Minggu, 10 September 2023

Variegrow Apresiasi Program Petani Milenial Jabar

Kendal – Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) asal Kabupaten Kendal yang bergerak di sektor agribisnis, bernama Variegrow (PT. Variegrow Inovasi Pertanian) mengapresiasi “Program Petani Milenial” yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar). Program Petani Milenial Pemprov Jabar ini harapannya dapat menginspirasi berbagai provinsi lain di Indonesia agar dapat mengadopsi program ini.

Seperti diketahui, Program Petani Milenial Jabar ini merupakan sebuah program pengembangan wirausaha tani yang melibatkan petani-petani muda di bidang pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan serta korporasi serta para pemangku kepentingan lain agar terciptanya ekosistem pertanian yang mandiri, maju dan berkelanjutan. Tujuan dari Program Petani Milenial adalah pertama, sebagai salah satu upaya pemulihan perekonomian masyarakat di bidang pertanian. Kedua, untuk menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan di bidang usaha pertanian di kalangan generasi muda (milenial).

Ketiga, untuk meningkatkan produksi pangan, hortikultura dan peternakan. Keempat, upaya menanggulangi pengangguran dan penciptaan lapangan kerja. Kelima sebagai salah satu upaya untuk memajukan budidaya pertanian di Jawa Barat.

Saya selaku pengusaha di sektor pertanian tentunya sangat mengapresiasi Program Petani Milenial Jabar yang sudah berjalan selama tiga tahun ini. Harapannya, program ini dapat menginspirasi wilayah lain untuk mengadopsi program serupa. Kita tahu bahwa Indonesia membutuhkan regenerasi petani muda yang inovatif, modern dan mampu menyelesaikan permasalahan pertanian di daerahnya masing-masing ataupun nasional,” kata Direktur PT. Variegrow Inovasi Pertanian (Variegrow), Dani Satria di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (09/09/2023).

Dani berharap, Program Petani Milenial tersebut terus berkelanjutan di masa depan dengan evaluasi serta perbaikan kegiatan yang jauh lebih baik. Menurut Dani, program ini dapat menginspirasi generasi muda agar tertarik untuk terjun ke sektor agribisnis. Selain itu, tentu saja muaranya adalah menurunkan tingkat pengangguran terbuka (TPT).

Program ini dapat menjadi solusi pertanian berkelanjutan,” pungkas Dani.

Program Petani Milenial Jabar 2023 memulai pendaftaran dari tanggal 1 – 30 September 2023. Kriteria pendaftar Program Petani Milenial yaitu berusia minimal 19 (sembilan belas) tahun dan berusia maksimal 39 (tiga puluh Sembilan) tahun, penduduk Jawa Barat dan berdomisili di Jawa Barat, tidak memiliki keterikatan kontrak kerja dan memiliki minat dalam usaha tani (Pertanian, Peternakan, Perkebunan, Perikanan, Kehutanan dan sebagainya). Untuk pendaftarannya dapat dilakukan melalui tautan https://petanimilenial.jabarprov.go.id/

Sabtu, 02 September 2023

Super Kambium Ramaikan Pameran Produk Inovasi Jawa Tengah 2023

Salatiga – Produk inovasi pertanian asal Kabupaten Kendal yang bernama “Super Kambium” turut memeriahkan Pameran Produk Inovasi Jawa Tengah 2023 yang berlokasi di Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga. Pameran yang mengusung tema “Research and Innovation for Better Future” tersebut berlangsung pada 1-3 September 2023 di Auditorium UIN Salatiga. Acara ini juga diikuti oleh seluruh perwakilan Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah serta ditambah dengan stand pameran dari beberapa perusahaan dan Universitas yang ada di Provinsi Jawa Tengah.

Kami tentunya sangat senang sekali dapat berpartisipasi dalam acara ini. Semua inovasi yang dipamerkan dalam acara ini adalah produk-produk unggulan dari masyarakat Jawa Tengah. Dukungan dalam bentuk pameran seperti ini akan membantu produk kami lebih dikenal oleh masyarakat luas,” kata pemilik PT. Variegrow Inovasi Pertanian, Dani Satria, selaku produsen “Super Kambium” di Salatiga, Jawa Tengah, Sabtu (02/09/2023).

Dani berharap, produk Super Kambium penjualannya secara online dan offline dapat meningkat setelah mengikuti acara Pameran Produk Inovasi Jawa Tengah 2023 ini. Selain itu, puluhan produk inovasi yang dipamerkan dalam acara ini harapannya dapat berguna, menjadi solusi dan memberikan kebermanfaatan secara nyata kepada masyarakat luas.

Super Kambium yang merupakan healing paste alami untuk mencegah slime flux disease ini harapannya dapat bermanfaat bagi para penggemar bonsai di Indonesia. Produk ini difokuskan sebagai perawatan bonsai yang bermanfaat bagi bonsai yang baru dilakukan pemangkasan, agar kambiumnya cepat terstimulasi,” imbuh Dani.

Seperti diketahui, dalam Pameran Produk Inovasi Jawa Tengah 2023 ini terdapat 45 stan yang terdiri atas OPD Provinsi, 33 unit dari kabupaten/kota. Kemudian perguruan tinggi dan swasta. Selain itu juga digelar berbagai perlombaan, seperti robotik, kaligrafi digital, mural, foto story inovasi dan ecobrick

Sabtu, 12 Agustus 2023

PT. Variegrow Inovasi Pertanian

 


Variegrow Masuk Ke Dalam Top 100 Usaha Agrobisnis Entredev 2023


Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sektor pertanian asal Kabupaten Kendal, Jawa Tengah yang bernama Variegrow (PT. Variegrow Inovasi Pertanian) berhasil masuk ke dalam Top 100 usaha agrobisnis dalam program Entrepreneur Development (Entredev) 2023 yang digagas oleh Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM). Dari 5000 pendaftar, saat ini tersaring masing-masing 100 pengusaha pada subsektor agrobisnis, kriya serta jasa dan teknologi.

Saya berharap nantinya PT. Variegrow Inovasi Pertanian dapat masuk ke dalam 10 besar usaha agrobisnis di akhir program Enredev 2023 ini. Saya senang sekali, setelah melewati berbagai mentoring selama beberapa bulan, akhirnya PT. Variegrow Inovasi Pertanian dapat sampai ke tahapan luar biasa ini. Ilmu yang saya dapatkan dari Entredev 2023 sangat begitu komprehensif dan aplikatif, yang tentunya sangat bermanfaat bagi perkembangan bisnis pertanian saya ini,” kata founder PT. Variegrow Inovasi Pertanian (Variegrow), Dani Satria di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (12/08/2023).

Dani menambahkan, saat ini Variegrow sedang menjalani tahap intensive coaching melalui pelatihan online dan offline yang lebih padat di setiap minggunya. Bila di tahapan sebelumnya hanya ada dua hari mentoring, di tahapan sekarang ini ada tiga hari mentoring setiap minggunya.

Para mentor dalam program Entredev 2023 ini sungguh sangat luar biasa. Mereka memberikan gambaran tentang bisnis yang sesungguhnya akan dihadapi oleh para pengusaha pemula seperti saya ini. Para narasumber eksternal atau praktisi bisnis yang diajak kolaborasi dengan para coach juga menambah semangat berwirausaha. Saya berharap jejaring ini tidak terputus dan dapat menjadi sarana untuk merekatkan tali silaturahmi antara para pengusaha di Indonesia,” imbuh Dani.

Seperti diketahui, KemenKopUKM menggelar Entredev 2023 ini dalam rangka mengakselerasi pengembangan kewirausahaan nasional dan pencapaian rasio kewirausahaan. Peserta Entredev 2023 ditetapkan berdasarkan hasil assessment. Para peserta mengisi hal-hal terkait eksistensi usaha, bisnis model, laporan laba rugi, rencana strategi bisnis dan kontribusi bisnis pada Sustainable Development Goals (SDGs).

Program ini melibatkan 20 fasilitator yang berperan sebagai value orchestrator untuk mengobservasi, memetakan dan menghubungkan permasalahan ke konsultan maupun ekosistem yang telah terbangun. Adapun tahapan kegiatan Entredev 2023 meliputi pembahasan tematik dan konsultasi onlinegrowth sprint untuk mencapai target pertumbuhan jangka pendek, offline consultation, dan networking untuk membantu akselerasi bisnis wirausaha.

Jumat, 04 Agustus 2023

Sudah Jadi Agenda Rutin, Pelaksanaan Job Fair Perlu Inovasi Agar Serapan Tenaga Kerja Maksimal


Sumber: https://www.suaramerdeka.com/ekonomi/049677962/sudah-jadi-agenda-rutin-pelaksanaan-job-fair-perlu-inovasi-agar-serapan-tenaga-kerja-maksimal


Rabu, 02 Agustus 2023

Senin, 31 Juli 2023

Dilema Vokasional

Saya masih ingat betul banyak sekali momen menarik ketika masih duduk di bangku SMA kelas XII. Mulai dari asmara sampai kegalauan di masa depan. Saat itu, dapat digeneralisir bahwa sebagian besar siswa di kelas XII sedang galau dalam menentukan masa depan mereka. Namun, ada juga yang sudah yakin optimis terhadap apa langkah yang akan mereka tempuh nantinya ketika memasuki fase pasca SMA. Siswa yang berpikiran seperti itu biasanya yang juara kelas, pintar dan kaya.

Ketika memasuki awal tahun 2009 yang saat itu didominasi musim penghujan, banyak sekali kakak senior yang datang ke kelas kami untuk melakukan sosialiasi perguruan tinggi. Baik negeri maupun swasta. Saya sangat senang dengan sesi tersebut tentunya, karena tidak memusingkan dan lebih banyak canda tawa. Pemaparan dari sesi kakak senior tersebut tentu lebih menarik ketimbang materi mata pelajaran—apalagi yang berkaitan dengan ujian nasional, yang tentu sudah membuat jenuh pikiran.

Ada belasan instansi pendidikan yang datang ke kelas kami, di sepanjang satu bulan di awal tahun 2009. Beberapa instansi tersebut memincing riak antusias dari para siswa. Beberapa instansi hanya menimbulkan kesan biasa saja. Beberapa instansi yang cukup popular adalah sekolah kedinasan dan PTN ternama yang berada di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Semua siswa di kelas kami sangat terlihat antusiasmenya. Meskipun respon terhadap para perwakilan dari instansi pendidikan tersebut berbeda-beda, namun secara general terdapat persamaan dari segi pertanyaan yang lontarkan oleh siswa di kelas kami: “Di jurusan ini prospek kerjanya apa?”

Dari segi struktur tata bahasanya, pertanyaan tersebut mengandung tingkat kepenasaranan yang tinggi, pertanyaan tersebut tentunya sangat berbobot, futuris dan logis. Pertanyaan semacam ini umumnya dijawab dengan lancar dan tanpa terbata-bata oleh para pemateri. Prospek kerja mulai dari ASN, BUMN, BUMD dan perusahaan swasta multinasional telah membuai para siswa sekelas. Saya rasa kelas lain juga merasakan hal yang sama. Saat sesi tersebut, kami sudah membayangkan nikmatnya bergelimang harta ketika kerja nanti. Bahkan saya ingat, kawan saya sudah membayangkan menjadi pejabat publik dan pimpinan perusahaan. Tak jarang pula yang sudah berandai-andai, saat reuni nanti di depan kelas kami sudah terpampang mobil sport berharga mahal. Sungguh luar biasa impian anak-anak belasan tahun ini.

Kini saya sudah 14 tahun lulus dari SMA. Saat ini, saya sudah empat tahun menjalani karir sebagai pengusaha. Usaha saya di bidang training, lebih khususnya pelatihan untuk persiapan memasuki dunia kerja yang bernama “Swadaya Mengajar”.  Pelatihan ini menyasar kepada para siswa SMA atau SMK dan mahasiswa. Senang sekali rasanya bisa memberikan pelatihan dan berbagi pengalaman kepada adik-adik tersebut. Beberapa kali saya juga menggratiskan pelatihan karena ingin tahu seperti apa ketertarikan generasi sekarang ini terhadap impian dunia kerja.

Awalnya saya mengira, generasi mereka sudah cukup futuris dengan banyak referensi terkini terkait dengan cita-cita di masa depan. Hal ini saya prediksi karena generasi yang bersekolah SMA atau SMK lima tahun terakhir ini sudah mengenal internet dan dapat menggali informasi tanpa batas, sejak kecil. Dibandingkan generasi saya, saya berharap menemukan pandangan yang berbeda di antara para peserta pelatihan ini. Saya sama sekali tidak membuat pakem terkait impian manusia di muka bumi ini, karena hal ini memang bentuk kebebasan manusia. Hanya saja, saya cukup menyayangkan tidak ada yang sejak sekolah bercita-cita menjadi pengusaha. Minimal pedagang atau penjual lah. Atau mungkin definisi tentang pekerjaan pada alam bawah sadar manusia sangat bertolak belakang dengan istilah pengusaha. Saya kemudian terbawa lamunan mesin waktu ketika belasan tahun lalu duduk di bangku SMA seperti adik-adik ini.

Pertanyaan tentang prospek kerja mulai dari ASN, BUMN, BUMD sampai perusahaan swasta multinasional masih menjadi bahan diskursus para siswa sekelas. Di satu sisi, saya sangat apresiatif terhadap upaya mereka dalam mempersiapkan masa depannya. Di satu sisi saya merasa bahwa— secara generaslisasi pengalaman diri saat pelatihan, referensi karir generasi dalam periode lebih dari sepuluh tahun terakhir masih sama. Lalu, saya bertanya-tanya dalam diri, apakah ranah pekerjaan memang akan terus seperti ini di masa depan? Jika memang orientasinya adalah bekerja di sektor formal seperti yang disebutkan tadi, mengapa tidak semua sekolah diseragamkan menjadi sekolah vokasional atau kedinasan saja? Toh, sekolah vokasional atau kedinasan jauh lebih aplikatif dan bisa cenderung langsung bisa mendapatkan pekerjaan.

Tidak hanya itu. Banyak juga setingkat mahasiswa yang masih bertanya, kelak prospek kerja mereka akan seperti apa. Dilema vokasional inilah yang akan terus menghantui para siswa dan mahasiswa sampai kapanpun. Dilema vokasional seakan tidak lekang dimakan zaman, terus ada dan menjadi diskursus kecemasan abadi. Apakah sekolah akan selalu dikaitkan dengan karir? Ataukah kita yang terlalu mengkerdilkan ilmu pengetahuan, sehingga yang dibutuhkan adalah sertifikat pernah “mencicipi” kurikulum di dalamnya. Memang benar, sekolah memang tidak menjamin apapun untuk sukses. Mungkin inilah jalan terbaik yang akan terus dilalui oleh manusia sampai kapanpun. Mereka akan terus mengalami dilema vokasional dengan harapan memperbesar peluang untuk hidup layak.