Kamis, 30 Desember 2021

Pesona Tanaman Bonsai Khas Indonesia


Saat ini pengaruh seni tradisional hortikultura bonsai sudah menyebar sampai ke pelosok desa di Indonesia. Bonsai juga merupakan warisan kuno seni botani yang terus bertahan sampai sekarang. Bonsai tidak hanya digemari oleh orang kalangan elite saja, melainkan juga pada kalangan masyarakat ekonomi biasa saja pun dapat menikmatinya. Berdirinya komunitas Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) dengan sebaran cabangnya yang ada di mana-mana, menandakan bahwa budaya bonsai sudah terpenetrasi lebih luas di masyarakat Indonesia. Sejauh ini, kiblat seni bonsai di Indonesia sangat terpengaruh oleh gaya tradisi Jepang dan Cina. Hal ini memang tidak bisa dipungkiri, karena pada dasarnya akar seni bonsai berasal dari wilayah Asia Timur. Sehingga sampai sekarang ini, proses akulturasi kebudayaan bonsai di ranah lokal masih begitu terasa nuansa asalnya.

Hobi bonsai ini terbilang unik secara pengejawantahannya. Siapa pun bisa mengkreasikan imajinasinya ke dalam tanaman dalam pot dangkal tersebut. Meskipun secara falsafah, bonsai yang baik memiliki aturan-aturan secara kultural tersendiri, namun ternyata implementasi di suatu wilayah terkadang begitu kontekstual menyesuaikan kondisi rasam masyarakatnya. Ada yang sangat patuh terhadap kanun perbonsaian. Ada pula yang berpikir out of the box dalam merancang serta memelihara bonsainya. Keduanya aliran menjadi sebuah dinamika yang harus terus tumbuh di jagat perbonsaian. Intinya, harus ada kelindan antara pendekatan hortikultura dengan dimensi estetika.

Di Indonesia, kontekstualisasi kultur bonsai terlihat dari bibit tanaman yang digunakannya. Bila di dunia internasional, bonsai seringkali didominasi oleh tanaman pohon pinus dan cemara, di Indonesia tanaman khasnya justru akan sangat memperkaya khasanah perbonsaian. Pendaman lokal yang khas Indonesia ternyata berjumlah banyak serta sangat pas apabila dijadikan sebagai bahan bonsai. Bila dianalisa, ada empat jenis tanaman Indonesia yang acap kali dijadikan bonsai oleh masyarakat di Indonesia.

1.       Asam Jawa

Tamarindus indica atau sering disebut asam jawa (asem jawa menurut dialek lokal) adalah tanaman bonsai khas Indonesia yang paling populer dengan prospek harga jual fantastis. Alasan penghobi memilih asam jawa karena secara morfologi, tanaman ini yang paling ideal untuk dijadikan bonsai. Daunnya kecil dan dapat lebih kecil lagi ketika sudah berada pada media pot. Berbatang keras dengan tekstur kulitnya yang terkesan tua serta angker. Atmosfer kelokalan bonsai asam jawa sangat begitu terasa. Bila kita memandangi bonsai asam jawa di dalam pot tentu akan menemui kemiripan dengan yang aslinya di alam bebas.

Tidak hanya itu, bonsai tanaman tropis ini juga dapat dikonstruksikan layaknya cemara ataupun pohon-pohon subtropis lainnya. Jadi, kita bisa mengatur gerakan perantingan bonsai asam jawa sesuai dengan keinginan. Baik itu akan disesuaikan dengan gaya perbonsaian klasik, ataupun sesuai fantasi pemilik sendiri. Semakin tua usia bonsai asam jawa, biasanya akan sudah dapat berbuah di dalam pot. Hal ini tentu saja menjadi nilai plus dalam unsur estetika bonsai asam jawa tersebut.

Untuk membuat bahan bonsai dari tanaman asam jawa, biasanya masyarakat mempraktikkan tiga macam teknik. Pertama, cangkok atau stek. Teknik ini yang paling mudah dilakukan untuk membuat bonsai asam jawa dan terkesan cenderung instan dibandingkan lagam lainnya. Cara ini dinilai sangat cocok bagi orang yang ingin lekas mendapatkan bentuk pokok kayu bonsai yang kokoh dengan ranting yang sudah rimbun. Kedua adalah teknik grounding, yaitu dengan cara menanam bahan bonsai ke dalam tanah lapang. Trik ini dilakukan supaya batang bonsai dapat cepat membesar secara natural (tanpa pengkerdilan dari kecil) karena nutrisi di tanah lapang yang jauh lebih melimpah. Terkadang penghobi juga ikut memendam pot atau polibagnya sekaligus agar ketika sewaktu-waktu diangkat, akar bonsainya tidak terlalu berjibun menjalar kemana-mana. Ketiga, mulai program dari biji. Teknik ini dilakukan oleh pebonsai yang sabar dan ingin menghasilkan bonsai yang sesuai dengan program serta kaidah kebutuhannya.

Apapun teknik yang diterapkan, hasil akhir bonsai asam jawa yang sudah jadi memang begitu menawan. Nuansa natural tanaman berdaun lebat khas daerah dengan curah hujan tinggi memang menjadi magnet tersendiri. Tak heran, bonsai asam jawa sering menjuarai kontes. Keunikan Indonesia dalam khasanah perbonsaian ini terletak pada keeksotisan floranya yang elok.  

