Jumat, 28 Januari 2022
Kamis, 30 Desember 2021
Pesona Tanaman Bonsai Khas Indonesia
Saat ini pengaruh seni tradisional hortikultura bonsai sudah menyebar sampai ke pelosok desa di Indonesia. Bonsai juga merupakan warisan kuno seni botani yang terus bertahan sampai sekarang. Bonsai tidak hanya digemari oleh orang kalangan elite saja, melainkan juga pada kalangan masyarakat ekonomi biasa saja pun dapat menikmatinya. Berdirinya komunitas Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) dengan sebaran cabangnya yang ada di mana-mana, menandakan bahwa budaya bonsai sudah terpenetrasi lebih luas di masyarakat Indonesia. Sejauh ini, kiblat seni bonsai di Indonesia sangat terpengaruh oleh gaya tradisi Jepang dan Cina. Hal ini memang tidak bisa dipungkiri, karena pada dasarnya akar seni bonsai berasal dari wilayah Asia Timur. Sehingga sampai sekarang ini, proses akulturasi kebudayaan bonsai di ranah lokal masih begitu terasa nuansa asalnya.
Hobi bonsai ini terbilang unik secara pengejawantahannya. Siapa pun bisa mengkreasikan imajinasinya ke dalam tanaman dalam pot dangkal tersebut. Meskipun secara falsafah, bonsai yang baik memiliki aturan-aturan secara kultural tersendiri, namun ternyata implementasi di suatu wilayah terkadang begitu kontekstual menyesuaikan kondisi rasam masyarakatnya. Ada yang sangat patuh terhadap kanun perbonsaian. Ada pula yang berpikir out of the box dalam merancang serta memelihara bonsainya. Keduanya aliran menjadi sebuah dinamika yang harus terus tumbuh di jagat perbonsaian. Intinya, harus ada kelindan antara pendekatan hortikultura dengan dimensi estetika.
Di Indonesia, kontekstualisasi kultur bonsai terlihat dari bibit tanaman yang digunakannya. Bila di dunia internasional, bonsai seringkali didominasi oleh tanaman pohon pinus dan cemara, di Indonesia tanaman khasnya justru akan sangat memperkaya khasanah perbonsaian. Pendaman lokal yang khas Indonesia ternyata berjumlah banyak serta sangat pas apabila dijadikan sebagai bahan bonsai. Bila dianalisa, ada empat jenis tanaman Indonesia yang acap kali dijadikan bonsai oleh masyarakat di Indonesia.
1. Asam Jawa
Tamarindus indica atau sering disebut asam jawa (asem jawa menurut dialek lokal) adalah tanaman bonsai khas Indonesia yang paling populer dengan prospek harga jual fantastis. Alasan penghobi memilih asam jawa karena secara morfologi, tanaman ini yang paling ideal untuk dijadikan bonsai. Daunnya kecil dan dapat lebih kecil lagi ketika sudah berada pada media pot. Berbatang keras dengan tekstur kulitnya yang terkesan tua serta angker. Atmosfer kelokalan bonsai asam jawa sangat begitu terasa. Bila kita memandangi bonsai asam jawa di dalam pot tentu akan menemui kemiripan dengan yang aslinya di alam bebas.
Tidak hanya itu, bonsai tanaman tropis ini juga dapat dikonstruksikan layaknya cemara ataupun pohon-pohon subtropis lainnya. Jadi, kita bisa mengatur gerakan perantingan bonsai asam jawa sesuai dengan keinginan. Baik itu akan disesuaikan dengan gaya perbonsaian klasik, ataupun sesuai fantasi pemilik sendiri. Semakin tua usia bonsai asam jawa, biasanya akan sudah dapat berbuah di dalam pot. Hal ini tentu saja menjadi nilai plus dalam unsur estetika bonsai asam jawa tersebut.
Untuk membuat bahan bonsai dari tanaman asam jawa, biasanya masyarakat mempraktikkan tiga macam teknik. Pertama, cangkok atau stek. Teknik ini yang paling mudah dilakukan untuk membuat bonsai asam jawa dan terkesan cenderung instan dibandingkan lagam lainnya. Cara ini dinilai sangat cocok bagi orang yang ingin lekas mendapatkan bentuk pokok kayu bonsai yang kokoh dengan ranting yang sudah rimbun. Kedua adalah teknik grounding, yaitu dengan cara menanam bahan bonsai ke dalam tanah lapang. Trik ini dilakukan supaya batang bonsai dapat cepat membesar secara natural (tanpa pengkerdilan dari kecil) karena nutrisi di tanah lapang yang jauh lebih melimpah. Terkadang penghobi juga ikut memendam pot atau polibagnya sekaligus agar ketika sewaktu-waktu diangkat, akar bonsainya tidak terlalu berjibun menjalar kemana-mana. Ketiga, mulai program dari biji. Teknik ini dilakukan oleh pebonsai yang sabar dan ingin menghasilkan bonsai yang sesuai dengan program serta kaidah kebutuhannya.
Apapun teknik yang diterapkan, hasil akhir bonsai asam jawa yang sudah jadi memang begitu menawan. Nuansa natural tanaman berdaun lebat khas daerah dengan curah hujan tinggi memang menjadi magnet tersendiri. Tak heran, bonsai asam jawa sering menjuarai kontes. Keunikan Indonesia dalam khasanah perbonsaian ini terletak pada keeksotisan floranya yang elok.
2. Serut
Serut atau Streblus asper adalah tanaman berbatang keras, tumbuh liar dan sering dijumpai di kebun (kebon) warga. Di desa-desa, kita masih sering menemui pohon serut, terutama di pagar perbatasan tanah antar kebun. Selain di kebun, serut juga tumbuh subur di hutan kawasan Indonesia, Kamboja, Thailand, India, Sri Lanka, Malaysia dan Vietnam. Pada habitat liarnya, nilai ekonomi dari pohon serut cenderung kurang berharga. Namun, apabila tanaman ini sudah diprogram sedemikian rupa untuk bonsai, harganya bisa melambung tinggi. Serunya memiliki hobi bonsai ini salah satunya ialah bahwa tanaman kerdil ini bisa menjadi sarana investasi. Karena semakin tua tanaman, harganya akan melambung tinggi.
Serut ini merupakan tanaman khas Indonesia yang terkenal sekali soal keangkerannya. “Kalau malam-malam lewat kebon, jangan dekati pohon serut itu ya” adalah ungkapan yang sering dilontarkan oleh orang-orang di pedesaan pada zaman dulu. Banyak cerita rakyat beredar yang mengaitkan serut dengan adanya penunggu makhluk astral di sekitarnya. Namun itu sendiri merupakan mitos dan legenda. Terlepas itu semua, serut adalah bahan bonsai yang sangat cantik dan elegan. Tak hanya sebagai bahan bonsai saja, serut juga sering digunakan sebagai tanaman dekorasi untuk taman.
Batang serut tampak keras nan kokoh. Hal ini menambah sensasi citra naturalnya apabila sudah dipindahkan ke dalam pot bonsai. Ditambah lagi, daun serut yang sudah dibonsai biasanya akan mengecil secara alamiah, dengan ukuran setengah dari bentuk aslinya di alam liar. Bonsai serut juga termasuk gampang dalam perawatannya. Tanaman ini tahan pada kondisi media tanam kering, meskipun begitu jangan sampai tidak disiram sama sekali. Serut juga merupakan tanaman yang sangat mudah sekali untuk dibentuk-bentuk sesuai dengan pretensi penghobinya.
Untuk bahan bonsai serut ini, biasanya bisa didapatkan dengan cara stek dan dongkelan di alam liarnya. Kita bisa lihat, misalnya di kanal Youtube banyaknya penghobi yang mendongkel akar atau memotong batang serut dari alam, hutan atau habitatnya. Cara ini yang paling efisien untuk mendapatkan bahan bonsai serut, karena jarang sekali penghobi yang memprogramnya dari biji. Selain itu, saat ini kita tidak perlu repot-repot ke hutan ataupun kebon untuk berburu bahan bonsai serut. Cukup melalui pemesanan di marketplace saja, kita sudah banyak mendapatkan referensi serta opsi aneka bahan bonsai serut yang dijual dengan harga yang sangat terjangkau.
3. Kelapa
Indonesia merupakan salah satu negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia. Salah satu ciri dari ekosistem maritim adalah banyaknya tumbuhan bergenus cocos alias kelapa di sepanjang garis pantai. Secara kultural tanaman bonsai identik dengan tumbuhan dikotil berbatang kambium. Namun di Indonesia, kreasi masyarakat yang hidup di daerah tropis menjadikan tanaman kelapa sebagai bonsai bonsai yang indah serta potensial. Kelapa yang tumbuh subur di bumi nusantara ini adalah potret keeksotisan yang tiada duanya. Bisa dibilang kelapa merupakan salah satu ciri khas flora di negara maritim tercinta ini. Mungkin saja, kuantitas budidaya bonsai kelapa di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia.
Bonsai kelapa terbilang paling sulit perawatannya dibandingkan tanaman lainnya. Misalnya, batang bonsai retak saja akan menimbulkan kematian pada tanaman. Tidak hanya itu, akar yang terpangkas dan adanya serangan hama kumbang saja akan menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Dapat dikatakan kelapa jauh lebih ringkih dan rentan dibandingkan bahan bonsai lainnya. Namun dari segi artistik, pesonanya tiada duanya. Apabila kita merawatnya dengan sabar dan telaten, maka kita akan mendapatkan tampilan visualnya yang elok.
Secara teknik, bonsai kelapa hanya bisa ditumbuhkan dengan biji atau buah kelapa yang sudah tua saja. Sudah jelas, bonsai kelapa ini tidak bisa distek ataupun dicangkok. Kalaupun dibudidayakan dengan teknik grounding, resiko untuk batang retak ataupun akar yang kurang tercabut akan mengakibatkan kematian terhadap tanaman. Jadi memang yang paling aman adalah pembibitan bonsai dengan menggunakan buahnya. Biasanya penghobi akan membudidayakan lebih dari satu bonsai kelapa di rumahnya. Hal ini dikarenakan membudidayakan bonsai kelapa ini cukup membuat ketagihan. Satu tanaman bonsai kelapa saja rasanya tidak cukup.
4. Beringin
Beringin tumbuh subur di kawasan Asia dan Australia. Tanaman bergenus ficus ini merupakan bahan bonsai yang paling mudah didapatkan di Indonesia. Kita bisa menemui beringin, mulai dari tembok bangunan, tebing batu sampai sekitar daerah aliran sungai. Perawatannya pun tergolong paling mudah. Tanaman ini sangat tahan banting, baik itu di kondisi berair ataupun kering. Sehingga, bagi para pebonsai pemula, tanaman beringin ini bisa menjadi pilihan terbaik untuk belajar membuat bonsai.
Anda pernah melihat bangunan keajaiban dunia, Angkor Wat di Kamboja? Situs bersejarah tersebut kondisinya saat ini tengah terlilit pohon beringin tua yang membuatnya terlihat sangat indah sekaligus kuno. Bahkan, tak jarang penghobi yang mengambil tema Angkor Wat itu sebagai sumber inspirasi dalam konsep bonsai beringinnya. Hal ini dikarenakan, beringin mempunyai akar gantung dan jalar yang bisa dibentuk-bentuk sesuka hati. Jadi, tak jarang apabila bonsai beringin seringkali dililitkan pada miniatur bangunan, candi ataupun bongkahan batu.
Kepopuleran bonsai beringin hampir menyamai pesona asam jawa. Dari segi batang, bonsai beringin lebih cepat terbentuk struktur kokoh nan kunonya. Keangkerannya juga tampak di sekujur batang beserta akar gantungnya yang terkesan mistis. Namun kekurangan dari bonsai beringin ada di daun yang sulit untuk dikerdilkan. Sehingga saat dijadikan bonsai, tanaman cenderung kurang natural seperti di alam liar. Meskipun begitu, dari segi struktur batang beringinlah juaranya. Tanaman ini begitu gagah dan sangat pas untuk berada di pot. Biasanya saat di acara kontes, bonsai beringin digunduli daunnya sehingga hanya menampakkan sisi gahar dari pohonnya. Seringkali, pemenang dari kontes bonsai ini adalah dari pohon beringin.
Sebenarnya masih banyak lagi tanaman khas Indonesia yang lumrah dijadikan bonsai. Misalnya saja waru, sisir, wahong sampai kawista. Namun, menurut pengamatan, keempat bonsai yang telah dielaborasikan di ataslah yang paling populer dan pengaruhnya signifikan di kancah perbonsaian lokal. Dari keempat tanaman bonsai khas Indonesia tersebut, manakah yang menjadi favorit anda?
Minggu, 28 November 2021
Krusialitas Kurikulum Media Sosial di Sekolah
| Sumber: freepik.com |
Media sosial (medsos) pada zaman sekarang ini telah memegang peranan
yang amat penting dalam menciptakan integrasi bangsa. Pemanfaatan medsos yang
positif akan menjadi obat mujarab untuk meredam konflik sosial yang dapat
memecah belah kesatuan bangsa. Berdasarkan data riset dari perusahaan media
asal Inggris, We Are Social, jumlah
penduduk Indonesia per Januari 2021 adalah 274,9 juta. Sedangkan jumlah
pengguna medsos aktifnya sebanyak 170 juta orang atau sekitar 61,8% dari jumlah
total populasi di Indonesia. Artinya, kita harus benar-benar waspada terhadap
potensi konflik yang tercipta akibat penggunaan medsos secara negatif. Ini
adalah sebuah pekerjaan besar untuk bangsa Indonesia agar kita senantiasa dapat
terus utuh dan terhindar dari ancaman disintegrasi.
Untuk menekan potensi konflik yang tak berujung di medsos, tentunya
masyarakat Indonesia harus sudah membudayakan toleransi di jagat maya. Masyarakat
Indonesia ini terbilang unik. Di kehidupan nyata, masyarakat Indonesia terkenal
dengan keramahannya, murah senyum dan cenderung mudah menerima orang lain.
Namun, di medsos, masyarakat kita menjadi agresif, barbar dan tak jarang melakukan konflik yang berkaitan dengan suku,
agama, ras dan antar golongan (SARA). Bahkan beberapa riset dari luar negeri
pun menyebut bahwa netizen Indonesia
di medsos adalah yang paling tidak sopan di sedunia. Hal ini tentunya akan
menimbulkan tanda tanya besar bagi kita semua. Mengapa ada perbedaan sifat
masyarakat Indonesia saat di dunia nyata dan saat di platform medsos?
Jawaban yang paling mendekati kebenarannya adalah bahwa
internalisasi nilai sopan santun dan toleransi, sampai saat ini belum sampai ke
ranah medsos. Artinya, kita selama ini tidak pernah atau cenderung minim diajari
secara kultural untuk toleran di medsos. Bila di kehidupan nyata, kita sering
dinasehati dan diedukasi oleh orang sekitar, maka di dunia maya—yang merupakan kultur
teknologi informasi baru khas era pasca milenium, kita belum mempunyai
instrumen nilai yang baku sebagai bahan acuannya. Norma yang terbentuk di
medsos belum sekuat dan serigid dengan apa yang ada di dunia nyata. Medsos
adalah dunia baru dengan sengkarut aturan rimba belantara beserta percakapan
yang terlampau liar. Lalu apakah kita terlambat mengatasi ancaman disintegrasi
bangsa ini? Tentu saja tidak.
Kita masih punya kans besar untuk memutus mata rantai permasalahan
yang diakibatkan oleh pemanfaatan medsos yang tidak bertanggung jawab tersebut.
Maka dari itu, kita perlu menyasar untuk melakukan pemberadaban medsos yang
baik bagi generasi muda. Mereka adalah tunas muda yang harus kita lindungi dari
kekalutan yang pernah orang dewasa lakukan di generasi awal munculnya medsos
ini. Jadi, tentunya masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya tersebut. Maka
dari itu, kita memerlukan peranti untuk membudayakan toleransi dalam bermedsos,
yakni melalui sebuah kurikulum di sekolah formal. Dengan hadirnya kurikulum
bermedsos ini, maka pembudayaan toleransi dalam bermedsos akan mulai dapat mengemuka
di masyarakat, khususnya pada generasi muda.
Seperti kita ketahui, evolusi penggunaan medsos selama ini telah
berubah dan berkembang. Dulu medsos digunakan sebagai ajang mencari teman baru,
namun sekarang telah menjadi arena pertempuran, misalnya pada saat tahun-tahun
politik. Berbagai macam warita bohong alias hoax
dan hasutan adu domba bertebaran di mana-mana. Adanya perseteruan antar
golongan yang memainkan isu SARA di medsos merupakan sesuatu hal yang tidak
boleh dibenarkan. Maka dari itu, pentingnya kurikulum medsos di maktab adalah sungguh
mendesak untuk meredam konflik yang memainkan isu SARA yang ada di internet.
Krusialitas adanya kurikulum ini merupakan sebuah keniscayaan bagi generasi
muda.
Tidak hanya pada tarikh politik saja medsos memanas. Setelah
dihadapkan dengan tahun politik yang penuh polemik tersebut, medsos kembali
dihebohkan dengan persoalan pandemi Covid-19
yang menjadi area pertempuran narasi baru. Berita kibul soal pandemi dan konspirasi
yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebut telah membuat pemerintah
kewalahan. Padahal, jika kita semuanya sebagai masyarakat bisa patuh, tertib
dan saling bekerja sama untuk menyelesaikan pandemi ini bersama-sama, maka
pagebluk ini akan lebih cepat berakhir. Rentetan berita dan informasi hoax tersebutlah yang membuat kita kesulitan
keluar dari masa-masa krisis seperti saat pandemi tersebut.
Di tengah pandemi dan krisis, kita sebagai generasi muda haruslah
menyebarkan pesan yang positif kepada publik. Pesan narasi yang sejuk serta
damai adalah oase di tengah ketakutan dan kekhawatiran masyarakat. Petuah
perdamian dan upaya menghindari friksi SARA adalah sesuatu upaya yang harus
selalu disebarkan. Dengan begini, faktor-faktor yang menyebabkan disintegrasi
bangsa juga akan memudar.
Sekali lagi, etika bermedsos sudah dapat dikatakan sebagai cara sopan santun di era teknologi informasi. Dulu, orang tua kita selalu mengajarkan sopan santun dan tata krama di kehidupan nyata. Namun, kini sejak adanya dunia maya, yang juga merupakan bagian dari dunia nyata dengan akses jangkauan tidak terbatas, maka sopan santun di medsos perlu diajarkan. Etika bermedsos akan menjadi pengingat bahwa kita ini adalah bangsa yang beragam, sehingga apapun ucapan kita jangan sampai memecah belah keberagaman di dalamnya. Kita butuh lebih banyak anak muda yang berani bersuara untuk menyebarkan pesan perdamaian di Indonesia. Lalu, apakah kita semua sudah menyampaikan pesan perdamaian hari ini?
#SuperBercerita
Minggu, 17 Oktober 2021
Kehadiran Bank Sampah Di Pedesaan
Isu persampahan di pedesaan masih
menjadi persoalan yang cukup elusif untuk digentaskan. Kita masih sering
menemui penduduk desa yang membuang sampah di sungai, bahkan sisa konsumsi
warga di tumpuk di pinggir jalan yang bukan semestinya. Di desa, seperti yang
saya alami, selain dibuang sembarangan, sampah juga masih dikelola secara
mandiri dan dibakar jika sudah menumpuk di rumah. Akibatnya, terjadi polusi
udara yang cukup fatal karena tak jarang anak-anak dan balita yang mengalami
Bronkitis karena paparan tabun pembakaran sampah tersebut. Untuk menangani problem
tersebut, beberapa pakar dan pegiat lingkungan akan menyarankan dibentuknya “Bank
Sampah” untuk menyelesaikan perkara ini.
Kehadiran Bank Sampah di desa
adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan saat ini, terutama untuk menanggulangi
permasalahan sampah skala rumah tangga. Bank Sampah yang ada di desa biasanya
menjadi bagian dari unit Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang keuntungannya
dapat dimanfaatkan oleh desa untuk kegiatan operasional. Maka dari itu,
sosialisasi pentingnya pembangunan BUMDes berupa Bank Sampah perlu dimasifkan kembali
oleh pemerintah. Seperti diketahui, proyek Bank Sampah sudah ada sejak tahun
2008. Program ini pun dinilai telah menjadi salah satu sarana penggerak
perekonomian di desa yang cukup efektif. Meskipun BUMDes Bank Sampah tersebut
nantinya tidak mendapatkan profit
yang tinggi, namun setidaknya lingkungan desa menjadi lebih bersih dan terawat.
Andaikan saja, di setiap desa di
Indonesia terdapat BUMDes Bank Sampah, maka bisa dibayangkan betapa lestarinya
lingkungan tempat tinggal kita di masa depan. Sungai-sungai menjadi bersih
tanpa adanya sampah plastik dan sebagainya. Pinggir jalanan juga tak ada sampah
non organik yang berserakan. Serta tentu saja tidak ada asap yang membumbung
tinggi nan pekat yang membahayakan kesehatan di sekitar rumah warga. Tentu saja
hal ini akan membuat lingkungan dan badan kita menjadi lebih sehat.
Sabtu, 25 September 2021
Job Portal Lokal Berdaya Bersama HP
Perspektif masyarakat pada umumnya akan menganggap bisnis
dan karir adalah sebuah dikotomi yang harus dibedakan. Bisnis di mata khalayak
selalu identik dengan semangat entrepreneurship
(kewirausahaan) yang mandiri dan tidak terikat dengan pihak manapun. Atau
bahasa kerennya berdikari alias
berdiri di atas kaki sendiri. Sedangkan istilah karir secara common sense lekat dengan jenjang kerja
profesional di sebuah perusahaan atau instansi formal. Kalau saya sendiri, bila
ditanya akan memilih karir atau bisnis, maka saya akan jawab dua-duanya. Menurut
saya keduanya sama-sama penting. Seperti diketahui, saat ini saya tengah
membangun bisnis yang erat kaitannya dengan jenjang karir profesional, yang
berbasis teknologi digital.
Bisnis yang saya jalankan saat ini adalah sebuah job portal atau situs pencari kerja yang
berfokus menyebarkan informasi lowongan kerja (loker) agar sampai ke pelosok
desa atau daerah. Berdasarkan riset mandiri yang saya lakukan, bahwa job portal terbesar di Indonesia saat
ini masih belum mampu menyebarkan informasi sampai ke pelosok daerah. Selain
itu, menurut saya, angka pengangguran di Indonesia, khususnya di daerah
tersebut disebabkan oleh kompetensi job
seeker yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri dan minimnya informasi
loker agar sampai ke pelosok masyarakat.
Pengangguran Terus
Bertambah
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang
terakhir, tercatat bahwa angka pengangguran nasional tahun 2019 mengalami
eskalasi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. BPS merilis jumlah
pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2019 berjumlah 7,05 juta orang,
melonjak dari Agustus 2018 yang berkisar 7 juta orang. Angka pengangguran ini
ternyata terus bertambah hingga mencapai dua juta orang di bulan Agustus 2020
akibat pandemi Coronavirus Disease
(Covid-19), sehingga mencapai 9.77 juta orang. Ini adalah jumlah angka
pengangguran yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengangguran di masa resesi
ekonomi tahun 1998, yang mencapai 5,04 juta orang. Data-data tersebut
menunjukkan bahwa pengangguran merupakan problematika besar bangsa Indonesia
yang harus segera dicari solusinya.
Perlu diketahui, job
portal berbasis internet terbukti telah berkontribusi besar dalam
mengurangi jumlah tunakarya, dengan menyediakan informasi ribuan loker di situs
daringnya setiap hari. Tentunya, hal ini sangat berfaedah bagi para
pengangguran, terutama bagi mereka yang masih dalam usia produktif. Dengan
referensi loker yang ekstensif di job
portal, mereka akan mendapatkan banyak peluang guna memperbaiki jenjang
karir, sehingga mampu meningkatkan taraf hidup. Atas alasan tersebut, saya
membangun job portal yang khusus
mengakomodir loker di daerah supaya masyarakat di pelosok dapat mengubah kondisi
perekonomian mereka ke arah yang lebih baik dengan pekerjaan yang berkualitas
untuk jenjang karir profesional. Job
portal yang saya bangun sejak 1 September 2018 tersebut bernama Swadaya27.com.
Swadaya27.com saya jalankan masih seorang diri. Harapan ke
depannya, saya punya tim atau partner
yang memiliki satu visi dengan saya untuk mengembangkan job portal lokal ini agar dapat menyediakan loker-loker ke seluruh
penjuru Indonesia. Tidak hanya itu, harapan ke depannya adalah bahwa Swadaya27.com
juga bisa mengakomodir lowongan-lowongan bagi penyandang disabilitas. Di tahun
ke tiganya ini, Swadaya27.com masih terus berbenah baik secara flow process bisnisnya sampai kepada
optimalisasi UI/UX-nya. Swadaya27.com akan terus berprogres karena urgensi
adanya job portal lokal adalah sebuah
keniscayaan. Menurut saya, job portal
lokal seperti Swadaya27.com dan lain sebagainya harus ada di Indonesia agar
angka pengangguran di daerah dapat berkurang.
Pemberdayaan Lokal
Pemberdayaan masyarakat lokal adalah visi besar dari job portal Swadaya27.com. Saya juga
mendedikasikan job portal
Swadaya27.com untuk dapat dimanfaatkan oleh para usaha mikro, kecil, menengah (UMKM)
di daerah dan desa secara gratis, baik itu untuk mempromosikan produk mereka
dan juga dimanfaatkan untuk posting
loker. Harapannya, dengan membantu proses rekrutmen dari UMKM di daerah
tersebut, maka proses bisnis usaha sampai taraf hidup masyarakat lokal juga akan
terus berdaya.
Saya pun berkomitmen untuk mengembangkan usaha berbasis
teknologi informasi ini menjadi sebuah perusahaan level nasional. Tentunya,
saya membutuhkan infrastruktur dan perangkat yang mumpuni agar kegiatan
operasional Swadaya27.com dapat optimal dan tetap terjaga. Sejak situs Swadaya27.com
berdiri sampai sekarang ini, saya setia menggunakan laptop HP yang saya beli
sejak tahun 2018. Saya merasakan sendiri betapa awetnya laptop HP CORE i3 ini untuk menjalankan roda operasional bisnis job portal.
Alasan saya memilih PCmobile workstation HP adalah karena spesifikasinya yang canggih, dengan
harga yang murah. Untuk menjalankan bisnis job
portal, laptop ini sangat mampu dan bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Saya
bersyukur, selama lebih dari tiga tahun memakai laptop HP ini, tidak menjumpai hambatan yang besar. Bahkan sampai
sekarang, laptop HP ini belum pernah direparasi ataupun tidak terlihat
baterainya bocor. Selama saya bertemu dengan client, baik itu presentasi di kantor ataupun on the spot, saya tetap percaya diri karena laptop ini selalu siap
tanpa masalah. Hal yang membuat saya suka tentu saja desainnya yang terbaik,
dengan dominan warna hitam dan gelap elegan. Desainnya terlihat maskulin dan
sangat profesional. Menurut saya, HP adalah juara dari laptop dengan desain terbaik. Terima kasih laptop HP CORE i3,
karena telah menemani Swadaya27.com sampai detik ini!
Kamis, 19 Agustus 2021
Pendidikan Antikorupsi Untuk Pengawas Partisipatif
Beberapa tahun belakangan ini,
Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Republik Indonesia menggelar beberapa
kali program kegiatan yang bernama Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP)
di mana pesertanya direkrut dari beberapa kabupaten/kota. SKPP sendiri
merupakan salah satu program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
yang sejalan dengan kebijakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) guna
membumikan pendidikan politik bagi publik. SKPP sejatinya telah digagas sejak
tahun 2018 dan visi utamanya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang
pengawasan Pemilu. Setiap tahunnya pun, jumlah partisipasi dan antusiasme masyarakat
terhadap program kegiatan ini terus meningkat.
Di tahun 2021 ini, SKPP juga akan
dilangsungkan seperti halnya pada tahun-tahun sebelumnya dengan peserta yang
diseleksi untuk mengakomodir keterwakilan wilayah di seluruh Indonesia, gender,
profesi dan peserta disabilitas. Keberadaan pengawas partisipatif di masyarakat
ini dapat dikatakan sebagai sebuah inovasi yang advance sekaligus breakthrough
bagi Bawaslu. Tentunya kita patut apresiasi adanya sekolah yang akan
memfasilitasi pendidikan bagi masyarakat yang memiliki keinginan untuk menjadi
kader pengawas partisipatif. Di tambah lagi, Bawaslu juga telah mengembangkan
inovasinya ke ranah digitalisasi dengan lahirnya aplikasi ‘Gowaslu’ yang
memudahkan masyarakat untuk melakukan pemantauan dan pelaporan terhadap dugaan
pelanggaran dalam proses Pemilu.
Seperti diketahui bersama, bahwa
mengawal proses Pemilu sama halnya dengan mengokohkan salah satu pilar
demokrasi. Apabila ada masyarakat yang berkeinginan untuk tergerak dalam
pengawasan partisipatif, tentu itu adalah sebuah inisiatif yang mulia.
Keikutsertaan masyarakat dalam pengawasan partisipatif tentu akan berdampak
pada proses Pemilu yang akan menjadi lebih bersih dan antikorupsi. Jika kita
telaah lebih mendalam, keberadaan pengawas partisipatif akan mampu menekan
angka pelanggaran Pemilu di masyarakat. Alhasil kinerja Bawaslu tentu akan
semakin optimal dan terbantu dengan adanya pengawas partisipatif ini.
Hubungan antara pengawasan proses
Pemilu dengan semangat demokrasi sangatlah lekat sekali. Pengawasan terhadap
proses Pemilu artinya mengawal proses bergantinya pemimpin agar dapat berjalan
secara konstitusional dan tidak terciderai. Hal ini dikarenakan, pelanggaran
Pemilu merupakan perilaku koruptif yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan dan sering kita jumpai pada tahun-tahun politik.
Beberapa kategori pelanggaran
pemilu yang seringkali terjadi di masyarakat, di antaranya adalah pelanggaran
administrasi, pelanggaran tindak pidana Pemilu dan pelanggaran kode etik
Pemilu. Dari ketiga kategori tersebut, pengawas partisipatif tentu bisa
berkontribusi dalam mekakukan pengawasan dan memberikan pelaporan apabila
terjadi pelanggaran. Maka dari itu, untuk menghasilkan pengawas partisipatif
yang memiliki integritas tinggi tersebut, perlu adanya pendidikan antikorupsi
bagi peserta SKPP Bawaslu ini.
Pendidikan antikorupsi perlu
menjadi bekal bagi para peserta peserta SKPP karena sangat bermanfaat untuk
membentengi diri dari perilaku koruptif. Membentegi agar diri sendiri tidak
tergoda melakukan pelanggaran atau supaya dapat melakukan surveillance terhadap proses Pemilu di masyarakat. Bentuk meteri
pendidikannya dapat berupa kurikulum yang intinya memperkenalkan kepada
sembilan nilai antikorupsi yang digagas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK). Kesembilan nilai tersebut adalah Jujur,
Peduli, Disiplin, Mandiri, Tanggung Jawab, Kerja Keras, Sederhana, Berani dan
Adil yang tentunya sangat relevan apabila diterapkan dalam aktivitas
pemantauan partisipatif. Apabila kita coba telaah, kesembilan nilai antikorupsi
tersebut masuk ke dalam spirit diri
para kader pengawas partisipatif.
Beberapa saran untuk kurikulum di
SKPP yang relevan terhadap semangat antikorupsi antara lain “Bawaslu dan
Pengawasan Partisipatif”, “Urgensi Pengawasan Partisipatif”, “Implementasi
Nilai Antikorupsi dalam Praktik Pengawasan Partisipatif”, “Praktik dan Masa Depan Pengawasan
Partisipatif”, “Menumbuhkan Budaya Pengawasan Partisipatif”, “Cara Melaporkan
Pelanggaran Pemilu”, “Cara Mencegah Pelanggaran Pemilu” dan “Mengawasi Pemilu:
Mengamankan Diri dan Data dalam Aspek Hukum”. Beberapa saran kurikulum tersebut
setidaknya mampu memberikan pemahaman dari pandangan filosofis yang holistik
sampai ke teknis pengawasan partisipatif di masyarakat. Hasilnya adalah
menguatnya integritas para peserta SKPP setelah mengikuti pendidikan
antikorupsi ini. Harapannya juga, para peserta SKPP juga mempunyai bekal untuk
menjadi penyuluh dan agen antikorupsi di masyarakat.
Terlebih saat ini organisasi
Bawaslu juga sedang menuju predikat Zona Integritas (ZI), di mana lembaganya
memiliki komitmen dalam upaya pencegahan korupsi, reformasi birokrasi dan
peningkatan kualitas pelayanan publik. Dengan adanya bekal pendidikan
antikorupsi bagi para pengawas partisipatif ini, harapan kedepannya Bawaslu
dapat menjadi Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) yang terstandarisasi dari sisi manajemen
perubahan, penataan tatalaksana, penataan sistem manajemen sumber daya manusia
(SDM), penguatan pengawasan dan akuntabilitas kinerja.
Kita tahu bahwa kader SKPP juga
bisa menjadi agen yang dapat ikut mensosialisasikan hukum Pemilu kepada masyarakat,
bahkan kepada peserta Pemilu juga. Sedangkan nilai-nilai pengawasan yang
menjadi inti dari materi SKPP sangat sejalan dengan semangat antikorupsi, agar
jalannya proses Pemilu dapat berjalan langsung, umum, bebas dan rahasia (Luber)
serta jujur dan adil (Jurdil). Ibarat peribahasa ”Sekali mendayung, dua tiga
pulau terlampaui”, maka posisi kader SKPP sangatlah strategis fungsinya guna
membumikan nilai-nilai pengawasan dan antikorupsi. Dengan tegaknya hukum
Pemilu, maka potensi pelanggaran pun dapat diminimalisir.
Mungkin saja di masa depan, “Pusat
Pendidikan Pengawasan Partisipatif” yang telah digagas oleh Bawaslu bisa
berkembang menjadi sebuah pusat studi layaknya Pusat Edukasi Antikorupsi (Anti-Corruption
Learning Center) di KPK. Dengan benchmark
yang ada di KPK, harapannya tempat tersebut nantinya akan berkembang menjadi
“Pusat Edukasi Pengawasan Pemilu” sebagai tempat belajar bagi siswa, mahasiswa
sampai masyarakat umum yang ingin mendapatkan informasi penting tentang
pengawasan partisipatif. Setelah jejaring kader pengawas partisipatif ini
menyebar ke seluruh Indonesia, harapannya “Pusat Edukasi Pengawasan Pemilu”
bisa menjadi prioritas wacana yang perlu dikaji urgensinya di Bawaslu.
Keberadaan pengawas partisipatif
juga dapat menjadi unsur kontrol sosial guna mencegah kejahatan Pemilu, sesuai
dengan social control theory.
Pengawas partisipatif bisa berkesempatan untuk melaporkan dan membuat
rekomendasi atau kajian terkait dugaan pelanggaran Pemilu yang terjadi di
lingkungannya. Tentunya, segala aktivitasnya tetap harus sejalan dengan visi
dan misi Bawaslu. Bila diibaratkan, kurikulum antikorupsi dapat menjadi katalis
bagi materi SKPP yang sudah ada pada tahun-tahun sebelumnya agar lebih berdampak
positif dan maksimal.
Terakhir, menjadi pengawas
partisipatif saat gelaran Pemilu adalah sebuah posisi yang terbilang cukup
rentan. Pengawas partisipatif yang bekerja sesuai dengan aturan akan menjadi
sasaran utama para pelanggar Pemilu. Pelaporan terhadap tindakan pengawas
partisipatif juga kemungkinan bisa terjadi. Layaknya aktivis atau agen
antikorupsi yang seringkali menerima intimidasi di dunia nyata maupun di dunia
maya, misalnya perundungan (bullying), pencemaran data diri (doxing), pencemaran
nama baik (denigration) sampai peretasan (hacking). Maka dari itu perlu adanya
usul kurikulum tentang “Mengawasi Pemilu: Mengamankan Diri dan Data dalam Aspek
Hukum”, di mana fungsinya adalah untuk melindungi para pengawas partisipatif
tidak dikriminalisasi. Apabila dari kawan-kawan kader pengawas partisipatif ada
yang mendapatkan ancaman di dunia maya, bisa langsung melaporkannya ke
id.safenet.or.id atau s.id/laporserangan supaya mendapatkan perlindungan
digital.
Seperti kasus yang cukup
mengemuka pada Pemilu 2014 yang menimpa Ronny Maryanto yang dilaporkan oleh
salah satu tim sukses ke kepolisian karena melaporkan adanya politik uang.
Ibaratnya kasus ini menjadi samacam penyebar ketakutan atau fear of crime bagi masyarakat yang ingin
berkontribusi terhadap pengawasan partisipatif. Jangan sampai pengawasan
masyarakat menjadi simulakra belaka. Maka dari itu, dari Bawaslu ke depannya
perlu membantu perlindungan bagi pelapor dugaan pelanggaran Pemilu agar tidak
dikriminalisasi, termasuk kepada kader pengawas partisipatif. Hal ini dilakukan
supaya pelaksanaan pemilu bisa Jurdil. Salam Awas!
Senin, 26 Juli 2021
Menyelami Adicita Imaji Batik Priangan
Batik adalah buah kebudayaan masyarakat Indonesia yang telah diakui oleh dunia internasional, melalui The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2 Oktober 2009 sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda. Kesenian batik di Indonesia tumbuh sangat subur beserta bermacam-macam falsafah, serta datang dari berbagai daerah di nusantara dengan berbagai jenis coraknya. Setiap jenis batik mempunyai filosofi tertentu yang tertuang ke dalam imaji visualnya yang sangat beragam, di sesuaikan dengan kebudayaan lokal asalnya masing-masing. Setelah diselami lebih dalam ternyata makna historis dan antropologis, batik bukanlah sekedar karya busana, namun juga buah pikir masyarakat yang penuh dengan karakter serta perjuangan manusia di dalamnya.
