Senin, 01 Mei 2023

Pengertian Bradford Hill Criteria

Kriteria Bradford Hill mencakup sembilan sudut pandang (pertimbangan) yang digunakan untuk mengevaluasi bukti epidemiologi manusia untuk menentukan apakah penyebab dapat disimpulkan melalui: kekuatan, konsistensi, spesifisitas, temporalitas, gradien biologis, masuk akal, koherensi, eksperimen, dan analogi.

1.       Strength of Association

Besar angka yang menunjukkan seberapa kuat hubungan paparan dan kejadian penyakit. Semakin besar angka, menunjukkan semakin kuat hubungan dan menyatakan bahwa hubungan tersebut bersifat kausalitas.

Ukuran untuk menilai hubungan paparan dan penyakit berupa Resiko Relatif (RR) atau Rasio Odds (OR). Kriteria kekuatan asosiasi bersifat mutlak untuk menunjukkan suatu penelitian bersifat kausalitas.

Kata kuncinya adalah: “Semakin kuat hubungannya, semakin mungkin sebab akibat”

Contoh: Dalam kasus perilaku merokok dengan munculnya penyakit jantung koroner. Berdasarkan kriteria ini, maka hubungan antara perilaku merokok dengan munculnya penyakit jantung koroner adalah kuat.

2.       Biologic Credibility (Biologic Plausibility)

Melalui biologi, dapat dijelaskan runtutan kejadian suatu penyakit (tidak bertentangan dengan ilmu biologi). Kriteria ini juga bersifat mutlak untuk menunjukkan penelitian memiliki hubungan kausalitas.

Kata kuncinya adalah: “Sebab akibat dapat dijelaskan mekanismenya”

Contoh: Pada contoh, penyakit kanker paru. Penyakit ini diawali dengan masuknya asap rokok yang memiliki kadar nikotin ke dalam ke paru-paru penderita. Nikotin yang masuk menyebabkan rusaknya epitel. Maka epitel akan melakukan regerasi secara terus menerus. Kejadian yang terjadi secara terus menerus menyebabkan sel epitel lepas kontrol dan terjadilah kanker paru.

3.       Consistency

Konsistensi hasil penelitian walaupun penelitian serupa dilaksanakan pada waktu dan tempat yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bersifat kausalitas. Kriteria konsistensi bersifat mutlak untuk menunjukkan suatu pennelitian bersifat kausalitas.

Kata kuncinya adalah: “Hubungan dibuktikan oleh beberapa penelitian”

Contoh: Penelitian mengenai kelompok perokok dan tidak merokok yang dilakukan di Surabaya tahun 2015 menunjukkan bahwa nilai Resiko Relatif (RR) sebesar 4. Pada tahun 2017 dilakukan penelitian sejenis yang menunjukkan nilai Resiko Relatif (RR) sebesar 5. Disimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa merokok merupakan faktor risiko terjadinya kanker paru. Meskipun nilai resiko relatifnya berbeda.

4.       Temporality (Time Sequence)

Untuk mengetahui sebuah faktor merupakan kausa penyakit, maka harus dipastikan bahwa paparan terhadap faktor itu berlangsung sebelum terjadinya penyakit.

Kelemahan yang terjadi dari kriteria ini ialah sulit dipastikan untuk penyakit yang memiliki periode laten panjang atau onset klinis samar-samar, serta masing-masing desain riset epidemiologi mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memastikan sekuans temporal kausalitas.

Kata kuncinya adalah: “Penyebab mendahului akibat”

Contoh: Penyakit kanker paru-paru didahului dengan seseorang yang merokok selama 5 tahun. Jadi perilaku merokok merupakan faktor risiko terjadinya kanker paru-paru.

5.       Dose-Response Relationship

Paparan yang semakin kuat menyebabkan seseorang dalam waktu singkat dapat menderita penyakit tersebut lebih cepat. Kriteria ini bersifat mulak untuk menunjukkan suatu penelitian bersifat kausalitas.

Kata kuncinya adalah: “Semakin besar paparan, semakin besar juga akibat”

Contoh: Si A merokok setiap hari sebanyak 2 batang dan setelah 5 tahun mengidap kanker paru. Si B merokok setiap hari sebanyak 5 batang dan setelah 2 tahun mengidap kanker paru. Ini menunjukkan bahwa si B terpapar asap rokok lebih banyak dibandingkan si A. Sehingga si B lebih cepat menderita penyakit kanker paru-paru.

6.       Specificity

Faktor kausal menghasilkan hanya sebuah penyakit dan bahwa penyakit itu dihasilkan dari hanya sebuah kausa tunggal. Makin spesifik efek paparan, makin kuat hubungan kausal.

Kata kuncinya adalah: “Suatu penyebab A mengakibatkan B. B hanya diakibatkan oleh A.”

Contoh: Pada kanker paru, merokok diprediksi sebagai penyebab kanker paru-paru.

7.       Coherence

Berbagai bukti yang tersedia tentang riwayat alamiah, biologi dan epidemiologi penyakit harus koheren satu sama lain sehingga membentuk pemahaman yang serupa.

Kata kuncinya adalah: “Hubungan sesuai dengan pengamatan empirik”

Contoh: Kesimpulan merokok dapat menyebabkan kanker paru-paru adalah berdasarkan proses perjalanan penyakit (teori biologi) dan hasil penelitian epidemiologi.

8.       Experimental Evidence

Bantuan kekuatan hubungan kausalitas dapat diperoleh dengan medical recordtrial, intervensi dan studi pada hewan. Eksperimen terandoisasi dengan double blinding (pembutaan pada subyek penelitian dan pemberian perlakuan agar tidak mengetahui status perlakuan) memberikan bukti kuat hubungan kausal.

Kata kuncinya adalah: “Sebab akibat dibuktikan lewat uji coba”

Contoh: Uji coba paparan asap rokok terhadap tikus putih berakibat pada kemunculan kanker paru-paru.

9.       Analogy

Dapat dianalogikan (disamakan) dengan penelitian sejenis. Namun tidak semua situasi dapat menggunakan kriteria analogi sebagai pendukung hubungan kasual.

Kata kuncinya adalah: “Sebab akibat dapat dijelaskan dengan pengandaian kasus lain”

Contoh:

Pemberian tar pada percobaan lab dengan menggunakan tikus menunjukkan adanya hubunga kausal (sebab akibat) namun demikian hal itu tidak dapat diujicobakan pada manusia secara langsung.

Dari kesembilan viewpoints tersebut ada kriteria yang banyak tidak diterima oleh ilmuwan, yaitu pada kriteria spesifik. Padahal yang dimaksud oleh Hills, jika kriteria spesifik terpenuhi, maka sebab akibat akan semakin mungkin.

 

  1. Hasil Analisa mengenai Bradford Hill Criteria atau kriteria penyebab (sering disebut "kriteria") yang membantu untuk memandu penilaian tentang kausalitas, adalah bahwa konsep ini sangat tepat untuk mengetahui faktor yang menjadi penyebab suatu penyakit. Beberapa faktor merupakan faktor esensial untuk terjadinya suatu penyakit dan faktor-faktor lainnya hanya berperan dalam meningkatkan resiko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar