Kamis, 29 April 2021

Sekilas Tentang Giro Wadiah

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengelolaan keuangan syariah. Dengan poulasi umat muslim sebesar 207 juta ini, tentunya Indonesia sangat mungkin untuk menjadi pusat serta mercusuar ekonomi dan keuangan syariah dunia. Saat ini, kondisi keuangan syariah di Indonesia masih kalah dengan layanan perbankan konvensional apabila dilihat dari segi market share. Namun, lambat laut sektor keuangan syariah di Indonesia sedang berkembang, walaupun sempat di tengah badai krisis di tahun 2020. Tercatat, jumlah aset perbankan syariah pada Desember 2020 meningkat menjadi Rp 608,9 triliun atau naik dari Desember 2019 sebesar Rp 538,32 triliun. Ini adalah sebuah angka yang sangat fantastis.

Kita tahu bahwa selama pandemi Covid-19, sektor ekonomi dan keuangan syariah mampu bertahan di tengah ancaman krisis. Tidak hanya itu, sektor keuangan syariah juga mampu tumbuh cukup tinggi di tengah pandemi Covid-19 ini. Seperti diketahui, penyaluran pembiayaan perbankan syariah per Oktober 2020 tumbuh 9,12% year over year (yoy) dengan total aset keuangan syariah Indonesia yang juga naik 21,19% yoy. Dari data terkini pun menunukkan bahwa pangsa pasar keuangan syariah mampu mencapai 9,79% dari total aset keuangan nasional.

Selain itu, keuangan syariah menjadi primadona karena penduduk Indonesia mulai sadar akan pentingnya menegakkan syariat islam. Terlebih, karena Indonesia perlu menerapkan prinsip-prinsip halal dalam aspek kehidupan terutama pada aspek keuangan. Menurut pengamatan saya, tonggak sejarah keuangan syariah yang paling monumental adalah saat berdirinya Bank Syariah Indonesia (BSI) pada 01 Februari 2021 yang merupakan merger dari Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRIS), Bank Syariah Mandiri (BSM) dan BNI Syariah.

Ditambah lagi dengan pendirian BSI tersebut, Indonesia kini menjadi negara yang semakin peduli akan potensi keuangan syariah yang halal menurut syariah islam. Apabila hal ini dapat berhasil, maka Indonesia akan menjadi negara terbesar yang menerapkan prinsip keuangan halal di dunia. Keuangan halal adalah jalur pembuka agar potensi bisnis halal di Indonesia menjadi lebih tergali. Misalnya saja, kedepannya Indonesia akan menjadi destinasi utama wisata halal dunia yang di dalamnya terdapat elemen-elemen halal lainnya.

PT. Bank Syariah Indonesia Tbk yang telah mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan bukti bahwa produk keuangan syariah merupakan unggulan di masyarakat. Bagi saya sendiri, produk bank syariah yang menjadi prioritas untuk saya gunakan saat ini adalah giro wadiah. Menurut saya, dengan kita memakai layanan giro wadiah, kita sudah tergolong bijak dalam mengelola keuangan pribadi. Hal ini dikarenakan kita menjadi tidak akan mudah menghabur-hamburkan uang dan kondisi keuangan cenderung akan lebih terjamin di masa depan. Bagi anak muda, giro wadiah sangat disarankan untuk dimanfaatkan.

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.2/9/2000, wadiah merupakan perjanjian penitipan dana antara pemilik dana dengan pihak penerima titipan yang dipercaya untuk menjaga dana tersebut. Secara spesifik, produk wadiah dapat berupa misalnya giro wadiah, tabungan wadiah dan sertifikat wadiah Bank Indonesia. Sedangkan giro wadiah, sifatnya berupa titipan uang di bank syariah dan dapat diambil kapan saja atau on call.

Giro wadiah sendiri pelaksanaannya mengacu pada QS Annnisa (4):29 yang berbunyi “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” Berdasarkan ayat tersebut, giro wadiah tergolong produk bank syariah yang sesuai dengan ketentuan agama karena pengelolaan dananya sesuai dengan prinsip akad wadiah yad dhamanah. Selain itu, Dewan Syariah Nasional juga telah mengeluarkan fatwa Nomor 01/DSN-MUI/VI/2000 tentang giro yang dibenarkan secara syariah adalah giro yang dijalankan berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah. Artinya, dana tersebut adalah murni titipan dari nasabah kepada bank dan tentunya dapat diambil sewaktu-waktu dengan menggunakan media cek maupun bilyet giro.

Tentunya banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan ketika menggunakan produk giro wadiah. Misalnya saja, bila kita akan mendapatkan nisbah atau proporsi bagi hasil yang kompetitif dan saldo rekening yang terjamin karena telah terdaftar di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Secara administratif, kita akan mendapatkan fasilitas autodebet dengan rekening koran yang dikirim setiap bulannya. Tak hanya itu, kita bisa menggunakan fasilitas rekening gabungan (joint account) apabila membutuhkannya. Pemanfaatan giro wadiah secara cerdas akan membuat perencanaan keuangan kita di masa depan akan membuat sejahtera.

Pada umumnya, masyarakat menggunakan giro wadiah untuk keperluan investasi. Bila anda adalah nasabah perseorangan, anda berhak mendapatkan bonus nasabah giro apabila memiliki saldo rata-rata harian dalam satu bulan minimal sesuai yang ditetapkan oleh bank syariah, dengan nisbah biasanya sebesar beberapa persen. Jadi jika ada punya modal yang cukup atau mau berniat untuk membuka giro wadiah, maka ini adalah kesempatan yang sangat besar untuk investasi di masa depan. Untuk registrasi giro wadiah sangatlah mudah, karena anda cukup melengkapi berkas form aplikasi pembukaan rekening, KTP, SIM atau Paspor yang masih berlaku, NPWP dan tidak tercantum dalam Daftar Hitam Bank Indonesia.

Produk bank syariah giro wadiah ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh penduduk Indonesia tanpa terkecuali. Bagi yang beragama non muslim pun bisa menggunakan layanan ini pada bank syariah. Bagi saya, giro wadiah adalah produk yang sangat saya rekomendasikan dan tentu saja cocok untukku. Tidak hanya bermanfaat untuk saya, giro wadiah juga bermanfaat untuk semua.

 

Daftar Referensi:

1.      https://finansial.bisnis.com/read/20201229/231/1336724/bos-ojk-alhamdulillah-industri-keuangan-syariah-tumbuh-tinggi-di-masa-pandemi diakses pada 21 April 2021 pukul 21:01

2.      https://bisnis.tempo.co/read/1441464/sri-mulyani-sebut-sektor-keuangan-syariah-mampu-bertahan-di-tengah-pandemi diakses pada 21 April 2021 pukul 21:22

3.      https://newssetup.kontan.co.id/news/pandemi-covid-19-telah-berdampak-terhadap-kinerja-ekonomi-dan-keuangan-syariah?_ga=2.21414335.522081692.1619073093-1801878608.1609843485 diakses pada 21 April 2021 pukul 21:10

4.      https://www.medcom.id/ekonomi/keuangan/4KZz8YqK-pandemi-covid-19-momentum-tumbuhkan-ekonomi-syariah?__cf_chl_jschl_tk__=30f6ce1736573a59a0d3700aeb07dc44f3b71c8f-1619093010-0-ATcN003kAhJvJv_71C21GKZ-IIqzBLXrk3y0rHpnTSrFRvf-hP_Fekcl4rULsfa6HxXlIjbYik9PDv-XOh3S6Ev0ZS19enaor0ijxhBU1alVx5K6nliS0ZdQo6jHieKPCnqKqRpHdNC9AM8krPYmOlwVnutOogB9RUSWgmtuegxa5Ukmm52MdcyCWUcPhof5WMO1jsMNmqv4yJQpMOFw39Z-ta67XLRiFH9OSpcEBX6G5JYn0XIP_F8EzAtPPPfd2739B4L9Kipc44XnNaiPdRMHuI1JGB_44YhVnNlO0EVGUxPIGA1vYuKBXMJo96NKxn0rviOkJFtyKqhLLJRXcKxgomofMZyJ-PEuSOnkbUKVg3HVQkkRnPtq4pu2860ocgeBAlZSOO_lv5B12YsTG5qM-v0jLezsmyKfUwzZlUIQGVotO4EB8FNORA-w5Le6t9ghCgq_5nzv7JtsISoEV-X1G2AuB4CGcTpsqQHRO_G_ diakses pada 21 April 2021 pukul 21:09

5.      https://www.beritasatu.com/ekonomi/725685/industri-keuangan-syariah-tumbuh-di-masa-pandemi diakses pada 21 April 2021 pukul 21:07

6.      https://finansial.bisnis.com/read/20210225/231/1360747/ojk-bank-syariah-agresif-saat-pandemi-pembiayaan-naik-8-persen diakses pada 21 April 2021 pukul 21:05

Jumat, 19 Maret 2021

Implementasi Infrastruktur Reaktor Biogas Kubah Beton di Desa Terpencil

Sejak tahun 2015, pemerintah telah berkomitmen besar dalam merealisasikan program desa berlistrik yang merata di seluruh nusantara. Harapannya, sebanyak 82.190 desa di seluruh Indonesia telah berlistrik di tahun 2020. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mendata bahwa di tahun 2016 ada sekitar 2.519 desa yang masih gelap gulita atau belum berlistrik sama sekali. Sedangkan ada sekitar 12.000 desa belum teraliri listrik dengan baik dan sebagian besar di daerah terpencil.

Namun Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyajikan data yang berbeda terkait desa berlum berlistrik, berdasarkan hasil survei mandiri. Pada tahun 2017, PLN menyebutkan ada 3.883 desa yang belum berlistrik di Indonesia. Sebagian besar tetap ada pada wilayah terpencil. Artinya, jumlah ini membengkak 1.364 desa dari data Kementerian ESDM atau sebesar 1,5 kali lipat dari data kementerian. Walaupun ada perbedaan data dari kedua instansi tersebut, namun kita bisa menyimpulkan bahwa kondisi elektrifikasi yang berkelanjutan di desa terpencil adalah problematika bangsa yang harus segera diselesaikan.

Jika kita mengacu kepada data dari Kementerian ESDM sebagai tolok ukur progres pengentasan desa belum berlistrik, maka pada tahun 2020 prestasi pemerintah sudah cukup membanggakan. Tercatat per   April 2020 rasio elektrifikasi telah mencapai 98,93%. Kini hanya tinggal 433 desa yang masih menjadi perhatian utama untuk dialiri listrik agar di tahun 2021 rasio elektrifikasinya mencapai 100%. Hal ini berarti bahwa poin nawacita energi berkeadilan yang bertujuan untuk menyediakan energi (available) dengan harga terjangkau (affordable) bagi seluruh rakyat Indonesia akan tercapai dengan adil dan merata, terutama pada perihal elektrifikasi.

Lalu, pemerintah perlu membuat rencana lanjutan setelah rasio eletrifikasi telah mencapai 100% tersebut. Pertama, perlu dilakukan identifikasi secara jelas apakah elektrifikasinya berkelanjutan. Kedua, mengupayakan ketersediaan energi listriknya tidak terputus-putus. Ketiga, harus ada evaluasi yang menjelaskan adanya implikasi positif terhadap kesejahteraan rakyat, iklim usaha dan pertumbuhan ekonomi. Apabila ketiga hal tersebut setelah dievaluasi dan didapati hasil bahwa ternyata elektrifikasinya belum berkelanjutan, maka kita tentu memerlukan strategi baru beserta pendekatan teknologi yang tepat, guna membantu ketersediaan tenaga listrik di pedesaan.

Meskipun pemerintah telah mencanangkan program peningkatan kapasitas listrik sebesar 35.000 MW guna melisitriki desa yang belum terlistriki, nampaknya kita masih tetap memerlukan alternatif sumber elektrifikasi yang dapat dibangun di pedesaan terpencil. Pembangunan infrastruktur energi alternatif ini tentunya dapat dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT Hutama Karya yang telah teruji dalam pengembangan kawasan dan infrastruktur energi sampai pengolahan limbah. Harapannya, PT Hutama Karya bisa membantu memaksimalkan rasio elektrifikasi yang telah mencapai 100% ini agar lebih optimal lagi dan dapat dinikmati oleh masyarakat desa terpencil.

Urgensi Reaktor Biogas di Desa Terpencil

Berdasarkan riset PLN dan wawancara kualitatif saya dengan kawan yang berada di daerah terpencil, didapatkan informasi bahwa elektrifikasi masih belum optimal. Di dearah luar pulau Jawa dan Sumatra masih banyak desa yang mengalami gangguan listrik setiap hari. Mati lampu pun sudah menjadi makanan sehari-hari. Terutama pada daerah terpencil yang berada di pulau-pulau kecil. Hal ini merupakan tantangan negara saat ini, karena untuk Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19 membutuhkan koneksi internet yang stabil dan tentu saja elektrifikasi yang mumpuni.

