Senin, 02 Maret 2020
Sabtu, 22 Februari 2020
Album Tentang Kota Terbaik Dekade 2010-an
Perkotaan seringkali menjadi
inspirasi utama seniman dalam berkarya. Kota, di satu sisi merupakan muara dari
harapan manusia untuk memperbaiki kondisi ekonominya dan sekaligus
juga menjadi tempat bersarangnya kriminalitas. Kompleksitas kota
tentunya akan selalu menarik untuk dibahas dalam suatu karya seni. Bisa
dibilang, menceritakan kota berarti menceritakan tentang manusia.
Sudah banyak karya-karya seni
semacam lukisan, puisi, sastra, film dan musik yang terinspirasi dari problem perkotaan.
Sampai kapan pun, fenomena ini tidak akan pernah hilang. Selain cinta, kota
akan terus menjadi stimulus inspirasi utama untuk dituangkan
dalam karya-karya seorang seniman, khususnya bagi musisi.
Dekade 2010 baru saja kita
tinggalkan. Namun ingatan tentang musik-musik yang lahir pada dekade tersebut
masih melekat. Terlebih bagi album-album dengan konsep matang yang mampu
mendeskripsikan suatu ide dengan baik, terutama tentang kota. Berikut ini adalah
dua album yang mampu menarasikan tentang kehidupan kota dengan baik, yang lahir
pada dekade 2010-an. Dua album yang menggambarkan fenomena dua kota besar di
pulau Jawa yaitu Jakarta dan Surabaya.
Bangkutaman - Ode Buat Kota (Jangan
Marah Records/Demajors 2010)
Salah satu karya musik yang patut
disimak yang berhasil menarasikan isu perkotaan di Indonesia adalah album “Ode
Buat Kota” karya Bangkutaman. Album ini lahir pada awal dekade 2010-an dan
menebar pengaruhnya selama sepuluh tahun setelahnya.
Album yang dirilis di bawah naungan
Jangan Marah Records pada tahun 2010 ini berhasil menjadi album terbaik di
tahunnya. Selain itu, “Ode Buat Kota” juga menjelma menjadi representasi
holistik atas fenomena di Indonesia, khususnya masalah hiruk pikik ibukota.
Mendengarkan album “Ode Buat Kota”, kita akan disuguhkan sound ala
The Byrds atau band-band naugan Sarah Records yang pernah berjaya pada tahun
80-90-an.
Seperti diketahui, Bangkutaman
tergolong band senior dengan pengaruh The Velvet Underground, The Mamas and The
Papas, The Corals, Paul Williams dan The Rhythm Kings, yang dibentuk pada tahun
1999 dan diperkuat oleh trio Wahyu Nugroho (vokal, bas), J. Irwin Ardy (gitar)
dan Dedyk Eryanto (drum). Sedangkan “Ode Buat Kota” merupakan karya terbaik
Bangkutaman di sepanjang karirnya, yang sekaligus menjadi penerus semangat para
legenda musik Indonesia seperti Benyamin Sueb, Slank dan Iwan Fals dalam
menyuarakan fenomena sosial di masyarakat.
Hebatnya album ini, Bangkutaman juga
mampu menceritakan kompleksitas kota sampai ke perasaan warga kelas menengahnya
dengan gaya khasnya sendiri. Jika diibaratkan manusia, album ini seperti
seorang wartawan yang bekerja di area megapolitan atau metropolitan yang
liputannya dari menyusuri daerah kumuh sampai kawasan elit sembari mengejar
peristiwa. Intelek bak kritikus atau pengamat tata kota, sekaligus mudah
dicerna seperti bahasa pedagang pasar. Tak heran jika, founder Elevation
Records – label yang merilis ulang “Ode Buat Kota” ke dalam format vinyl 12”
pada tahun 2015, Taufiq Rahman, mengatakan bahwa “Ode Buat Kota” adalah salah
satu album social commentary yang sangat berhasil. Tentu saja,
kekuatan utama mereka pada lirik bertema sosial perihal kerasnya ibukota dengan
balutan musik folk/rock n roll. Saat dirilis ulang pada tahun 2015,
vinyl 12” “Ode Buat Kota” juga diserahkan ke pemerintah DKI Jakarta secara
simbolis di Balaikota.
Nuansa getir album “Ode Buat Kota”
ini mengingatkan pada puisi Kahlil Gibran yang berjudul “Kota”, berikut
petikannya:
Wahai, para penduduk kota yang
mengerikan, yang hidup di dalam kegelapan,
yang mendorong pada kesengsaraan,
mengkhotbahkan dusta,
dan berbicara dengan ketololan…
sampai kapankah kalian akan tetap
dalam kebodohan? Sampai kapan kalian akan tinggal dalam tumpukan
sampah kehidupan dan terus meninggalkan taman-tamannya?
Beberapa lagu kunci pada album ini
seperti track berjudul “Ode Buat Kota” yang bernuansa riang
dengan riuh tepuk tangan dan koor “Na na na na..” seperti
sedang merayakan Jakarta beserta segala isinya. Vice Indonesia pun memasukkan
lagu “Ode Buat Kota” menjadi salah satu lagu terbaik pada dekade 2010-an. Vice
Indonesia menyebut: “Lagu ini karenanya, sukses menjadi anthem terbaik kelas
pekerja, perantau, atau keduanya.”
Simak pada penggalan liriknya yang
sangat merepresentasikan kontur kumuh Jakarta:
"Di sinilah aku dibesarkan
Di hamparan sungai yang kian hitam
Di ujung jalan sempit yang terus
tergenang
Di bawah jembatan kubernyanyi
riang"
Jangan dilupakan bahwa lagu ini juga
menampilkan konsep video klip yang menarik, dengan memperlihatkan wajah
sudut-sudut Jakarta yang biasanya ramai dan padat, kini menjadi sangat sepi
serta tenang. Video klip juga dilengkapi dengan running text yang
berisi data/data statistik/fakta menarik tentang Jakarta. Ini merupakan salah
satu video klip paling ikonik sepanjang dekade 2010-an. Konon, video klip serba
sepi “Ode Buat Kota” ini diambil bertepatan dengan pelaksanaan Solat Ied Idul
Fitri, dan sukses menciptakan kesan bahwa Jakarta ternyata tidak sesemrawut
yang dibayangkan, jika kondisinya sepi. Justru wilayah yang biasanya kumuh dan
padat pun menjadi terlihat tak kalah bagus dengan Orchard Road, Singapura.
Selanjutnya pada lagu “Coffee
People” bercerita soal kehidupan jurnalis. Di awali dengan aktivitas menyalakan
radio tengah malam dan kemudian penyiar radio menarasikan tentang kondisi
pewarta lapangan yang pekerjaaanya sangat beresiko. Sedangkan lagu “Train Song”
memotret kehidupan urban yang sangat melelahkan, pulang kantor tengah malam
dengan waktu yang banyak dihabiskan di jalanan. Kita baru saja istirahat dan
kemudian terbangun kembali untuk bekerja, begitu seterusnya seumur hidup.
Jika ternyata nantinya beberapa
tahun ke depan Ibukota negara jadi pindah ke Kalimantan, “Ode Buat Kota” akan
menjadi album nostalgia yang akan terus diingat. Segala keluh kesah kehidupan
urban pernah termaktub dan diceritakan dengan baik di album ini.
Silampukau – Kota, Dosa dan Kenangan
(Moso’iki Records, 2015)
Dosa, Kota & Kenangan adalah
album yang berhasil menceritakan kota Surabaya dengan sangat baik. Album folk ini
menampilkan musik sendu, kontemplatif dan kadang humoris dengan pilihan nada
penuh candu. Dosa, Kota & Kenangan dirilis pada tahun 2015 di bawah naungan
Moso’iki Records dan telah membawa angin segar pada musik Indonesia kala itu,
mulai dari tema yang diangkat seputar permasalahan sosial sampai ke sudut gelap
sebuah kota.
Berbagai sudut Kota Surabaya
diceritakan dengan menarik melalui alunan gitar, akordeon, piano dan alat musik
tiup oleh duo Kharis Junandharu (vokal/gitar) dan Eki Tresnowening
(vokal/gitar) ini. Hasilnya, album yang sangat lekat dan kohesif antara tema,
lirik dan nada menjadi satu kesatuan yang solid. Seakan kita diajak
berwisata malam hari di Kota Surabaya, yang memuaskan dalam aspek libido dan
tentunya kenangan di sekitarnya. Gang Dolly yang legendaris pun dideskripsikan
pada lagu “Si Pelanggan”. Berikut kutipan liriknya:
“Dolly
Yang menyala-nyala di puncak kota
Yang sembunyi di sudut jalang jiwa
Pria Surabaya
Dulu
Di temaram jambon gang sempit itu
Aku mursal masuk, keluar, dan utuh
Sebagai lelaki”
Kritik sosial dan untaian
permasalahan di album ini juga terdengar lebih matang, dengan gaung yang lebih
mudah diterima serta mudah dipahami. Jangan lupakan juga rima indahnya yang
dibangun dari tata bahasa Indonesia yang baik pula. Sepuluh lagu bergaya folk/world/country di
dalamnya ini ternyata lebih beringas dan punya daya patri di kepala yang kuat.
Lagu-lagu kompleksitas kehidupan ‘dewasa’ semacam “Si Pelanggan” dan “Lagu
Rantau (Sambat Omah)” jangan sampai terlewat. Serta juga lagu tentang kemacetan
di Surabaya dalam “Malam Jatuh di Surabaya”. Tentu ini merupakan album terbaik
tentang Surabaya beserta segala dinamika di dalamnya.
-Therockjournals X
Belantara22 Records-
Selasa, 27 Agustus 2019
PAUD Sebagai Wahana Pengenalan E-Learning
Saat ini kita sudah di penghujung dekade 2010’s yang penuh dengan progresifitas teknologi komunikasi dunia. Selama sepuluh tahun terakhir dari 2010-2019 manusia beradaptasi perkembangan dengan teknologi informasi yang kian sulit dibendung. Kita sekuat tenaga berusaha bagaimana cara mengikuti perkembangan ini dengan baik, tidak tertinggal ataupun terseret. Teknologi komunikasi ini menyebar tidak pandang bulu dan dampaknya begitu terasa. Tidak hanya orang dewasa saja, tapi anak-anak juga ikut larut dalam pusaran akses tanpa batas ini.
Pihak yang paling terdampak oleh terpaan teknologi informasi sedemikian canggih ini adalah generasi alpha yang lahir di antara tahun 2010 – 2024. Generasi ini mendapatkan pengaruh besar atas perkembangan teknologi komunikasi di usia yang masih anak-anak. Cukup besar tantangan yang dihadapi oleh generasi alpha ini. Generasi alpha, khususnya di ibukota, misalnya Jabodetabek atau kota besar di Indonesia lainnya tidak sempat merasakan era transisi teknologi, dari konvensional ke modern atau dari analog ke digital. Berdasarkan riset lembaga penelitian sosial di Australia McCrindle, menunjukkan sekitar 2,5 juta generasi alpha lahir setiap minggu di seluruh dunia.
Dapat dikatakan, generasi alpha ini adalah generasi yang supercepat. Bagaimana tidak, generasi yang lahir saat teknologi informasi sudah tumbuh sangat cepat dalam genggaman. Generasi ini juga yang paling minim angka gagap teknologi alias gaptek-nya. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, generasi alpha adalah generasi yang paling cerdas yang cenderung lebih aktif dalam mengakses informasi apapun dan dimanapun. Ibarat kata, mereka sudah pandai sedari lahir dengan sikap kritis yang tinggi.
Atas terpaan teknologi sedari dini tersebut akan cenderung membuat generasi alpha minim bersosialisasi secara konvensional. Yaitu, intensitas tatap muka dan berinteraksi dengan lingkungan menjadi menurun dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih sering terpapar oleh gadget, karena piranti tersebut sudah cukup memberikan segalanya bagi mereka. Untuk itu, perlu pendidikan terhadap generasi alpha sedini mungkin, supaya intensitas sosialisasi terhadap lingkungan mereka menjadi lebih baik.
Pendidikan Sedini Mungkin
Generasi alpha perlu diarahkan sedini mungkin supaya tidak hanyut dalam putaran roda informasi sekarang ini. Bagaimanapun juga, anak-anak tetap harus di bawah pengawasan orang tua dalam mengakses informasi. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, generasi alpha perlu pendidikan sedini mungkin supaya mereka tidak salah arah dalam memanfaatkan teknologi informasi ini. Hal ini dilakukan supaya pemanfaatan teknologi oleh anak-anak tersebut dapat lebih maksimal dan membawa ke perilaku yang positif.
Salah satu lembaga yang menyediakan pendidikan anak sedini mungkin adalah institusi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dapat dikatakan PAUD adalah lingkungan yang menjadi pintu gerbang paling awal sebuah perilaku anak terbentuk. Tentunya, PAUD yang bermutu akan menyediakan pembelajaran yang baik dan modern yang sesuai dengan perkembangan zaman. Pendidikan anak sedari dini ini akan menentukan masa depan anak ketika remaja dan dewasa kelak. PAUD yang modern, tentunya memiliki pola asuh dan pendidikan yang mutakhir, menyesuaikan dengan perkembangan teknologi.
Seringkali kita dengar pernyataan yang muncul di masyarakat bahwa : “anak jaman sekarang lebih cepat dewasanya”. Pada dasarnya untuk membuktikan ini perlu riset, tapi apabila diamati secara common sense, pernyataan tersebut ada benarnya juga. Bagaimana tidak, sejak kecil generasi alpha sudah terbiasa mengakses rasa keingintahuannya secara mandiri dan mereka cenderung mendapatkan informasi yang jauh lebih beragam dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Arus informasi yang begitu deras ini sudah mereka dapatkan sedari dini, dan hal ini yang mempengaruhi pada perilaku mereka yang cenderung kritis, egois dan instan.
Di PAUD sendiri perlu menerapkan pola asuh dan pendidikan yang menekankan pada hubungan antar individu dengan lingkungan. Hal ini dilakukan untuk menjunjung norma dan etika di masyarakat. Misalnya memberikan pendidikan agama, sopan santun dan menanamkan nilai-nilai kekeluargaan sedini mungkin. Selanjutnya perlu juga untuk mengajarkan supaya anak tidak memiliki pandangan yang instan untuk mencapai suatu tujuan. Ajarkan anak supaya anak memiliki kemauan untuk berjuang, tidak mudah putus asa dan bosan. Dan yang terakhir tentunya, bagaimana mereka dapat bersosialisasi secara etis di masyarakat ini.
Selain masalah pendidikan tentang sosialisasi, perlu juga pendidikan mengenai teknologi beserta pemanfaatannya. Gadget dalam genggaman menyajikan paket komplit dalam kehidupan, yaitu sebuah hiburan yang bebas kapan saja dapat dipakainya secara nonstop. Hal ini yang perlu menjadi perhatian bagi para pengajar di PAUD sendiri. Di PAUD sendiri perlu diajarkan supaya pola pikir anak terhadap gadeget bukan hanya hiburan, melainkan sarana untuk belajar atau bermain permainan yang edukatif.
Dapat dikatakan bahwa, PAUD merupakan wahana perkenalan anak-anak untuk mengetahui e-learning. Hal ini dikarenakan, ketika anak-anak menginjak pendidikan selanjutnya, media pembelajaran akan semakin mutakhir. Tentunya anak-anak perlu diajarkan dengan metode pembelajaran berbasis teknologi dalam genggaman dan serba digital ini. Diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tren positif terkait kebutuhan akan pendidikan online (e-learning). Menurut data Docebo.com, total market e-learning ada US$ 51,5 miliar pada tahun 2016 dengan angka pertumbuhan rata-rata per tahun 7,9% di seluruh dunia (Marketeers, 2016).
Optimalisasi Pengenalan E-Learning
Seperti yang disampaikan oleh Gilbert & Jones (2001) dan Michael (2013), e-learning merupakan segala bentuk aktivitas pembelajaran yang memanfaatkan media elektronik untuk belajar. Hal tersebut sesuai dengan singkatan “E” pada istilah “E-Learning” yang artinya elektronik. Pembelajaran modern ini menjadi penting mengingat saat ini dunia digital membawa perubahan yang besar terhadap cara manusia belajar.
Menurut data elearningindustry.com, industri pendidikan online di Indonesia menempati urutan ke-8 di seluruh dunia. Berdasarkan jumlah permintaan market e-learning setiap tahunnya, yaitu sebesar 25 persen. Lebih besar dari rata-rata di Asia Tenggara sebesar 17,3 persen (Wartakota, 2019). Saat ini, kita dapat belajar dimana saja dan tidak terbatas pada waktu dengan platform digital tersebut. Sehingga, semakin cepat orang belajar dan semakin banyak yang dipelajari, membuat informasi yang diterima menjadi kaya.
Kedepannya, perkembangan teknologi komunikasi akan sangat mempengaruhi gaya belajar anak-anak. Generasi alpha ini pastinya akan lebih cepat mengenal pembelajaran e-learning ketika menginjak pendidikan dasar. Seperti diketahui, sepanjang tanhun 2015-2019 ini telah bermunculan suatu teknologi pembelajaran berbasis online yang menawarkan kemudahan belajar melalui aplikasi. Pembelajaran seperti ini jelas lebih praktis dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, karena anak-anak dapat belajar kapanpun dia mau. Atas teknologi belajar online ini, ruang dan waktu bukan lagi menjadi batasan untuk belajar.
Berdasarkan kebutuhan terhadap akses informasi yang cepat dan berkualitas, mendorong munculnya inovasi dalam dunia pembelajaran. Penggunaan e-learning dalam pembelajaran menurut riset-riset terbaru memberi dampak positif terhadap proses dan hasil belajar. Berdasarkan kajian-kajian, tidak mengherankan mengapa e-learning digunakan oleh berbagai perguruan tinggi dan instansi baik negeri maupun swasta di Indonesia dan mancanegara. Tentunya, pengenalan e-learning ini perlu dilakukan sedini mungkin saat anak-anak di tahapan pendidikan paling awal, yaitu PAUD.
#appletreebsd
Dani Satria
Kendal, Jawa Tengah.
Sumber Referensi:
https://wartakota.tribunnews.com/2017/12/09/indonesia-menempati-urutan-ke-8-untuk-kebutuhan-e-learning diakes pada tanggal 27 Agustus 2019, pukul 16:19 WIB.
https://marketeers.com/e-learning-semakin-diminati/ diakses pada tanggal 27 Agustus 2019, pukul 16:27 WIB
Rabu, 17 Juli 2019
Menggali Potensi Wisata Halal di Kendal
Masih ingat dengan lagu Kota Santri karya kosidah Nasida Ria
asal Semarang? Lagu itu menceritakan tentang daerah Kaliwungu, Kabupaten Kendal
yang sangat kental akan nuansa Islamnya karena memiliki banyak pondok pesantren
(Ponpes). Tak heran, daerah di sebelah barat Kota Semarang tersebut memiliki
santri dari seluruh pelosok nusantara bahkan ada yang berasal dari mancanegara.
Wilayah Kendal yang banyak memiliki pondok pesantren
tersebut, ada segudang potensi yang patut untuk dikembangkan. Dalam lima tahun
terakhir ini, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengembangkan dan menggenjot
sebuah program wisata halal supaya Indonesia dapat menjadi destinasi utamanya
di mata internasional. Hasilnya, di tahun 2019 Global Muslim Travel Index
(GMTI) menobatkan Indonesia sebagai destinasi wisata halal terbaik 2019.
Dalam lima tahun terakhir ini, Indonesia menjadi
satu-satunya negara yang paling progresif dalam mengembangkan destinasi wisata
halal. Indonesia pun mampu mengungguli pesaing utamanya, yaitu Malaysia.
Penilaian ini didasarkan pada empat aspek, yaitu akses, komunikasi, lingkungan
dan layanan.
Lalu, bagaimana dengan Kabupaten Kendal sendiri yang
notabene memiliki kota santri Kaliwungu dan memiliki destinasi wisata alam yang
lengkap? Potensi Kendal atas wisata halal perlu digali lebih dalam. Jika hal ini
berhasil, bukan tidak mungkin Kendal akan mampu menyerap jumlah wisatawan lokal
maupun mancanegara dan meningkatkan pendapatan daerah.
Potensi Kota Santri
Kendal terkedal dengan Kota Santrinya karena terdapat ribuan
Ponpes terutama di Kecamatan Kaliwungu. Secara sumber daya manusianya,
kabupaten ini otomatis lebih mengerti untuk masalah halal dan syariat. Ditambah
lagi, Kendal yang memiliki sejumlah destinasi wisata religi di dalamnya.
Secara letak geografis, Kendal memiliki banyak keuntungan
karena terdapat pesisir pantai sampai kontur dataran tinggi. Wisata alamnya pun
amat beragam, namun sebagian besar masih dinikmati oleh penduduk Kendal dan
sekitarnya saja.
Padahal secara akses transportasi, Kendal saat ini memliki
konektivitas yang luas dan mudah. Kendal yang letaknya di Pantura dan dilewati
oleh Tol Trans Jawa yang menghubungkan antara Jakarta dan Surabaya ini,
sangatlah potensial bagi perkembangan pariwisatanya. Saat ini, dari Jakarta ke
Weleri dapat ditempuh dengan waktu lima jam oleh jalur tol tersebut.
Selain itu, terdapat juga Stasiun Weleri yang aksesnya mudah
dari jalan raya. Stasiun ini hanya disinggahi oleh sebagian besar kereta api
penumpang kelas ekonomi. Begitu pula dengan akses yang mudah menuju ke Bandara
Ahmad Yani Semarang. Semua akses transportasi publik menjadi mudah untuk menuju
Kabupaten Kendal.
Hal yang perlu menjadi catatan bagi pariwisata di Kendal
adalah branding dan promosi untuk
dijual ke publik di luar kabupaten. Ini merupakan tantangan utamanya apabila
semua akses dan destinasi wisata sudah tertata dengan baik. Kemenpar juga perlu
mendorong pengembangan destinasi wisata yang halal di Kendal supaya lebih
tergali potensinya.
Infrastruktur Penunjang
Wisata halal bukan perihal wisata religi saja. Jenis wisata
ini mengedepankan soal pelayanan bagi turis atau pelancong muslim. Bagaimana
caranya saat di tempat wisata, turis tersebut mendapatkan kebutuhan makanan
halal, toilet atau kamar mandi untuk bersih-bersih dan musholla untuk
beribadah. Jadi, selama ke tempat wisata tersebut seorang muslim dapat
beribadah dengan tenang.
Misalnya di tempat wisata wisata favorit seperti Pantai
Sendang Sikucing, perlu dibangun infrastruktur kamar mandi atau bilas yang
dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, disana juga perlu
dibangun musholla yang khusus untuk wisatawan supaya mereka tidak kebingungan
ketika hendak beribadah.
Mengingat sasaran pengunjung utama wisata halal adalah
muslim, alangkah baiknya dibangun perhotelan atau penginapan syariah. Bahkan di
negara yang mayoritas beragama non-muslim pun sudah banyak yang menerapkan
prinsip halal bagi turis muslim, termasuk untuk penginapannya.
Kaliwugu sebagai Kota Santri, perlu menjadi ikon kota halal
di Indonesia. Pusat Ponpes itu bisa menjadi percontohan dalam menggelar bazar
makanan halal ataupun festival halal berskala internasional untuk menarik minat
wisatawan mancanegara setiap tahunnya.
Wisata halal merupakan tren gobal yang perkembangannya harus
terus diikuti. Seharusnya Indonesia melalui Kabupaten Kendal dapat melihat
peluang pasar bagi destinasi wisata yang pelayanannya terjamin halal. Saat ini
halal bukan hanya sekedar kebutuhan umat Islam, melainkan sudah menjadi
tren global yang bersifat universal.
Peneliti Forum
Demokrasi Rakyat Madani (FDRM)
Warga Kabupaten
Kendal
Optimalisasi Sinergi BLK
Masalah pengangguran masih menjadi isu yang krusial yang
dihadapi oleh bangsa Indonesia. Meskipun dari tahun ke tahun, angka
pengangguran tercatat turun oleh pemerintah. Badan Pusat Statistik (BPS)
mencatat bahwa per Februari 2019, angka pengangguran turun menjadi 6,82 juta
orang dari sebelumnya pada Februari 2018 sebanyak 6,87 juta orang dan 7,01 juta
orang pada Februari 2017. Dari tahun sebelumnya, pada Februari 2019, jumlah
pengangguran berkurang sebanyak 50 ribu orang.
Berdasarkan jenjang pendidikannya, penyumbang angka
pengangguran terbesar masih didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK). Hal ini masih menjadi menjadi tren dari tahun-tahun sebelumnya. Maka
dari itu, perlu berbagai upaya untuk mengurangi angka pengangguran ini, salah
satunya yaitu memaksimalkan fungsi Balai Latihan Kerja dengan mensinergikan
dengan pihak swasta atau industri.
Sinergi BLK dan SMK
Sebagai penyumbang angka pengangguran tertinggi, lulusan SMK
perlu memaksimalkan fungsi di kota dan derahnya masing-masing. Hal ini
dikarenakan, fungsi BLK di daerah dan kota belum difungsikan secara maksimal
oleh para lulusan SMK. Maka dari itu Fungsi BLK juga perlu dioptimalisasikan,
supaya dapat berperan aktif merekrut para peserta pelatihan lebih banyak. Tidak
hanya itu, instansi pendidikan juga perlu mendorong supaya para peserta
didiknya, khususnya SMK agar dapat memperoleh sertifikasi dan pelatihan di BLK.
Di SMK sendiri juga perlu adanya evaluasi terkait
optimalisasi dan efektivitas hasil pendidikan di SMK bagi pasar dunia kerja.
Meski begitu, masih ada peluang untuk menambah keterampilan siswa SMK melalui
BLK. Sosialisasi supaya siswa SMK mau mengikuti pelatihan di BLK pun harus
dimaksimalkan dan digencarkan juga.
Setelah BLK menjadi banyak peminatnya, saatnya melakukan
evaluasi terhadap kurikulum yang ada. Kurikulum dan materi pelatihan di BLK pun
seharusnya juga tetap harus diupdate dan terus diperkaya menyesuaikan kebutuhan
industri-industri supaya lulusan SMK dapat terserap secara maksimal. Kurikulum
harus mengikuti mengikuti kebutuhan pasar yang lebih modern, misalnya
keterampilan menjadi sales, marketing, driver dan messenger atau kurir yang
sifatnya aplikatif di industri retail, ekspedisi maupun keuangan.
Dengan kurikulum yang lebih beragam, maka masyarakat juga
akan memiliki banyak pilihan pelatihan yang akan digelutinya. Terlebih bagi
angkatan kerja baru untuk generasi milenial, mereka pastinya mempunyai
pandangan yang berbeda terkait dunia kerja dibandingkan generasi sebelumnya.
Sinergi BLK dan
Swasta
Setelah itu, BLK juga perlu bekerjasama dengan lembaga
rekrutmen dan training swasta atau perusahaan yang bergerak di bidang jasa
rekrutmen pegawai yang memiliki banyak mitra perusahaan. Atau mungkin juga bisa
bekerjasama dengan head hunter yang menawarkan banyak pekerjaan bagi para
pencari kerja. Selain dapat menjembatani antara pencari kerja dengan
perusahaan, lembaga pelatihan swasta juga dapat meningkatkan kualitas pencari
kerja.
Sinergi antara BLK dengan swasta juga perlu ditingkatkan.
Keduanya harus sama-sama berperan aktif dalam menciptakan pelatihan kerja
berkualitas dan tepat guna. Selain itu, perusahaan juga perlu ikut berperan
aktif dalam penyusunan kurikulum di BLK. Hal ini dilakukan supaya kompetensi
sumberdaya manusia (SDM) di sekitar wilayah perusahaan tersebut dapat meningkat
sesuai dengan kebutuhan pasar.
Kerjasama antara BLK dengan swasta adalah investasi sumber
daya manusia bagi perusahaan. Dengan pemberian modul atau kurikulum pelatihan
ke BLK, perusahaan dapat menghemat biaya training atau meringankan dalam
kegiatan rekrutmennya. Peran aktif perusahaan ini akan sangat besar manfaatnya
demi meningkatnya kualitas SDM yang siap pakai di dunia kerja.
Misalnya, untuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau
perushaan swasta lokal dapat berkontribusi dalam memberikan modul pelatihan
(training) perusahaan ke BLK setempat. Begitupun sebaliknya, dari BLK daerah
juga terdapat sinergi yang aktif dengan perusahaan dalam tukar informasi materi
pelatihan tersebut.
Penyiapan tenaga produktif dan berdaya saing melalui
pendidikan dan pelatihan vokasional terus dilakukan demi menghadapi bonus
demografi. Salah satunya melalui sinergi antar sektor dengan penguatan
pendidikan vokasional di dalamnya. Pengembangan SDM melalui revitalisasi
kualitas pendidikan vokasi terus dipacu pemerintah sesuai dengan Roadmap
Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Pelatihan Vokasi 2017-2025.
Langganan:
Postingan (Atom)