2.       Serut

Serut atau Streblus asper adalah tanaman berbatang keras, tumbuh liar dan sering dijumpai di kebun (kebon) warga. Di desa-desa, kita masih sering menemui pohon serut, terutama di pagar perbatasan tanah antar kebun. Selain di kebun, serut juga tumbuh subur di hutan kawasan Indonesia, Kamboja, Thailand, India, Sri Lanka, Malaysia dan Vietnam. Pada habitat liarnya, nilai ekonomi dari pohon serut cenderung kurang berharga. Namun, apabila tanaman ini sudah diprogram sedemikian rupa untuk bonsai, harganya bisa melambung tinggi. Serunya memiliki hobi bonsai ini salah satunya ialah bahwa tanaman kerdil ini bisa menjadi sarana investasi. Karena semakin tua tanaman, harganya akan melambung tinggi.

Serut ini merupakan tanaman khas Indonesia yang terkenal sekali soal keangkerannya. “Kalau malam-malam lewat kebon, jangan dekati pohon serut itu ya” adalah ungkapan yang sering dilontarkan oleh orang-orang di pedesaan pada zaman dulu. Banyak cerita rakyat beredar yang mengaitkan serut dengan adanya penunggu makhluk astral di sekitarnya. Namun itu sendiri merupakan mitos dan legenda. Terlepas itu semua, serut adalah bahan bonsai yang sangat cantik dan elegan. Tak hanya sebagai bahan bonsai saja, serut juga sering digunakan sebagai tanaman dekorasi untuk taman.

Batang serut tampak keras nan kokoh. Hal ini menambah sensasi citra naturalnya apabila sudah dipindahkan ke dalam pot bonsai. Ditambah lagi, daun serut yang sudah dibonsai biasanya akan mengecil secara alamiah, dengan ukuran setengah dari bentuk aslinya di alam liar. Bonsai serut juga termasuk gampang dalam perawatannya. Tanaman ini tahan pada kondisi media tanam kering, meskipun begitu jangan sampai tidak disiram sama sekali. Serut juga merupakan tanaman yang sangat mudah sekali untuk dibentuk-bentuk sesuai dengan pretensi penghobinya.

Untuk bahan bonsai serut ini, biasanya bisa didapatkan dengan cara stek dan dongkelan di alam liarnya. Kita bisa lihat, misalnya di kanal Youtube banyaknya penghobi yang mendongkel akar atau memotong batang serut dari alam, hutan atau habitatnya. Cara ini yang paling efisien untuk mendapatkan bahan bonsai serut, karena jarang sekali penghobi yang memprogramnya dari biji. Selain itu, saat ini kita tidak perlu repot-repot ke hutan ataupun kebon untuk berburu bahan bonsai serut. Cukup melalui pemesanan di marketplace saja, kita sudah banyak mendapatkan referensi serta opsi aneka bahan bonsai serut yang dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

3.       Kelapa

Indonesia merupakan salah satu negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia. Salah satu ciri dari ekosistem maritim adalah banyaknya tumbuhan bergenus cocos alias kelapa di sepanjang garis pantai. Secara kultural tanaman bonsai identik dengan tumbuhan dikotil berbatang kambium. Namun di Indonesia, kreasi masyarakat yang hidup di daerah tropis menjadikan tanaman kelapa sebagai bonsai bonsai yang indah serta potensial. Kelapa yang tumbuh subur di bumi nusantara ini adalah potret keeksotisan yang tiada duanya. Bisa dibilang kelapa merupakan salah satu ciri khas flora di negara maritim tercinta ini. Mungkin saja, kuantitas budidaya bonsai kelapa di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia.

Bonsai kelapa terbilang paling sulit perawatannya dibandingkan tanaman lainnya. Misalnya, batang bonsai retak saja akan menimbulkan kematian pada tanaman. Tidak hanya itu, akar yang terpangkas dan adanya serangan hama kumbang saja akan menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Dapat dikatakan kelapa jauh lebih ringkih dan rentan dibandingkan bahan bonsai lainnya. Namun dari segi artistik, pesonanya tiada duanya. Apabila kita merawatnya dengan sabar dan telaten, maka kita akan mendapatkan tampilan visualnya yang elok.

Secara teknik, bonsai kelapa hanya bisa ditumbuhkan dengan biji atau buah kelapa yang sudah tua saja. Sudah jelas, bonsai kelapa ini tidak bisa distek ataupun dicangkok. Kalaupun dibudidayakan dengan teknik grounding, resiko untuk batang retak ataupun akar yang kurang tercabut akan mengakibatkan kematian terhadap tanaman. Jadi memang yang paling aman adalah pembibitan bonsai dengan menggunakan buahnya. Biasanya penghobi akan membudidayakan lebih dari satu bonsai kelapa di rumahnya. Hal ini dikarenakan membudidayakan bonsai kelapa ini cukup membuat ketagihan. Satu tanaman bonsai kelapa saja rasanya tidak cukup.

4.       Beringin

Beringin tumbuh subur di kawasan Asia dan Australia. Tanaman bergenus ficus ini merupakan bahan bonsai yang paling mudah didapatkan di Indonesia. Kita bisa menemui beringin, mulai dari tembok bangunan, tebing batu sampai sekitar daerah aliran sungai. Perawatannya pun tergolong paling mudah. Tanaman ini sangat tahan banting, baik itu di kondisi berair ataupun kering. Sehingga, bagi para pebonsai pemula, tanaman beringin ini bisa menjadi pilihan terbaik untuk belajar membuat bonsai.

Anda pernah melihat bangunan keajaiban dunia, Angkor Wat di Kamboja? Situs bersejarah tersebut kondisinya saat ini tengah terlilit pohon beringin tua yang membuatnya terlihat sangat indah sekaligus kuno. Bahkan, tak jarang penghobi yang mengambil tema Angkor Wat itu sebagai sumber inspirasi dalam konsep bonsai beringinnya. Hal ini dikarenakan, beringin mempunyai akar gantung dan jalar yang bisa dibentuk-bentuk sesuka hati. Jadi, tak jarang apabila bonsai beringin seringkali dililitkan pada miniatur bangunan, candi ataupun bongkahan batu.

Kepopuleran bonsai beringin hampir menyamai pesona asam jawa. Dari segi batang, bonsai beringin lebih cepat terbentuk struktur kokoh nan kunonya. Keangkerannya juga tampak di sekujur batang beserta akar gantungnya yang terkesan mistis. Namun kekurangan dari bonsai beringin ada di daun yang sulit untuk dikerdilkan. Sehingga saat dijadikan bonsai, tanaman cenderung kurang natural seperti di alam liar. Meskipun begitu, dari segi struktur batang beringinlah juaranya. Tanaman ini begitu gagah dan sangat pas untuk berada di pot. Biasanya saat di acara kontes, bonsai beringin digunduli daunnya sehingga hanya menampakkan sisi gahar dari pohonnya. Seringkali, pemenang dari kontes bonsai ini adalah dari pohon beringin.

Sebenarnya masih banyak lagi tanaman khas Indonesia yang lumrah dijadikan bonsai. Misalnya saja waru, sisir, wahong sampai kawista. Namun, menurut pengamatan, keempat bonsai yang telah dielaborasikan di ataslah yang paling populer dan pengaruhnya signifikan di kancah perbonsaian lokal. Dari keempat tanaman bonsai khas Indonesia tersebut, manakah yang menjadi favorit anda?

Minggu, 28 November 2021

Krusialitas Kurikulum Media Sosial di Sekolah

 

Sumber: freepik.com

Media sosial (medsos) pada zaman sekarang ini telah memegang peranan yang amat penting dalam menciptakan integrasi bangsa. Pemanfaatan medsos yang positif akan menjadi obat mujarab untuk meredam konflik sosial yang dapat memecah belah kesatuan bangsa. Berdasarkan data riset dari perusahaan media asal Inggris, We Are Social, jumlah penduduk Indonesia per Januari 2021 adalah 274,9 juta. Sedangkan jumlah pengguna medsos aktifnya sebanyak 170 juta orang atau sekitar 61,8% dari jumlah total populasi di Indonesia. Artinya, kita harus benar-benar waspada terhadap potensi konflik yang tercipta akibat penggunaan medsos secara negatif. Ini adalah sebuah pekerjaan besar untuk bangsa Indonesia agar kita senantiasa dapat terus utuh dan terhindar dari ancaman disintegrasi.

Untuk menekan potensi konflik yang tak berujung di medsos, tentunya masyarakat Indonesia harus sudah membudayakan toleransi di jagat maya. Masyarakat Indonesia ini terbilang unik. Di kehidupan nyata, masyarakat Indonesia terkenal dengan keramahannya, murah senyum dan cenderung mudah menerima orang lain. Namun, di medsos, masyarakat kita menjadi agresif, barbar dan tak jarang melakukan konflik yang berkaitan dengan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Bahkan beberapa riset dari luar negeri pun menyebut bahwa netizen Indonesia di medsos adalah yang paling tidak sopan di sedunia. Hal ini tentunya akan menimbulkan tanda tanya besar bagi kita semua. Mengapa ada perbedaan sifat masyarakat Indonesia saat di dunia nyata dan saat di platform medsos?

Jawaban yang paling mendekati kebenarannya adalah bahwa internalisasi nilai sopan santun dan toleransi, sampai saat ini belum sampai ke ranah medsos. Artinya, kita selama ini tidak pernah atau cenderung minim diajari secara kultural untuk toleran di medsos. Bila di kehidupan nyata, kita sering dinasehati dan diedukasi oleh orang sekitar, maka di dunia maya—yang merupakan kultur teknologi informasi baru khas era pasca milenium, kita belum mempunyai instrumen nilai yang baku sebagai bahan acuannya. Norma yang terbentuk di medsos belum sekuat dan serigid dengan apa yang ada di dunia nyata. Medsos adalah dunia baru dengan sengkarut aturan rimba belantara beserta percakapan yang terlampau liar. Lalu apakah kita terlambat mengatasi ancaman disintegrasi bangsa ini? Tentu saja tidak.

Kita masih punya kans besar untuk memutus mata rantai permasalahan yang diakibatkan oleh pemanfaatan medsos yang tidak bertanggung jawab tersebut. Maka dari itu, kita perlu menyasar untuk melakukan pemberadaban medsos yang baik bagi generasi muda. Mereka adalah tunas muda yang harus kita lindungi dari kekalutan yang pernah orang dewasa lakukan di generasi awal munculnya medsos ini. Jadi, tentunya masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya tersebut. Maka dari itu, kita memerlukan peranti untuk membudayakan toleransi dalam bermedsos, yakni melalui sebuah kurikulum di sekolah formal. Dengan hadirnya kurikulum bermedsos ini, maka pembudayaan toleransi dalam bermedsos akan mulai dapat mengemuka di masyarakat, khususnya pada generasi muda.

Seperti kita ketahui, evolusi penggunaan medsos selama ini telah berubah dan berkembang. Dulu medsos digunakan sebagai ajang mencari teman baru, namun sekarang telah menjadi arena pertempuran, misalnya pada saat tahun-tahun politik. Berbagai macam warita bohong alias hoax dan hasutan adu domba bertebaran di mana-mana. Adanya perseteruan antar golongan yang memainkan isu SARA di medsos merupakan sesuatu hal yang tidak boleh dibenarkan. Maka dari itu, pentingnya kurikulum medsos di maktab adalah sungguh mendesak untuk meredam konflik yang memainkan isu SARA yang ada di internet. Krusialitas adanya kurikulum ini merupakan sebuah keniscayaan bagi generasi muda.

Tidak hanya pada tarikh politik saja medsos memanas. Setelah dihadapkan dengan tahun politik yang penuh polemik tersebut, medsos kembali dihebohkan dengan persoalan pandemi Covid-19 yang menjadi area pertempuran narasi baru. Berita kibul soal pandemi dan konspirasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebut telah membuat pemerintah kewalahan. Padahal, jika kita semuanya sebagai masyarakat bisa patuh, tertib dan saling bekerja sama untuk menyelesaikan pandemi ini bersama-sama, maka pagebluk ini akan lebih cepat berakhir. Rentetan berita dan informasi hoax tersebutlah yang membuat kita kesulitan keluar dari masa-masa krisis seperti saat pandemi tersebut.

Di tengah pandemi dan krisis, kita sebagai generasi muda haruslah menyebarkan pesan yang positif kepada publik. Pesan narasi yang sejuk serta damai adalah oase di tengah ketakutan dan kekhawatiran masyarakat. Petuah perdamian dan upaya menghindari friksi SARA adalah sesuatu upaya yang harus selalu disebarkan. Dengan begini, faktor-faktor yang menyebabkan disintegrasi bangsa juga akan memudar.

Sekali lagi, etika bermedsos sudah dapat dikatakan sebagai cara sopan santun di era teknologi informasi. Dulu, orang tua kita selalu mengajarkan sopan santun dan tata krama di kehidupan nyata. Namun, kini sejak adanya dunia maya, yang juga merupakan bagian dari dunia nyata dengan akses jangkauan tidak terbatas, maka sopan santun di medsos perlu diajarkan. Etika bermedsos akan menjadi pengingat bahwa kita ini adalah bangsa yang beragam, sehingga apapun ucapan kita jangan sampai memecah belah keberagaman di dalamnya. Kita butuh lebih banyak anak muda yang berani bersuara untuk menyebarkan pesan perdamaian di Indonesia. Lalu, apakah kita semua sudah menyampaikan pesan perdamaian hari ini?

#SuperBercerita

Minggu, 17 Oktober 2021

Kehadiran Bank Sampah Di Pedesaan

 

Isu persampahan di pedesaan masih menjadi persoalan yang cukup elusif untuk digentaskan. Kita masih sering menemui penduduk desa yang membuang sampah di sungai, bahkan sisa konsumsi warga di tumpuk di pinggir jalan yang bukan semestinya. Di desa, seperti yang saya alami, selain dibuang sembarangan, sampah juga masih dikelola secara mandiri dan dibakar jika sudah menumpuk di rumah. Akibatnya, terjadi polusi udara yang cukup fatal karena tak jarang anak-anak dan balita yang mengalami Bronkitis karena paparan tabun pembakaran sampah tersebut. Untuk menangani problem tersebut, beberapa pakar dan pegiat lingkungan akan menyarankan dibentuknya “Bank Sampah” untuk menyelesaikan perkara ini.

Kehadiran Bank Sampah di desa adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan saat ini, terutama untuk menanggulangi permasalahan sampah skala rumah tangga. Bank Sampah yang ada di desa biasanya menjadi bagian dari unit Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang keuntungannya dapat dimanfaatkan oleh desa untuk kegiatan operasional. Maka dari itu, sosialisasi pentingnya pembangunan BUMDes berupa Bank Sampah perlu dimasifkan kembali oleh pemerintah. Seperti diketahui, proyek Bank Sampah sudah ada sejak tahun 2008. Program ini pun dinilai telah menjadi salah satu sarana penggerak perekonomian di desa yang cukup efektif. Meskipun BUMDes Bank Sampah tersebut nantinya tidak mendapatkan profit yang tinggi, namun setidaknya lingkungan desa menjadi lebih bersih dan terawat.

Andaikan saja, di setiap desa di Indonesia terdapat BUMDes Bank Sampah, maka bisa dibayangkan betapa lestarinya lingkungan tempat tinggal kita di masa depan. Sungai-sungai menjadi bersih tanpa adanya sampah plastik dan sebagainya. Pinggir jalanan juga tak ada sampah non organik yang berserakan. Serta tentu saja tidak ada asap yang membumbung tinggi nan pekat yang membahayakan kesehatan di sekitar rumah warga. Tentu saja hal ini akan membuat lingkungan dan badan kita menjadi lebih sehat.

Sabtu, 25 September 2021

Job Portal Lokal Berdaya Bersama HP

 


Perspektif masyarakat pada umumnya akan menganggap bisnis dan karir adalah sebuah dikotomi yang harus dibedakan. Bisnis di mata khalayak selalu identik dengan semangat entrepreneurship (kewirausahaan) yang mandiri dan tidak terikat dengan pihak manapun. Atau bahasa kerennya berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. Sedangkan istilah karir secara common sense lekat dengan jenjang kerja profesional di sebuah perusahaan atau instansi formal. Kalau saya sendiri, bila ditanya akan memilih karir atau bisnis, maka saya akan jawab dua-duanya. Menurut saya keduanya sama-sama penting. Seperti diketahui, saat ini saya tengah membangun bisnis yang erat kaitannya dengan jenjang karir profesional, yang berbasis teknologi digital.

Bisnis yang saya jalankan saat ini adalah sebuah job portal atau situs pencari kerja yang berfokus menyebarkan informasi lowongan kerja (loker) agar sampai ke pelosok desa atau daerah. Berdasarkan riset mandiri yang saya lakukan, bahwa job portal terbesar di Indonesia saat ini masih belum mampu menyebarkan informasi sampai ke pelosok daerah. Selain itu, menurut saya, angka pengangguran di Indonesia, khususnya di daerah tersebut disebabkan oleh kompetensi job seeker yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri dan minimnya informasi loker agar sampai ke pelosok masyarakat.

Pengangguran Terus Bertambah

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang terakhir, tercatat bahwa angka pengangguran nasional tahun 2019 mengalami eskalasi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. BPS merilis jumlah pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2019 berjumlah 7,05 juta orang, melonjak dari Agustus 2018 yang berkisar 7 juta orang. Angka pengangguran ini ternyata terus bertambah hingga mencapai dua juta orang di bulan Agustus 2020 akibat pandemi Coronavirus Disease (Covid-19), sehingga mencapai 9.77 juta orang. Ini adalah jumlah angka pengangguran yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengangguran di masa resesi ekonomi tahun 1998, yang mencapai 5,04 juta orang. Data-data tersebut menunjukkan bahwa pengangguran merupakan problematika besar bangsa Indonesia yang harus segera dicari solusinya.

Perlu diketahui, job portal berbasis internet terbukti telah berkontribusi besar dalam mengurangi jumlah tunakarya, dengan menyediakan informasi ribuan loker di situs daringnya setiap hari. Tentunya, hal ini sangat berfaedah bagi para pengangguran, terutama bagi mereka yang masih dalam usia produktif. Dengan referensi loker yang ekstensif di job portal, mereka akan mendapatkan banyak peluang guna memperbaiki jenjang karir, sehingga mampu meningkatkan taraf hidup. Atas alasan tersebut, saya membangun job portal yang khusus mengakomodir loker di daerah supaya masyarakat di pelosok dapat mengubah kondisi perekonomian mereka ke arah yang lebih baik dengan pekerjaan yang berkualitas untuk jenjang karir profesional. Job portal yang saya bangun sejak 1 September 2018 tersebut bernama Swadaya27.com.

Swadaya27.com saya jalankan masih seorang diri. Harapan ke depannya, saya punya tim atau partner yang memiliki satu visi dengan saya untuk mengembangkan job portal lokal ini agar dapat menyediakan loker-loker ke seluruh penjuru Indonesia. Tidak hanya itu, harapan ke depannya adalah bahwa Swadaya27.com juga bisa mengakomodir lowongan-lowongan bagi penyandang disabilitas. Di tahun ke tiganya ini, Swadaya27.com masih terus berbenah baik secara flow process bisnisnya sampai kepada optimalisasi UI/UX-nya. Swadaya27.com akan terus berprogres karena urgensi adanya job portal lokal adalah sebuah keniscayaan. Menurut saya, job portal lokal seperti Swadaya27.com dan lain sebagainya harus ada di Indonesia agar angka pengangguran di daerah dapat berkurang.

Pemberdayaan Lokal

Pemberdayaan masyarakat lokal adalah visi besar dari job portal Swadaya27.com. Saya juga mendedikasikan job portal Swadaya27.com untuk dapat dimanfaatkan oleh para usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) di daerah dan desa secara gratis, baik itu untuk mempromosikan produk mereka dan juga dimanfaatkan untuk posting loker. Harapannya, dengan membantu proses rekrutmen dari UMKM di daerah tersebut, maka proses bisnis usaha sampai taraf hidup masyarakat lokal juga akan terus berdaya.

Saya pun berkomitmen untuk mengembangkan usaha berbasis teknologi informasi ini menjadi sebuah perusahaan level nasional. Tentunya, saya membutuhkan infrastruktur dan perangkat yang mumpuni agar kegiatan operasional Swadaya27.com dapat optimal dan tetap terjaga. Sejak situs Swadaya27.com berdiri sampai sekarang ini, saya setia menggunakan laptop HP yang saya beli sejak tahun 2018. Saya merasakan sendiri betapa awetnya laptop HP CORE i3 ini untuk menjalankan roda operasional bisnis job portal.

Alasan saya memilih PCmobile workstation HP adalah karena spesifikasinya yang canggih, dengan harga yang murah. Untuk menjalankan bisnis job portal, laptop ini sangat mampu dan bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Saya bersyukur, selama lebih dari tiga tahun memakai laptop HP ini, tidak menjumpai hambatan yang besar. Bahkan sampai sekarang, laptop HP ini belum pernah direparasi ataupun tidak terlihat baterainya bocor. Selama saya bertemu dengan client, baik itu presentasi di kantor ataupun on the spot, saya tetap percaya diri karena laptop ini selalu siap tanpa masalah. Hal yang membuat saya suka tentu saja desainnya yang terbaik, dengan dominan warna hitam dan gelap elegan. Desainnya terlihat maskulin dan sangat profesional. Menurut saya, HP adalah juara dari laptop dengan desain terbaik. Terima kasih laptop HP CORE i3, karena telah menemani Swadaya27.com sampai detik ini!

Kamis, 19 Agustus 2021

Pendidikan Antikorupsi Untuk Pengawas Partisipatif

 


Beberapa tahun belakangan ini, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Republik Indonesia menggelar beberapa kali program kegiatan yang bernama Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP) di mana pesertanya direkrut dari beberapa kabupaten/kota. SKPP sendiri merupakan salah satu program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang sejalan dengan kebijakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) guna membumikan pendidikan politik bagi publik. SKPP sejatinya telah digagas sejak tahun 2018 dan visi utamanya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pengawasan Pemilu. Setiap tahunnya pun, jumlah partisipasi dan antusiasme masyarakat terhadap program kegiatan ini terus meningkat.

Di tahun 2021 ini, SKPP juga akan dilangsungkan seperti halnya pada tahun-tahun sebelumnya dengan peserta yang diseleksi untuk mengakomodir keterwakilan wilayah di seluruh Indonesia, gender, profesi dan peserta disabilitas. Keberadaan pengawas partisipatif di masyarakat ini dapat dikatakan sebagai sebuah inovasi yang advance sekaligus breakthrough bagi Bawaslu. Tentunya kita patut apresiasi adanya sekolah yang akan memfasilitasi pendidikan bagi masyarakat yang memiliki keinginan untuk menjadi kader pengawas partisipatif. Di tambah lagi, Bawaslu juga telah mengembangkan inovasinya ke ranah digitalisasi dengan lahirnya aplikasi ‘Gowaslu’ yang memudahkan masyarakat untuk melakukan pemantauan dan pelaporan terhadap dugaan pelanggaran dalam proses Pemilu.

Seperti diketahui bersama, bahwa mengawal proses Pemilu sama halnya dengan mengokohkan salah satu pilar demokrasi. Apabila ada masyarakat yang berkeinginan untuk tergerak dalam pengawasan partisipatif, tentu itu adalah sebuah inisiatif yang mulia. Keikutsertaan masyarakat dalam pengawasan partisipatif tentu akan berdampak pada proses Pemilu yang akan menjadi lebih bersih dan antikorupsi. Jika kita telaah lebih mendalam, keberadaan pengawas partisipatif akan mampu menekan angka pelanggaran Pemilu di masyarakat. Alhasil kinerja Bawaslu tentu akan semakin optimal dan terbantu dengan adanya pengawas partisipatif ini.

Hubungan antara pengawasan proses Pemilu dengan semangat demokrasi sangatlah lekat sekali. Pengawasan terhadap proses Pemilu artinya mengawal proses bergantinya pemimpin agar dapat berjalan secara konstitusional dan tidak terciderai. Hal ini dikarenakan, pelanggaran Pemilu merupakan perilaku koruptif yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan sering kita jumpai pada tahun-tahun politik.

Beberapa kategori pelanggaran pemilu yang seringkali terjadi di masyarakat, di antaranya adalah pelanggaran administrasi, pelanggaran tindak pidana Pemilu dan pelanggaran kode etik Pemilu. Dari ketiga kategori tersebut, pengawas partisipatif tentu bisa berkontribusi dalam mekakukan pengawasan dan memberikan pelaporan apabila terjadi pelanggaran. Maka dari itu, untuk menghasilkan pengawas partisipatif yang memiliki integritas tinggi tersebut, perlu adanya pendidikan antikorupsi bagi peserta SKPP Bawaslu ini.

Pendidikan antikorupsi perlu menjadi bekal bagi para peserta peserta SKPP karena sangat bermanfaat untuk membentengi diri dari perilaku koruptif. Membentegi agar diri sendiri tidak tergoda melakukan pelanggaran atau supaya dapat melakukan surveillance terhadap proses Pemilu di masyarakat. Bentuk meteri pendidikannya dapat berupa kurikulum yang intinya memperkenalkan kepada sembilan nilai antikorupsi yang digagas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kesembilan nilai tersebut adalah Jujur, Peduli, Disiplin, Mandiri, Tanggung Jawab, Kerja Keras, Sederhana, Berani dan Adil yang tentunya sangat relevan apabila diterapkan dalam aktivitas pemantauan partisipatif. Apabila kita coba telaah, kesembilan nilai antikorupsi tersebut masuk ke dalam spirit diri para kader pengawas partisipatif.

Beberapa saran untuk kurikulum di SKPP yang relevan terhadap semangat antikorupsi antara lain “Bawaslu dan Pengawasan Partisipatif”, “Urgensi Pengawasan Partisipatif”, “Implementasi Nilai Antikorupsi dalam Praktik Pengawasan Partisipatif”,  “Praktik dan Masa Depan Pengawasan Partisipatif”, “Menumbuhkan Budaya Pengawasan Partisipatif”, “Cara Melaporkan Pelanggaran Pemilu”, “Cara Mencegah Pelanggaran Pemilu” dan “Mengawasi Pemilu: Mengamankan Diri dan Data dalam Aspek Hukum”. Beberapa saran kurikulum tersebut setidaknya mampu memberikan pemahaman dari pandangan filosofis yang holistik sampai ke teknis pengawasan partisipatif di masyarakat. Hasilnya adalah menguatnya integritas para peserta SKPP setelah mengikuti pendidikan antikorupsi ini. Harapannya juga, para peserta SKPP juga mempunyai bekal untuk menjadi penyuluh dan agen antikorupsi di masyarakat.

Terlebih saat ini organisasi Bawaslu juga sedang menuju predikat Zona Integritas (ZI), di mana lembaganya memiliki komitmen dalam upaya pencegahan korupsi, reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Dengan adanya bekal pendidikan antikorupsi bagi para pengawas partisipatif ini, harapan kedepannya Bawaslu dapat menjadi Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) yang terstandarisasi dari sisi manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan sistem manajemen sumber daya manusia (SDM), penguatan pengawasan dan akuntabilitas kinerja.

Kita tahu bahwa kader SKPP juga bisa menjadi agen yang dapat ikut mensosialisasikan hukum Pemilu kepada masyarakat, bahkan kepada peserta Pemilu juga. Sedangkan nilai-nilai pengawasan yang menjadi inti dari materi SKPP sangat sejalan dengan semangat antikorupsi, agar jalannya proses Pemilu dapat berjalan langsung, umum, bebas dan rahasia (Luber) serta jujur dan adil (Jurdil). Ibarat peribahasa ”Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”, maka posisi kader SKPP sangatlah strategis fungsinya guna membumikan nilai-nilai pengawasan dan antikorupsi. Dengan tegaknya hukum Pemilu, maka potensi pelanggaran pun dapat diminimalisir.

Mungkin saja di masa depan, “Pusat Pendidikan Pengawasan Partisipatif” yang telah digagas oleh Bawaslu bisa berkembang menjadi sebuah pusat studi layaknya Pusat Edukasi Antikorupsi (Anti-Corruption Learning Center) di KPK. Dengan benchmark yang ada di KPK, harapannya tempat tersebut nantinya akan berkembang menjadi “Pusat Edukasi Pengawasan Pemilu” sebagai tempat belajar bagi siswa, mahasiswa sampai masyarakat umum yang ingin mendapatkan informasi penting tentang pengawasan partisipatif. Setelah jejaring kader pengawas partisipatif ini menyebar ke seluruh Indonesia, harapannya “Pusat Edukasi Pengawasan Pemilu” bisa menjadi prioritas wacana yang perlu dikaji urgensinya di Bawaslu.

Keberadaan pengawas partisipatif juga dapat menjadi unsur kontrol sosial guna mencegah kejahatan Pemilu, sesuai dengan social control theory. Pengawas partisipatif bisa berkesempatan untuk melaporkan dan membuat rekomendasi atau kajian terkait dugaan pelanggaran Pemilu yang terjadi di lingkungannya. Tentunya, segala aktivitasnya tetap harus sejalan dengan visi dan misi Bawaslu. Bila diibaratkan, kurikulum antikorupsi dapat menjadi katalis bagi materi SKPP yang sudah ada pada tahun-tahun sebelumnya agar lebih berdampak positif dan maksimal.

Terakhir, menjadi pengawas partisipatif saat gelaran Pemilu adalah sebuah posisi yang terbilang cukup rentan. Pengawas partisipatif yang bekerja sesuai dengan aturan akan menjadi sasaran utama para pelanggar Pemilu. Pelaporan terhadap tindakan pengawas partisipatif juga kemungkinan bisa terjadi. Layaknya aktivis atau agen antikorupsi yang seringkali menerima intimidasi di dunia nyata maupun di dunia maya, misalnya perundungan (bullying), pencemaran data diri (doxing), pencemaran nama baik (denigration) sampai peretasan (hacking). Maka dari itu perlu adanya usul kurikulum tentang “Mengawasi Pemilu: Mengamankan Diri dan Data dalam Aspek Hukum”, di mana fungsinya adalah untuk melindungi para pengawas partisipatif tidak dikriminalisasi. Apabila dari kawan-kawan kader pengawas partisipatif ada yang mendapatkan ancaman di dunia maya, bisa langsung melaporkannya ke id.safenet.or.id atau s.id/laporserangan supaya mendapatkan perlindungan digital.

Seperti kasus yang cukup mengemuka pada Pemilu 2014 yang menimpa Ronny Maryanto yang dilaporkan oleh salah satu tim sukses ke kepolisian karena melaporkan adanya politik uang. Ibaratnya kasus ini menjadi samacam penyebar ketakutan atau fear of crime bagi masyarakat yang ingin berkontribusi terhadap pengawasan partisipatif. Jangan sampai pengawasan masyarakat menjadi simulakra belaka. Maka dari itu, dari Bawaslu ke depannya perlu membantu perlindungan bagi pelapor dugaan pelanggaran Pemilu agar tidak dikriminalisasi, termasuk kepada kader pengawas partisipatif. Hal ini dilakukan supaya pelaksanaan pemilu bisa Jurdil. Salam Awas!

Senin, 26 Juli 2021

Menyelami Adicita Imaji Batik Priangan

Batik adalah buah kebudayaan masyarakat Indonesia yang telah diakui oleh dunia internasional, melalui The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2 Oktober 2009 sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda. Kesenian batik di Indonesia tumbuh sangat subur beserta bermacam-macam falsafah, serta datang dari berbagai daerah di nusantara dengan berbagai jenis coraknya. Setiap jenis batik mempunyai filosofi tertentu yang tertuang ke dalam imaji visualnya yang sangat beragam, di sesuaikan dengan kebudayaan lokal asalnya masing-masing. Setelah diselami lebih dalam ternyata makna historis dan antropologis, batik bukanlah sekedar karya busana, namun juga buah pikir masyarakat yang penuh dengan karakter serta perjuangan manusia di dalamnya.

Memahami batik berarti memahami tentang manusia. Kita bisa merasakan betapa leluhur kita memiliki cita rasa yang tinggi dalam aspek berkesenian. Warisan dari leluhur ini menjadi bukti bahwa aspek estetika selalu lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Bahkan leluhur kita telah berhasil menuangkan adicita imaji yang ada dalam pikiran serta perasaan kolektif masyarakatnya ke dalam kain batik yang sarat akan identitas. Sedangkan salah satu jenis karya batik yang sangat menarik untuk diselami gagasannya adalah Batik Priangan.

Batik Priangan sungguh mempesona karena mempunyai ragam motif yang sangat kaya dan berwarna-warni. Sumber inspirasi coraknya pun berasal dari fenomena alam: flora dan fauna. Berdasarkan buku “The Dancing Peacock, Colours and Motifs of Priangan Batik” karya Didit Pradito, Herman Jusuf dan Saftiyaningsih Ken Atik, disebutkan bahwa peristiwa sejarah, kondisi alam raya dan tata nilai sosial-budaya menjadi sumber inspirasi para pembatik Priangan. Hal inilah yang membuat identitas Batik Priangan begitu kuat, serta khalayak umum dapat langsung mengidentifikasi dan mengenal corak khasnya ini.

Berdasarkan sumber letak geografisnya, Batik Priangan berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat seperti dari kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis. Sampai saat ini, tradisi kriya Batik Priangan masih lestari di kabupaten-kabupaten tersebut. Hal ini terlihat dari masih hidupnya industri-industri batik yang telah beroperasi lebih dari setengah abad. Berbagai pusparagam kelir Batik Priangan yang masyhur di masyarakat antara lain awi ngarambat alias bambu merambat, merak ngibing atau merak menari, laba-laba, burung keladi, gurami dan daun talas. Jenis corak tersebut termasuk dalam kategori Batik Priangan Tasikmalaya, di mana ciri khasnya adalah suasana keindahan flora dan fauna di tanah Priangan.  

Ada pula jenis Batik Priangan Garutan yang lekat dengan corak dasar bernuansa geometrik. Sedangkan pola yang seringkali didesain adalah corak belah ketupat. Sama halnya dengan Batik Priangan Tasikmalaya, Batik Priangan Garut sumber inspirasinya juga berasal dari kondisi lansekap pada masyarakat Garut yang hidup di kontur bentang alam berlereng-lereng dan sejuk. Alhasil beberapa motif estetiknya yang prominen antara lain bulu hayam alias bulu ayam, lereng kangkung, merak ngibing, lereng dan cupat manggu. Kesemua varian yang ada merupakan nilai kearifan lokal budaya Sunda dan akan terasa kian transenden saat sudah terpatri di atas kain.

Sebenarnya masih banyak lagi varian Batik Priangan yang ada di Jawa Barat berdasarkan khasanah historiografi. Berdasarkan buku “Batik Priangan (Sebuah Pengantar)” karya Yan Yan Sunarya, disebutkan bahwa ada beberapa motif kain batik Jawa Barat itu bahkan kini sudah tidak dikenal lagi, hingga sulit untuk dirunut kembali keasliannya (Morissan, 2005). Namun kita masih bisa melihat dokumentasinya pada Museum Tekstil Jakarta, tempat di mana adikarya kebudayaan seni kriya nusantara tersebut tersimpan. Untuk itu, demi melestarikan pendokumentasian buah kebudayaan tanah Priangan ini, pemerintah sangat perlu untuk membangun sebuah “Museum Batik Priangan”. Urgensinya sangat mendesak, karena menyangkut pelestarian artefak kebudayaan masyarakat yang sangat perlu untuk diselamatkan demi generasi mendatang.

Maksud dan tujuan dari pembangunan sebuah gedung “Museum Batik Priangan” adalah antara lain:

·         Sebagai usaha konservasi dan pelestarian budaya Batik Priangan agar tidak punah.

·         Sebagai sarana edukasi dan warisan bagi generasi muda.

·         Pusat informasi bagi publik apabila ingin belajar tentang Batik Priangan.

·         Sebagai wadah untuk melaksanakan kegiatan pameran, diskusi dan seminar tentang batik.

Apabila “Museum Batik Priangan” ini telah berdiri, maka kelestarian keindahan Batik Priangan akan terus terjaga selamanya. Tak hanya itu, walau sampai kapan pun juga sampai generasi berikutnya, siapa pun dapat menyelami keindahan adicita imaji Batik Priangan yang merupakan salah satu buah kebudayaan Sunda. Memahami Batik Priangan, dengan mengutip dari buku “The Dancing Peacock, Colours and Motifs of Priangan Batik” berarti kita akan bisa memahami karakter masyarakarakat Priangan pada umumnya, yang sederhana, apa adanya, terbuka, komunikatif, pluralis, cantik-molek dan bahkan sedikit genit. Semoga keindahan Batik Priangan ini akan akan tetap abadi sampai kapan pun dan dapat dinikmati oleh siapa pun.