Melihat fenomena tersebut, kita memerlukan infrastruktur energi alternatif yang sangat mungkin untuk diterapkan pada desa terpencil di Indonesia. Diketahui, rata-rata desa terpencil di Indonesia memiliki demografis yang lebih agraris ketimbang di Pulau Jawa dan Sumatera. Artinya, kita membutuhkan energi alternatif yang bersumber pada potensi desa terpencil tersebut yang sebagian besar masih didominasi oleh sektor pertanian, perikanan dan peternakan. Dari semua energi alternatif yang ada, biogas adalah yang paling memungkinkan untuk diimplementasikan di desa terpencil tersebut. Maka dari itu, keberadaan reaktor biogas di pedesaan menjadi suatu infrastruktur yang penting untuk dibangun guna kebutuhan elektrifikasi yang berkelanjutan.  

Residu dari hasil pertanian seperti sampah organik tentu saja bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas. Selain itu sisa produk peternakan seperti kotoran ternak sapi, babi, kuda, kambing, kerbau sampai ayam juga sangat tepat sebagai bahan baku utama biogas. Tidak hanya itu, gulma-gulma dari pertanian pun bisa dimanfaatkan, misalnya saja eceng gondok yang memiliki kadar hemiselulosa dan selulosa yang tinggi. Intinya, semua sampah organik dan kotoran hewan tersebut dapat diproses fermentasi untuk dijadikan biogas.

Lalu, untuk mengolah sampah organik dan kotoran hewan tersebut diperlukan infrastuktur berupa reaktor biogas yang berjenis kubah beton atau fix dome. Reaktor kubah beton ini dipilih karena kondisi infrastrukturnya yang sangat kedap sehingga dapat memaksimalkan produksi biogas yang lebih efektif dan melimpah. Infrastuktur ini sangat cocok untuk mengurai dan mengolah sampah organik serta kotoran ternak agar lebih efisien sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh warga. Selain itu, reaktor kubah beton ini cukup kokoh dalam segala cuaca, iklim serta kontur tanah. Sehingga, bangunannya akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan reaktor yang bukan kubah beton.

Jadi apabila dibangun pada desa terpencil yang kontur tanahnya tidak rata, reaktor kubah beton ini akan lebih awet. Terlebih, reaktor jenis ini juga minim perawatan dan punya ketahanan sampai 25 tahun dibandingkan reaktor yang biasa. Meskipun dari segi pembangunannya relatif lebih sulit dibandingkan dengan reaktor biogas biasa, nyatanya reaktor kubah beton punya segudang manfaat terutama sebagai pusat energi alternatif yang tentunya dapat dimanfaatkan untuk elektrifikasi. Tentunya, PT Hutama Karya sebagai BUMN yang telah berpengalaman dalam bidang infrastruktur, harapannya dapat merealisasikan proyek reaktor biogas kubah beton ini bagi desa terpencil yang masih belum optimal elektrifikasinya.

Pemanfatan Energi Biogas

Bagi desa terpencil, energi biogas dapat dimanfaatkan ke berbagai macam hal. Misalnya saja sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah dan batu bara di rumah tangga. Sedangkan yang paling krusial untuk pemanfaatannya adalah untuk penerangan dan menjadikannya sebagai listrik melalui generator listrik. Tentu hal ini dapat dilakukan dengan cara mengonversinya terlebih dahulu agar biogas dapat menjadi energi listrik. Hal yang umumnya perlu tersedia adalah generator listrik berbasis mesin uap.

Secara sederhana, prosesnya diawali dengan pembakaran biogas yang mengandung metana (CH4), sehingga menghasilkan udara yang sangat panas. Udara panas tersebut dibuat untuk membuat air panas, sehingga menghasilkan aliran uap bersuhu tinggi. Aliran uap bersuhu tinggi ini tentunya akan bertekanan tinggi, sehingga akan dapat menggerakkan turbin dengan rotasi yang cepat. Turbin yang terinduksi magnet akan dapat menghasilkan listrik yang dapat dimanfaatkan untuk penerangan dan menghidupkan berbagai alat elektronik, termasuk gawai.

Dalam jurnal tahun 2013 yang berjudul Biogas digester as an alternative energy strategy in the marginal villages in Indonesia, disebutkan bahwa untuk merealisasikan proyek biogas di pedesaan diperlukan dukungan dalam hal kearifan lokal (local wisdom), semangat juara (the spirit of the championship), kepemimpinan informal yang kuat (strong informal leader), dukungan finansial pemerintah (government financial support) dan teknologi hijau (green technology). Artinya, setiap elemen masyarakat harus berperan aktif, sedangkan pemerintah juga perlu meningkatkan pengetahuan masyarakat agar proyek implementasi biogas sebagai alternatif ini dapat berhasil.

Sedangkan dalam jurnal tahun 2015 yang berjudul Benefits of Rural Biogas Implementation to Economy and Environment: Boyolali Case Study menjelaskan tentang manfaat biogas yang dapat mengurangi biaya energi rumah tangga. Berdasarkan penelitian tersebut juga dengan jelas menunjukkan bahwa penggunaan biogas secara signifikan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan dapat memperbaiki kondisi lingkungan. Maka dari itu, pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) perlu mempercepat dukungan mereka dalam pengembangan biogas.

Hal yang sama juga diungkapkan dalam jurnal tahun 2015 yang berjudul Biogas Production in Dairy Farming in Indonesia: A Challenge for Sustainability, yang menyatakan bahwa manfaat biogas yang begitu banyak ini juga akan berpengaruh pada sektor agribisnis, terutama peternakan. Secara langsung, biogas berperan penting dalam mendukung dan memastikan sektor peternakan sapi perah tetap berkelanjutan karena ada hubungan mutualisme di antara keduanya. Jadi, mendukung implementasi biogas berarti mendukung sektor peternakan nasional.

Daftar Pustaka

1.    Purwono, Bambang Sugiyono Agus, Suyanta dan Rahbini.2013.Biogas digester as an alternative energy strategy in the marginal villages in Indonesia.Malang: Elsevier

2.    Hnyine, Zakaria Tazi, Saut Sagala, Wahyu Lubis dan Dodon Yamin.2015. Benefits of Rural Biogas Implementation to Economy and Environment: Boyolali Case Study. Surakarta: Forum Geografi

3.    Wahyudi, Jatmiko, Tb. Benito Achmad Kurnani dan Joy Clancy.2015.Biogas Production in Dairy Farming in Indonesia: A Challenge for Sustainability. Int. Journal of Renewable Energy Development

Daftar Referensi

1.    https://ebtke.esdm.go.id/post/2020/04/08/2527/pemerintah.kejar.elektrifikasi.433.desa.di.wilayah.timur (diakses pada tanggal 17 Februari 2021, 22:20 WIB)

2.    https://www.esdm.go.id/id/berita-unit/direktorat-jenderal-ketenagalistrikan/strategi-pemerintah-capai-rasio-elektrifikasi-99-di-tahun-2019 (diakses pada tanggal 17 Februari 2021, 23:10 WIB)

3.    https://ebtke.esdm.go.id/post/2020/04/08/2527/pemerintah.kejar.elektrifikasi.433.desa.di.wilayah.timur (diakses pada tanggal 17 Februari 2021, 23:15 WIB)

4.    https://www.esdm.go.id/id/berita-unit/direktorat-jenderal-ketenagalistrikan/strategi-pemerintah-capai-rasio-elektrifikasi-99-di-tahun-2019 (diakses pada tanggal 17 Februari 2021, 23:30 WIB)

5.    https://setkab.go.id/tahun-2020-pemerintah-rencana-melistriki-433-desa-dan-4-191-rumah-tangga/ (diakses pada tanggal 17 Februari 2021, 23:40 WIB)

6.    https://industri.kontan.co.id/news/belum-berlistrik-pemerintah-kejar-elektrifikasi-433-desa-di-wilayah-timur (diakses pada tanggal 17 Februari 2021, 23:54 WIB)

Sabtu, 13 Februari 2021

Tren Tanaman Hias dan Upaya Menyelamatkan Bumi

 

Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) yang terjadi di tahun 2020 telah mengubah gaya hidup masyarakat secara menyeluruh. Masyarakat yang semula memiliki tingkat mobilitas tinggi, kini mendadak bergerak perlahan bahkan terhenti demi mengurangi tersebarnya virus Covid-19. Virus ini telah membatasi gerak manusia di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Saat pagebluk terjadi, gaya hidup masyarakat global pun berubah drastis termasuk dalam hal hobi.

Imbas seringnya aktivitas di rumah menyebabkan hobi menanam serta merawat tanaman menjadi meningkat. Baik itu menanam tanaman hias di teras atau pekarangan rumah, sampai ada juga yang berinisiatif membuat hidroponik dan aquascape. Ketiga hobi tersebut merupakan kegemaran masyarakat yang baru selama pandemi ini berlangsung. Sedangkan tulisan kali ini akan lebih membahas tentang tren tanaman hias dan fenomena bisnisnya.

Tren Global di Saat Pandemi

Tren Global di Saat Pandemi

Seperti kita ketahui, masyarakat Asia dan Eropa kini tengah dilanda demam tanaman hias saat pandemi ini terjadi. Indonesia pun menjadi negara yang terpengaruh oleh adanya tren global ini. Mungkin sebelum pandemi, masyarakat Indonesia masih jarang yang tahu tentang tanaman hias semacam Monstera andansonii alias janda bolong. Namun di sepanjang tahun 2020 ini, janda bolong seakan menjadi tanaman wajib orang-orang di pot pekarangan atau terasnya. Khalayak yang semula tidak mengikuti tren tanaman hias, kini menjadikannya sebagai hobi di rumah.

Uniknya, kini istilah variegata bukan menjadi hal yang asing di telinga publik. Bagi yang pernah menanam janda bolong atau jenis monstera lainnya, rata-rata mereka telah mengetahui tentang istilah bercak dan belang pada daun tersebut. Masyarakat pun sudah paham jika tanaman hias bercorak variegata ini mahal harganya di pasaran. Akibatnya, tutorial untuk membuat tanaman menjadi variegata secara buatan juga bermunculan di forum diskusi ataupun di media sosial.

Di sepanjang tahun 2020, beberapa jenis tanaman yang begitu populer di pasaran selain janda bolong yaitu aglonema (sri rejeki), sansivera (lidah mertua), caladium (kuping gajah), begonia dan jenis sukulen termasuk kaktus. Harganya pun cukup fantastis di tahun 2020 ini. Sedangkan di tahun 2021, kemungkinan beberapa tanaman hias yang disebut tadi masih akan merajai pasar tanaman hias nasional. Selain itu tidak menutup kemungkinan Indonesia akan menjadi negara pengekspor tanaman hias terbesar karena animo di masyarakat global begitu besar.

Tidak hanya penjual tanaman hias saja yang kecipratan rejeki dari bisnis ini. Para pengrajin pot tanaman berbahan semen, tanah liat dan plastik juga terimbas positif. Banyak pot tanaman cantik dan unik yang menjadi incaran para pecinta tanaman. Sekarang tanaman hias tidak hanya berpaku pada keindahan floranya saja, melainkan pada estetika pot yang menyokongnya. Selanjutnya, buku tentang seri tanaman hias juga kembali laris di pasaran semenjak tren ini meledak.

Kini istilah berkebun pun tidak hanya terpatok pada kegiatan menanam tanaman hias di pekarangan rumah. Definisinya menjadi meluas, sejalan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang turut hobi berkebun di teras atau ruangan terbatas pada apartemen, perumahan dan perkantoran. Tanaman hias kemudian menjelma menjadi gaya hidup yang sulit dilepaskan dari kehidupan masyarakat perkotaan dengan tingkat ekonomi mumpuni, yang kesehariannya berjibaku dengan rutinitas kantor. Beberapa penelitian ilmiah pun menyebutkan bahwa keberadaan tanaman hias ini sebagai dekorasi ruangan dapat mengurangi kadar stres.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian (Kementan), tercatat bahwa secara nasional ekspor tanaman hias pada periode Januari-April 2019 sebesar 1.470 ton atau senilai Rp.15 miliar. Jumlah ini naik 28,5% apabila dibandingkan dengan periode Januari-April 2018. Nilai ekspor ini kemungkinan terus naik di tahun 2020. Tanaman ini diekspor ke negara seperti Singapura, Malaysia, China, Jepang, Korea, Belanda, Amerika, Inggris, Kuwait, Hongkong, Taiwan, Thailand, Vietnam, Kanada dan lain sebagainya.

Jenis tanaman seperti aglonema pun disebut-sebut akan menjadi primadona nomor wahid di tahun mendatang. Dari kesemua tanaman yang ngetren di tahun 2020, aglonema terbilang paling mudah perawatannya. Sekalinya sudah tumbuh, mereka akan berkembang biak dengan sendirinya baik di dalam ruangan maupun luar ruangan. Selanjutnya cukup disiram seminggu sekali mereka akan tetap bertahan hidup walaupun di musim kemarau sekali pun.

Jadi apabila dibandingkan dengan tanaman hias lain, aglonema akan tetap berjaya karena mudah perawatannya. Selain itu, manfaat dari aglonema secara ilmiah juga terbilang banyak, misalnya saja kemampuannya untuk menghilangkan polutan di dalam ruangan. Varietasnya yang beragam membuat tanaman ini tidak membosankan untuk dikoleksi. Dari kesemua jenis tanaman hias yang ada, jenis tanaman hias daun diprediksi akan merajai pasar nasional di tahun 2021 dan mengungguli tanaman hias bunga.

Upaya Menyelamatkan Bumi

Tak bisa dipungkiri bahwa kegiatan menanam tanaman hias yang begitu viral di tahun 2020 sampai saat ini merupakan suatu aktivitas yang sangat ramah lingkungan. Aktivitas ini terbukti zero waste dan zero pollution, karena mirip dengan kegiatan konservasi serta reboisasi dalam lingkup yang lebih kecil. Dapat dikatakan, bisnis tanaman hias beserta hobinya telah menggerakkan roda perokonomian serta berkontribusi dalam melestarikan lingkungan, bahkan menyelamatkan bumi. Nampaknya, konsep dari bisnis tanaman hias ini sesuai dengan semangat “think globally, act locally” karena berisi usaha kecil guna menyelamatkan planet ini.

Sesuai dengan dokumen Lembar Fakta tentang Pekerjaan yang Layak dan Ramah Lingkungan (Green Jobs) di Indonesia, bahwa tren tanaman hias ini merupakan suatu peluang bisnis yang ramah lingkungan alias Green Jobs di masa depan. Bisnis tanaman hias harus kita dukung sepenuhnya karena selain bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani, juga mampu untuk melestarikan lingkungan. Jika hobi ini bisa dilakukan oleh semua rumah tangga atau tempat tinggal, maka berimplikasi besar dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

Sesuai dengan penelitian yang pernah saya lakukan di tahun 2013 untuk menyelesaikan skripsi tentang kejahatan lingkungan, saya menyimpulkan satu hal. Dalam perspektif green criminology, untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan tidak dapat dilakukan oleh upaya penegakan hukum formal saja. Melainkan, perlunya peran serta masyarakat agar saling menjaga lingkungan. Kejahatan lingkungan dan kerusakan lingkungan adalah problematika masyarakat bersama yang harus ditanggulangi dengan gerakan berupa green movement oleh warga. Istilah untuk masyarakat yang sadar akan kelestarian lingkungan serta berperan aktif dalam menjaganya adalah green police.

Berdasarkan perspektif green criminology tersebut, bahwa green jobs seperti bisnis tanaman hias merupakan wujud nyata dari implementasi green movement. Sedangkan para petani tanaman hias dan penghobinya dapat dikatakan sebagai green police karena punya kontribusi dalam pelestarian alam. Maka dari itu, peluang dalam bisnis tanaman hias ini harus ditekuni oleh anak muda di masa depan. Bisnis ini terbukti mampu membuat setiap rumah tangga peduli dengan lingkungan. Jika kita berkaca pada definisi green jobs dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), bisnis tanaman hias ini adalah salah satu yang paling tepat dikembangkan. Hal ini dikarenakan pekerjaan tersebut mendukung pelestarian lingkungan terutama pembatasan emisi gas rumah kaca, peminimalan polusi serta pelestarian ekosistem.

 


(Karya Penuis Tentang “Green Criminology”, 2014)


Belajar Dari Desa Pancasila

Kemajemukan merupakan identitas asli bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia dikaruniai dengan beragam suku serta budaya yang berbeda, serta tentunya multi agama yang wajib kita hormati. Kita perlu merefleksikan diri dan merenungi mengapa akhir-akhir ini masyarakat Indonesia saling bergesekan satu sama lain. Terutama saat sebelum dan setelah Pemilihan Umum (Pemilu), yang terlihat telah mereduksi nilai toleransi di antara khalayak. Pemilu 2019 telah usai dan kini saatnya kita merekatkan kembali nilai Bhinneka Tunggal Ika di masyarakat.

Perihal toleransi, kita perlu belajar dan berkaca pada salah satu desa di Indonesia. Dari kampung ini, kita bisa belajar tentang #MeyakiniMenghargai serta indahnya kebersamaan walau berbeda. Desa Balun yang dijuluki sebagai Desa Pancasila yang terletak di Lamongan, Jawa Timur ini adalah potret kerukunan yang seharusnya tampak di tanah air tercinta. Desa yang telah dikukuhkan sebagai destinasi wisata religi oleh pemerintah ini berisi pemeluk dari plural agama yang hidup berdampingan secara guyub. Bila terus dilestarikan, desa ini bisa menjadi gerak hati bagi wilayah-wilayah lainnya di Indonesia seraya semangatnya dapat meluas.

Bayangkan saja, jika setiap kabupaten di Indonesia terdapat potret Desa Pancasila serupa ini. Tentunya hal ini sangat mencerminkan nilai keindonesiaan yang perlu dilestarikan. Tidak hanya hidup bersatu hati, namun pemerintah juga bisa menjadikannya sebagai potensi objek wisata desa berbudaya. Bisa jadi, inilah keunggulan sebenarnya yang dimiliki oleh Indonesia dibandingkan dengan negara lain. Sehingga kedepannya berpotensi memukau minat wisatawan domestik maupun asing.

Di Desa Balun yang telah menjadi ikon Kota Lamongan tersebut tersohor dengan kegiatan kebudayaannya seperti pawai Ogoh-ogoh yang merupakan magnet besar wisatawan. Kerukunan antar umat beragama dalam satu desa ini potensi besar bagi desa wisata sehingga kedepannya menjadi tonggak kemandirian, kebangkitan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan fakta dan fenomena tersebut, dapat dikatakan bahwa kontrol sosial dalam Desa Pancasila terbilang begitu solid serta masif. Sesuai dengan teori kontrol sosial yang dikemukakan oleh sosiolog Travis Hirschi, bahwa keempat elemen ikatan sosial yaitu keterikatan, komitmen, keterlibatan dan kepercayaan di Desa Pancasila terbukti berjalan optimal. Dapat dilihat dari para anggota masyarakat desa tersebut memiliki keterikatan bersama untuk membangun publik yang rukun dan toleran. Komitmennya kuat karena warganya memiliki tanggung jawab yang teguh terhadap aturan yang telah disepakati bersama. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kelompok tercermin dari semangat gotong-royongnya di semua dimensi kehidupan. Kepercayaan yang terpatri di masyarakatnya adalah toleransi serta silaturahmi untuk menyatukan distingsi yang ada.

Apresiasi Pemerintah

Spirit dari Desa Pancasila ini juga telah mendapatkan pengayoman dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) karena dinilai dapat mereduksi doktrin terorisme dan radikalisme yang akan masuk ke pedesaan. Kepala BNPT Komjen Boy Rafli mengatakan bahwa paham terorisme dan radikalisme akan dapat tertolak apabila sebuah desa dibangun dengan mengedepankan jiwa Pancasila dan toleransi. Hal ini tercermin nyata dalam Desa Pancasila.

Kini eksistensi Desa Pancasila setiap tahunnya kian bertambah. Pada tahun 2020 silam, BNPT juga turut merancang Desa Pancasila yang berlokasi di Kabupaten Pohuwanto, Gorontalo. Dengan didirikannya Desa Pancasila, harapan kedepannya adalah dapat memerangi dogma terorisme dan radikalisme di Indonesia. Selain itu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) sendiri menyebut Desa Pancasila ini sebagai 'Desa Surga' karena penuh dengan semangat kebhinekaan, hidup rukun dan saling hormat-menghormati.

Konsep Ketahanan Sosial

Solidaritas sosial dalam Desa Pancasila erat kaitannya dengan silaturahmi. Silaturahmi sendiri merupakan cara untuk meredam konflik dalam tubuh masyarakat. Kalau menurut Husein Ja’far Al Hadar dalam bukunya yang berjudul “Apalagi Islam Itu Kalau Bukan Cinta?!”—bisa diunduh secara digital di website Convey Indonesia, bahwa silaturahmi adalah jangkar ketahanan sosial yang mampu menahan segala kemungkinan terjadinya problem sosial. Silaturahmi terbukti efektif bisa membuat yang berbeda tetap bersama.

Bila ditelaah dengan kajian kriminologi, Desa Pancasila ini merupakan wujud implementasi nyata dari konsep community (based) crime prevention atau pencegahan kejahatan berbasis komunitas. Artinya, masyarakat ikut serta dan berkohesi guna menciptakan kontrol sosial serta tentunya upaya strategi pencegahan kejahatan di lingkungannya. Nauta (1974), Nixon (1979), serta Zander (1979), yang telah dikemukakan dalam tulisan kriminolog Mohammad Kemal Dermawan (1995), menyebutkan bahwa konsep tentang kohesi (kerekatan) sosial merupakan elemen penting dari kontrol sosial informal. Selanjutnya, Dermawan (1995) juga menyebutkan bahwa pembentukan komunitas merupakan hal yang penting guna membentuk kedekatan fisik dalam menciptakan kontrol sosial informal di lingkungan masyarakat itu sendiri.

Secara definitif, community (based) crime prevention merupakan upaya atau strategi yang bertujuan untuk meredam dan menekan potensi kejahatan dengan jalan meningkatkan kapasitas masyarakat. Perlu diketahui, untuk memaksimalkan strategi pencegahan kejahatan dibutuhkan keterlibatan dan peran serta aktif dari masyarakat. Hal ini dikarenakan, setiap kegiatan kolektif di dalam masyarakat akan sangat berimplikasi pada usaha pencegahan kejahatan, termasuk di dalamnya menangkal ajaran radikalisme.

Tidak hanya itu, apabila kita lihat dari perspektif pemberantasan korupsi, Desa Pancasila juga merepresentasikan nilai-nilai antikorupsi yang telah digaungkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK sebelumnya telah menetapkan sembilan nilai antikorupsi, sedangkan yang paling relevan dengan semangat Desa Pancasila ini adalah pada poin kepedulian dan tanggung jawab. Untuk menciptakan kohesi sosial yang rekat dalam perbedaan, sangat diperlukan sikap kepedulian yang merasuk ke dalam relung jiwa anggotanya. Begitu pula nilai toleransi yang termasuk dalam aspek kepedulian. Dapat dikatakan, Desa Pancasila ini tidak hanya menjadi desa dengan kadar toleransi yang tinggi, namun juga menjadi “Desa Antikorupsi”.

Sekali lagi, kita butuh lebih banyak Desa Pancasila di Indonesia ini. Mungkin nantinya bisa meluas menjadi “Kecamatan Pancasila”, “Kabupaten Pancasila” bahkan “Negara Pancasila” yang seutuhnya. Ini adalah mimpi besar kita semua dari sebuah desa kecil yang tidak hentinya menebar inspirasi toleransi di Indonesia tercinta ini.

Kamis, 07 Januari 2021

Pesona Tanaman Hias Variegata

Tanaman hias semakin laris saat masyarakat global tengah dilanda pandemi Coronavirus disease (Covid-19) di tahun 2020. Masyarakat kini menjadi gemar melakukan aktivitas hobi di rumah seperti merawat tanaman hias sampai kegiatan outdoor layaknya bersepeda. Untuk tanaman hias sendiri, pertumbuhan bisnisnya dipacu oleh kelompok kelas menengah dan kelas menengah atas yang cenderung banyak membelanjakan uangnya pada sektor ini. Rata-rata, pada masyarakat kelas ini membeli tanaman hias yang cukup mahal ini guna mengusir kepenatan di masa pagebluk. Mungkin saja dengan animo masyarakat yang begitu besar terhadap tanaman hias ini, ke depannya akan membuat ekspor bibit dan tanaman hias juga akan meningkat di tahun 2021 ini.

Dari ke semua tanaman hias yang menjadi tren di Indonesia, ada satu jenis tanaman yang begitu dicari dan digemari oleh khalayak. Tanaman itu adalah variegata (variegation) yang terjadi karena adanya kelainan mutasi genetik di alam, sehingga daun yang tumbuh memiliki corak warna yang berbeda dengan warna asli daun. Misalnya saja, apabila daun asli tanaman tersebut berwarna hijau, maka kelir variegatanya punya corak lain seperti putih. Adapula yang mengatakannya sebagai tanaman albino karena coraknya yang tak biasa dan terbilang langka. Selain pada daun, variegata juga terkadang terjadi pada batang tanaman.

Di samping itu, kemunculan corak variegata juga disebabkan oleh paparan zat kimia baik disengaja (laboratorium) maupun tidak. Kondisi ini dikategorikan sebagai kemunculan yang tidak alami. Biasanya usia varegata akibat paparan zat kimia ini tidak permanen dan berlangsung sekitar beberapa bulan saja. Setelah itu, jika kondisinya sudah stabil daun akan tumbuh seperti sediakala. Sedangkan variegata yang alami cenderung muncul di sebagian besar daun, sedangkan yang tidak alami muncul hanya di bagian daun tertentu saja.

Para ahli juga telah meneliti bahwa infeksi oleh virus pada tanaman juga dapat menyebabkan terjadinya corak variegata. Misalnya saja pada kasus virus mosaik yang menyebabkan daun tembakau menjadi bercorak. Virus pada tanaman ini dapat menyebabkan munculnya pola ciri infeksi pada permukaan daun. Kekurangan unsur hara dan nutrisi tertentu juga dapat menyebabkan munculnya corak ini. Selain itu masih banyak jenis-jenis variegata lain yang biasanya juga terjadi pada tanaman hias aroids.

Secara umum, kemunculan corak variegata ini adalah kondisi yang amatlah jarang. Walau di beberapa negara sudah banyak dikembangkan dengan metode kultur jaringan, namun nyatanya masih sulit untuk menemukan variegata di pasaran. Pesonanya pun semakin ke sini semakin menjadi daya tarik pehobi. Bahkan negara Thailand pun telah berhasil mengembangkan variegata buatan dengan corak yang permanen. Daya pikat tanaman hias variegata ini tentunya terletak pada faktor kelangkaan dan keunikan corak daunnya yang belum tentu dimiliki oleh keturunan dari indukannya.

Jenis tanaman hias variegata yang kini begitu digemari oleh masyarakat Indonesia adalah yang rata-rata tergolong dalam famili Araceae alias arum yang subur di daerah tropis. Tanaman-tanaman dari famili ini dikenal secara umum sebagai tanaman aroids, walau pun subfamili Araceae cukup banyak jenisnya seperti Gymnostachydoideae, Orontioideae, Lemnoideae, Pothoideae, Monsteroideae, Lasioideae, Zamioculcadoideae dan Aroideae. Sedangkan yang paling ngetren di tahun 2020 silam adalah monstera, apalagi yang bercorak variegata. Bahkan para pecinta tanaman yang baru pun langsung mengincar tanaman hias aroids variegata tersebut.

Terutama kelompok masyarakat dari kelas menengah dan menengah atas yang rela merogoh koceknya untuk mengoleksi tanaman hias aroids variegata ini. Hobi berkebun kini menjadi hobi yang digemari masyarakat perkotaan yang bahkan tinggal di apartemen bertingkat dengan lahan menanam yang terbatas. Menanam tanaman hias bagi masyarakat perkotaan kini berubah menjadi gaya hidup baru semenjak adanya pandemi Covid-19 pada tahun 2020 silam. Permintaan di masyarakat yang tinggi terhadap tanaman hias aroids variegata ini menyebabkan harganya cukup tinggi bila dibandingkan dengan tanaman hias sejenis. Bahkan harga tanaman variegata tersebut bisa mencapai sepuluh kali lipat dari tanaman yang biasanya.

Secara visual, corak variegata punya pesona tersendiri. Pola mutasi pada daun tanaman aroids begitu unik sekaligus indah. Keunikannya sulit untuk disamai oleh tanaman lain. Bahkan di tahun 2021 ini, tanaman variegata akan masih menjadi incaran para kolektor dan pecinta tanaman hias. Bahkan di pusat tanaman hias dunia seperti Thailand pun harganya masih tinggi akibat permintaannya yang banyak di seluruh dunia. Kepopuleran tanaman hias yang mengalami mutasi genetik ini diperkirakan akan terus ada sampai kapan pun.

Jumat, 25 Desember 2020

Bisnis Tanaman Hias Diprediksi Masih Berjaya di 2021

Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) yang terjadi di tahun 2020 telah mengubah gaya hidup masyarakat secara menyeluruh. Masyarakat yang semula memiliki tingkat mobilitas tinggi, kini mendadak bergerak perlahan bahkan terhenti demi mengurangi tersebarnya virus Covid-19. Virus ini telah membatasi gerak manusia di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Saat pagebluk terjadi, gaya hidup masyarakat global pun berubah drastis termasuk dalam hal hobi.

Imbas seringnya aktivitas di rumah menyebabkan hobi menanam serta merawat tanaman menjadi meningkat. Baik itu menanam tanaman hias di teras atau pekarangan rumah, sampai ada juga yang berinisiatif membuat hidroponik dan aquascape. Ketiga hobi tersebut merupakan kegemaran masyarakat yang baru selama pandemi ini berlangsung. Sedangkan tulisan kali ini akan lebih membahas tentang tren tanaman hias dan fenomena bisnisnya.

Seperti kita ketahui, masyarakat Asia dan Eropa kini tengah dilanda demam tanaman hias saat pandemi ini terjadi. Indonesia pun menjadi negara yang terpengaruh oleh adanya tren global ini. Mungkin sebelum pandemi, masyarakat Indonesia masih jarang yang tahu tentang tanaman hias semacam Monstera andansonii alias janda bolong. Namun di sepanjang tahun 2020 ini, janda bolong seakan menjadi tanaman wajib orang-orang di pot pekarangan atau terasnya. Khalayak yang semula tidak mengikuti tren tanaman hias, kini menjadikannya sebagai hobi di rumah.

Uniknya, kini istilah variegata bukan menjadi hal yang asing di telinga publik. Bagi yang pernah menanam janda bolong atau jenis monstera lainnya, rata-rata mereka telah mengetahui tentang istilah bercak dan belang pada daun tersebut. Masyarakat pun sudah paham jika tanaman hias bercorak variegata ini mahal harganya di pasaran. Akibatnya, tutorial untuk membuat tanaman menjadi variegata secara buatan juga bermunculan di forum diskusi ataupun di media sosial.

Di sepanjang tahun 2020, beberapa jenis tanaman yang begitu populer di pasaran selain janda bolong yaitu aglonema (sri rejeki), sansivera (lidah mertua), caladium (kuping gajah), begonia dan jenis sukulen termasuk kaktus. Harganya pun cukup fantastis di tahun 2020 ini. Sedangkan di tahun 2021, kemungkinan beberapa tanaman hias yang disebut tadi masih akan merajai pasar tanaman hias nasional. Selain itu tidak menutup kemungkinan Indonesia akan menjadi negara pengekspor tanaman hias terbesar karena animo di masyarakat global begitu besar.

Tidak hanya penjual tanaman hias saja yang kecipratan rejeki dari bisnis ini. Para pengrajin pot tanaman berbahan semen, tanah liat dan plastik juga terimbas positif. Banyak pot tanaman cantik dan unik yang menjadi incaran para pecinta tanaman. Sekarang tanaman hias tidak hanya berpaku pada keindahan floranya saja, melainkan pada estetika pot yang menyokongnya. Selanjutnya, buku tentang seri tanaman hias juga kembali laris di pasaran semenjak tren ini meledak.

Kini istilah berkebun pun tidak hanya terpatok pada kegiatan menanam tanaman hias di pekarangan rumah. Definisinya menjadi meluas, sejalan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang turut hobi berkebun di teras atau ruangan terbatas pada apartemen, perumahan dan perkantoran. Tanaman hias kemudian menjelma menjadi gaya hidup yang sulit dilepaskan dari kehidupan masyarakat perkotaan dengan tingkat ekonomi mumpuni, yang kesehariannya berjibaku dengan rutinitas kantor. Beberapa penelitian ilmiah pun menyebutkan bahwa keberadaan tanaman hias ini sebagai dekorasi ruangan dapat mengurangi kadar stres.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian (Kementan), tercatat bahwa secara nasional ekspor tanaman hias pada periode Januari-April 2019 sebesar 1.470 ton atau senilai Rp.15 miliar. Jumlah ini naik 28,5% apabila dibandingkan dengan periode Januari-April 2018. Nilai ekspor ini kemungkinan terus naik di tahun 2020. Tanaman ini diekspor ke negara seperti Singapura, Malaysia, China, Jepang, Korea, Belanda, Amerika, Inggris, Kuwait, Hongkong, Taiwan, Thailand, Vietnam, Kanada dan lain sebagainya.

Jenis tanaman seperti aglonema pun disebut-sebut akan menjadi primadona nomor wahid di tahun mendatang. Dari kesemua tanaman yang ngetren di tahun 2020, aglonema terbilang paling mudah perawatannya. Sekalinya sudah tumbuh, mereka akan berkembang biak dengan sendirinya baik di dalam ruangan maupun luar ruangan. Selanjutnya cukup disiram seminggu sekali mereka akan tetap bertahan hidup walaupun di musim kemarau sekali pun.

Jadi apabila dibandingkan dengan tanaman hias lain, aglonema akan tetap berjaya karena mudah perawatannya. Selain itu, manfaat dari aglonema secara ilmiah juga terbilang banyak, misalnya saja kemampuannya untuk menghilangkan polutan di dalam ruangan. Varietasnya yang beragam membuat tanaman ini tidak membosankan untuk dikoleksi. Dari kesemua jenis tanaman hias yang ada, jenis tanaman hias daun diprediksi akan merajai pasar nasional di tahun 2021 dan mengungguli tanaman hias bunga.

Lulus, 35 Peserta Akademi Jurnalistik Lawan Korupsi 2020

 



Sebanyak 35 wisudawan mengikuti wisuda Akademi Jurnalis Lawan Korupsi (AJLK) 2020 yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Mereka adalah Jurnalis professional dan Jurnalis warga yang mengikuti pelatihan dan menyelesaikan tugas akhir program ini.

Pelaksana harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati menyampaikan rasa bangga kepada para wisudawan yang berhasil menjalani kelas intensif selama 8 hari di AJLK 2020. 

“Di awali sebuah perbincangan untuk memantapkan program AJLK 2019, terus terang kami, di Biro Humas khususnya pemberitaan, kaget dengan antusias yang setinggi ini dalam program AJLK 2020,” ungkap Yuyuk dalam pembukaan wisuda daring secara langsung melalui YouTube KPK RI, (11/12).

Yuyuk menyampaikan, sebanyak 1134 karya harus dibaca satu persatu dengan teliti hingga terpilih 35 yang mengikuti kelas intensif Oktober lalu. Yuyuk menyampaikan rasa bangga dan apresiasi terhadap semangat dan kerja keras semua peserta.

Adapun 35 wisudawan tersebut terdiri dari 14 jurnalis, 6 jurnalis warga, 4 peneliti, 4 pegiat LSM, 3 mahasiswa, 2 dosen, 1 guru, serta 1 orang ASN.

Program AJLK 2020 diselenggarakan oleh KPK sebagai akademi belajar antikorupsi secara daring.

Terkait dengan tugas akhir yang ditelah disusun oleh para peserta, Yuyuk sangat mengapresiasi tugas tersebut yang begitu beragam. Menurutnya ide yang banyak diangkat begitu menarik dengan tidak terbatas pada platform sosial media saja tetapi juga sampai mengangkat budaya lokal.

“Saya berharap inisiatif ini bisa terus berjalan meskipun AJLK telah berakhir, saya berharap ini bisa menjadi terobosan baru dalam kampanye dan sosialisasi antikorupsi,” terangnya.

Selain itu, salah satu juri AJLK 2020 Okky Madasari juga menyampaikan rasa bangga dan optimis bahwa seluruh peserta akan memberikan kontribusi yang nyata di masyarakat terutama dalam upaya pemberantasan korupsi.

Dari 35 wisudawan AJLK, terpilih lima wisudawan dengan ide terbaik menurut tim dewan juri AJLK 2020, yaitu Ayu Kusuma Pertiwi, Fajar K Nugraha, Korneles Materay, Sharon Patricia & Ira Vera Tika, serta Theofani Zahra. Kegiatan wisuda secara daring tersebut kemudian ditutup dengan penampilan dari grup music Hivi.


Sumber: https://www.kpk.go.id/id/berita/berita-kpk/1995-lulus-35-peserta-akademi-jurnalistik-lawan-korupsi-2020