semuanya
harus berjalan seperti itu?. Perlu adanya kroscek untuk melihat fenomena
tersebut. Bahkan saya yang telah diinternalisasikan dari kecil inipun menjadi
salah satu bentuk gramatical carrier dari waktu paralel dan linier bagi
material yang disemiotikakan.
Sudah sewajarnyakah seperti ini.
Bagi kaum radikalis, berbeda dengan kaum non-radikalis. Ada yang tergila-gila
pada suatu tokoh yang tak pernah mati dalam sejarah ingatan manusia. Apakah seperti
itukah hasil yang diinginkan manusia otentik?.
Bahkan pencetus keunikan manusia juga lahir dari pembenaran atas dirinya
yang terpatri oleh gramatical carrier sebelumnya. Sepertinya, kebosanan menjadi
salah satu cara untuk menjadi bosan dan kita menginginkan hiburan. Jika semuanya
berkoar begitu luas, saatnya kita menjadi yang mana seolah-olah tuhan atas diri
kita sendiri meskipun kita masih berkubang dalam pembenaran gramatical carrier
sebelumnya.
Sebuah kubangan informasi dan
penelitian baik jurnal ilmiah maupun jurnal warga yang sangat dibanggakan oleh
fetisis media. Bisakah kita menjadi sekumpulan orang sekarang yang diam dan
hanya mengamati saja. Ini akan sangat menarik, karena meskipun sudah ada yang
mempraktikkan sebelumnya atas nama pembangkangan. Kita melakukan ini hanya
sebuah simbolos dan seremonial tanpa esensi (kalau kata pengetahuan saat ini
yang sangat bisa tergempur oleh kepercayaan manusia setelahnya, sebelumnya,
atau saat ini juga). Berkelimpangan atas nama stabilitas dan demokrasi
informasi, memang kita tidak ditakdirkan untuk berkoloni dengan manusia. Kita menjadi
periset untuk makhluk kita sendiri, layaknya kita meriset degan gaya kaum
evolusionis.
Jadi, tertarikkah anda dengan gerakan yang tidak
bergerak. Dengan keheningan yang tidak hening. Kita memang seharusnya
berkoloni, jika anda menginginkannya. Lalu, kita berdiam diri atas segala
persepsi kita dalam menanggapi sesuau. Bergabunglah dengan kami, (anda dan
segala aspek yang dikatakan manusia sosial) yang menjadi landasan terbentuknya
masyarakat. Biar lebih santai kita sebut sebagai paguyuban, karena lebih tidak
terdidik dan mementingkan pendekatan emosional ketimbang rasional. Mari kita
berkumpul dan diam.
Sabtu, 24 Agustus 2013
Mengukur Kekuatan Opini
Dalam sebuah teks, sedangkal atau
sedalam apa argumentasi kita tergantung dari penafsiran atau kapasitas dari
pembacanya. Bagi pembaca teks yang merasa memiliki kemampuan lebih, akan merasa
teks yang di bawah kemampuan kapasitasnya akan dikatakan sebagai dangkal. Hal yang
sama pula jika si pembaca merasa memiliki kapasitas di bawah penulis. Pada dasarnya,
sedangkal apapun argumentasi kita, itulah yang dinamakan teks.
Kejadian seperti sesat pikir
pastilah ada. Bahkan sebuah teks tidak harus memiliki alur pikir yang jelas. Hal
ini dikarenakan beropini merupakan kegiatan menyampaiakan pendapat kepada
khalayak. Ada yang beranggapan bahwa jika ditujukan oleh publik, kita harus
mengikuti logika nalar publik. Ada juga bahwa bentuk opini hanyalah keluaran
yang bersifat personal dan diungkapkan kepada umum tanpa harapan dari pembuat
opini yang jelas. Opini sebagaian besar adalah sebuah proses penggiringan alur
pikir agar siapapun bisa mengikuti gagasan yang dikehendaki. Hal ini sangat
lekat pada media massa.
Spekulasi akan menyelimuti sebuah
opini. Itu sesuatu yang wajar, karena apa yang diungkapkan dalam opini belum
tentu merupakan buah pikiran yang ingin dikehendaki oleh si pembuat opini. Lalu,
yang akan ditekankan adalah bagaimana sebuah teks, apapun itu, akan memuat
sebuah opini. Tidak peduli tujuan dari penulis untuk apa, melainkan teks itu
sendiri. Teks itu yang akan membicarakan sendiri. Death-of-the-author, sebuah
ide yang dikemukakan oleh kritikus Perancis, Roland Barthes yang mengungkapkan
bahwa sebuah teks mestinya dianggap sebagai hal yang independen dalam dirinya. Pembacaan
atau penerjemahannya merupakan bidang yang penuh permainan tanda. Dengan
demikian informasi dan spekulasi apapun tentang penulis dan niat penulis tidak
lagi relevan bagi siapapun yang membaca teks. Dan, opini memuat dalam kadar
teks. Dan kekuatan opini tergantung dari pembacanya.
Langganan:
Postingan (Atom)