Memahami batik
berarti memahami tentang manusia. Kita bisa merasakan betapa leluhur kita
memiliki cita rasa yang tinggi dalam aspek berkesenian. Warisan dari leluhur
ini menjadi bukti bahwa aspek estetika selalu lekat dengan kehidupan
sehari-hari masyarakat Indonesia. Bahkan leluhur kita telah berhasil menuangkan
adicita imaji yang ada dalam pikiran serta perasaan kolektif masyarakatnya ke
dalam kain batik yang sarat akan identitas. Sedangkan salah satu jenis karya
batik yang sangat menarik untuk diselami gagasannya adalah Batik Priangan.
Batik Priangan
sungguh mempesona karena mempunyai ragam motif yang sangat kaya dan
berwarna-warni. Sumber inspirasi coraknya pun berasal dari fenomena alam: flora
dan fauna. Berdasarkan buku “The Dancing
Peacock, Colours and Motifs of Priangan Batik” karya Didit Pradito, Herman
Jusuf dan Saftiyaningsih Ken Atik, disebutkan bahwa peristiwa sejarah, kondisi
alam raya dan tata nilai sosial-budaya menjadi sumber inspirasi para pembatik
Priangan. Hal inilah yang membuat identitas Batik Priangan begitu kuat, serta
khalayak umum dapat langsung mengidentifikasi dan mengenal corak khasnya ini.
Berdasarkan sumber
letak geografisnya, Batik Priangan berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat
seperti dari kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya dan
Ciamis. Sampai saat ini, tradisi kriya Batik Priangan masih lestari di
kabupaten-kabupaten tersebut. Hal ini terlihat dari masih hidupnya industri-industri
batik yang telah beroperasi lebih dari setengah abad. Berbagai pusparagam kelir
Batik Priangan yang masyhur di masyarakat antara lain awi ngarambat alias bambu merambat, merak ngibing atau merak menari, laba-laba, burung keladi, gurami
dan daun talas. Jenis corak tersebut termasuk dalam kategori Batik Priangan
Tasikmalaya, di mana ciri khasnya adalah suasana keindahan flora dan fauna di
tanah Priangan.
Ada pula jenis
Batik Priangan Garutan yang lekat dengan corak dasar bernuansa geometrik.
Sedangkan pola yang seringkali didesain adalah corak belah ketupat. Sama halnya
dengan Batik Priangan Tasikmalaya, Batik Priangan Garut sumber inspirasinya juga
berasal dari kondisi lansekap pada masyarakat Garut yang hidup di kontur
bentang alam berlereng-lereng dan sejuk. Alhasil beberapa motif estetiknya yang
prominen antara lain bulu hayam alias
bulu ayam, lereng kangkung, merak ngibing,
lereng dan cupat manggu. Kesemua
varian yang ada merupakan nilai kearifan lokal budaya Sunda dan akan terasa
kian transenden saat sudah terpatri di atas kain.
Sebenarnya masih
banyak lagi varian Batik Priangan yang ada di Jawa Barat berdasarkan khasanah
historiografi. Berdasarkan buku “Batik
Priangan (Sebuah Pengantar)” karya Yan Yan Sunarya, disebutkan bahwa ada beberapa
motif kain batik Jawa Barat itu bahkan kini sudah tidak dikenal lagi, hingga
sulit untuk dirunut kembali keasliannya (Morissan, 2005). Namun kita masih bisa
melihat dokumentasinya pada Museum Tekstil Jakarta, tempat di mana adikarya
kebudayaan seni kriya nusantara tersebut tersimpan. Untuk itu, demi
melestarikan pendokumentasian buah kebudayaan tanah Priangan ini, pemerintah
sangat perlu untuk membangun sebuah “Museum Batik Priangan”. Urgensinya sangat
mendesak, karena menyangkut pelestarian artefak kebudayaan masyarakat yang sangat
perlu untuk diselamatkan demi generasi mendatang.
Maksud dan
tujuan dari pembangunan sebuah gedung “Museum Batik Priangan” adalah antara
lain:
·
Sebagai usaha konservasi dan pelestarian budaya
Batik Priangan agar tidak punah.
·
Sebagai sarana edukasi dan warisan bagi generasi
muda.
·
Pusat informasi bagi publik apabila ingin
belajar tentang Batik Priangan.
·
Sebagai wadah untuk melaksanakan kegiatan
pameran, diskusi dan seminar tentang batik.
Apabila “Museum
Batik Priangan” ini telah berdiri, maka kelestarian keindahan Batik Priangan
akan terus terjaga selamanya. Tak hanya itu, walau sampai kapan pun juga sampai
generasi berikutnya, siapa pun dapat menyelami keindahan adicita imaji Batik
Priangan yang merupakan salah satu buah kebudayaan Sunda. Memahami Batik
Priangan, dengan mengutip dari buku “The
Dancing Peacock, Colours and Motifs of Priangan Batik” berarti kita akan
bisa memahami karakter masyarakarakat Priangan pada umumnya, yang sederhana,
apa adanya, terbuka, komunikatif, pluralis, cantik-molek dan bahkan sedikit
genit. Semoga keindahan Batik Priangan ini akan akan tetap abadi sampai kapan
pun dan dapat dinikmati oleh siapa pun.

