Sabtu, 22 Mei 2021

Eating Clean: Gaya Hidup Untuk Kesehatan dan Lingkungan

 

(Sumber Gambar: Tirto.id)

Saat ini, Indonesia tengah dihadapkan dengan permasalahan pelik soal lingkungan yang disebabkan oleh sampah makanan. Dilansir dari infografis Tirto.id di tahun 2020, Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia setelah Arab Saudi, sebagai negara penghasil sampah makanan terbanyak. Data tersebut menyebutkan bahwa rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sampah makanan sebanyak 300 kilogram pertahunnya. Limbah makanan di Indonesia menjadi sebuah ironi, mengingat masih banyak penduduk papa yang masih menderita kelaparan. Untuk itu, kita perlu bertanggung jawab bersama agar perkara sampah pangan ini bisa semakin lenyap di masyarakat.

(Sumber Gambar: Gramedia.com)

Dunia pun kini tengah menyoroti problematika ini, karena imbas negatifnya menyangkut masalah global. Bahkan dalam buku “Homo Deus: a brief history of tomorrow” (2016) karya Yuval Noah Harari yang terkenal itu, disebutkan bahwa surplus santapan yang melewah ruah akan menjadi ancaman penduduk bumi di masa depan. Di masa depan, diprediksi akan lebih banyak insan yang mati karena terlalu banyak mengonsumsi hidangan dibandingkan orang yang kelaparan. Maka dari itu, kita perlu untuk mengubah life style kita agar lebih efisien dan efektif dalam mengonsumsi makanan sehari-hari. Salah satu sepak terjang skala mikro yang bisa dilakukan oleh khalayak di manapun berada adalah dengan menerapkan gaya hidup bebas sampah makanan pada aktivitas keseharian. Atau setidaknya, kita bisa memulai untuk meminimalisir sampah makanan kita sendiri karena efek buruknya bagi keuangan pribadi dan lingkungan yang begitu besar.

(Sumber Gambar: Media Indonesia)

(Sumber Gambar: Mongabay Indonesia)

Kita semua paham, dengan memperbanyak sampah makanan berarti telah terjadi proses yang tidak beres sehingga mengakibatkan ketidakefisienan dalam pemanfaatan keuangan kita. Sampah makanan yang sebenarnya dapat kita olah kembali tersebut pada akhirnya tereliminasi dengan sia-sia, sementara itu masih ada kandungan nilai gizi dan ekonomi di dalamnya. Selain itu, residu kudapan juga berkontribusi secara masif terhadap munculnya gas rumah kaca, yang dapat membuat planet semakin gerah. Dengan mengimplementasikan gaya hidup bebas sampah makanan dari sekarang, harapannya di era anak cucu kita nanti, Indonesia sudah terbebas sampah makanan.

(Sumber Gambar: bandungfoodsmartcity.org)

Kita juga perlu mengapresiasi beberapa inisiatif positif atau gerakan sosial di masyarakat yang perhatian terhadap fenomena ini. Misalnya saja Bandung Food Smart City yang mengampanyekan gaya hidup minim sampah makanan di masyarakat melalui program-program zero food waste-nya. Bandung Food Smart City yang diinisiasi oleh Rikolto Indonesia (VECO), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan (FISIP UNPAR), dan Pemerintah Kota Bandung, ini diharapkan bisa menjadi embrio sekaligus percontohan food smart city bagi kota-kota besar di Indonesia lainnya, agar mereka dapat ikut mengambil peran dalam upaya mengurangi limbah makanan. Dengan moto: “Ambil, Makan dan Habiskan”, Bandung Food Smart City menyerukan visi dan misinya untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya menjaga kelestarian jagat buana ini.

Melalui aksi dan persuasi semacam ini diharapkan sekitar 13 juta ton santapan yang dibuang di Indonesia setiap tahunnya dapat tereduksi. Dampak positif jangka panjang bagi alam pun juga akan terasa, seperti misalnya lahan pertanian akan semakin efektif dalam menyuplai bahan makanan ke masyarakat. Selain itu, saat ini kita juga dihadapkan dengan fenomena terdegradasinya lahan pertanian di Indonesia karena kebutuhan pembangunan perumahan, mall, kawasan industri dan pabrik.

Di samping itu, salah satu gaya hidup yang dapat membantu kampanye dalam meminimalisir sampah makanan adalah dengan menerapkan eating clean. Eating clean sendiri merupakan gaya hidup sehat, sederhana dan murah dengan mengonsumsi makanan yang sehat serta tepat dengan porsi yang cukup. Sehingga penerapan pola ini tidak menyisakan makanan untuk dihambur-hamburkan secara berlebihan lagi. Gaya hidup ini dipopulerkan oleh Inge Tumiwa-Bachrens melalui bukunya yang berjudul “Eating Clean” (2016): 20 Langkah Mudah Membiasakan Makan Sehat. Buku tersebut memaparkan tentang pola makan sehat yang tidak berlebihan, namun kaya akan nutrisi. Falsafah eating clean ini senada dengan semangat yang digagas oleh Bandung Food Smart City yang telah dipaparkan di atas.


(Sumber Gambar: Mojok Store)

Bahwasannya, kita semua perlu memulai pola hidup yang sederhana dan disiplin dalam mengonsumsi makanan seperti eating clean ini. Kita akan dituntun untuk mulai mengendalikan diri serta selektif dalam aktivitas konsumsi, supaya makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak berisiko merusak kesehatan. Gaya hidup eating clean sendiri selain bermanfaat bagi tubuh karena dapat menghalau penyakit-penyakit, juga akan berdampak positif terhadap kebersihan lingkungan. Melalui eating clean ini, kita akan tahu jenis makanan apa saja yang harus dikurangi dan hentikan, bagaimana cara untuk memulai pola makan sehat yang sederhana dan mengapa kita perlu untuk sering makan di rumah.

Eating clean lebih menekankan kepada kita tentang bagaimana cara kita memilih jenis makanan yang sehat untuk dikonsumsi setiap harinya. Dengan semboyan “you are what you eat”, maka setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh haruslah benar-benar menyehatkan, supaya efek ke dalam tubuh dan jiwanya juga positif. Berikut ini beberapa cara supaya kita dapat menerapkan gaya hidup eating clean antara lain:

1.       Makan makanan organik

2.       Minum dua liter air per hari

3.       Perbanyak protein tanpa lemak, buah, sayuran dan sedikit karbohidrat

4.       Sesuaikan porsi makan dengan aktivitas fisik

Jadi, mulai saat ini mari kita kurangi kebiasaan menimbun sampah makanan. Kita sudah tahu, selain bermasalah bagi keuangan kita, limbah makanan juga menyebabkan masalah iklim. Limbah makanan yang terbukang akan menciptakan gas metana yang jauh lebih berbahaya daripada karbon dioksida. Dengan gaya hidup eating clean, kita bisa tetap makan enak, hemat dan ikut berkontribusi dalam menyelamatkan bumi.

Save Food!

Save Money!

Save the Planet!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar